Empty Space

3.1K 288 99
                                        

Song recommendation
Beast - On Rainy Days




Awalnya terasa menggebu. Hati terus berdebar kencang hanya dengan membayangkan hasil yang diimpikan. Ibaratnya seperti ketika kau sangat menginginkan sebuah barang maka kau akan berusaha menahan diri untuk menyisihkan sebagian uang untuk membelinya. Sayangnya, soal perasaan tak semudah itu untuk mendapatkannya. Kau harus berlari kencang, menabrak bebatuan, atau terhalang tembok tinggi untuk mendapatkan hati pujaan. Segalanya akan dilakukan, namun ketika sudah mendapatkannya bisakah kau mempertahankan debaran yang sebelumnya dirasakan?

"Aku tak bisa akhir pekan ini."

Suara helaan nafas terdengar dari balik sambungan telepon. Hanya seperti itu tanpa ada sebuah ucapan yang menyertainya sehingga membuat seorang lelaki yang tengah duduk di sofa apartemennya kembali bicara.

"Aku harus ke luar kota lagi," ucap lelaki itu mencoba memberikan pengertian pada kekasihnya.

"Kita sudah sebulan tidak menghabiskan waktu bersama," keluh suara di sebrang sana.

"Aku akan mengunjungimu setelah pulang dari luar kota."

"Kapan?"

"Hanya dua hari aku disana."

"Kau yakin akan datang mengunjungiku?"

Sesaat hening namun kemudian terdengar deheman dari si lelaki yang masih betah duduk di sofanya.

"Baiklah jika begitu, aku tunggu."

"Ya, tidurlah ini sudah malam."

"Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu?"

"Apa?"

"Katakan selamat malam padaku."

"Selamat malam, Felix."

"Hanya itu?" Tanya Felix di sebrang sana membuat si lelaki urung memutus sambungan telepon mereka.

"Apa lagi?"

"Bukan apa-apa, aku akan menutup teleponnya," ucap Felix dengan nada kesal sebelum kemudian memutus sambungan telepon.

Changbin menatap layar ponselnya yang menunjukkan fotonya bersama sang kekasih kemudian lelaki itu menghela nafas pelan sembari memejamkan matanya.

"Ke luar kota katanya," ucap seseorang yang sedari tadi duduk di karpet apartemen Changbin dengan sebuah konsol game di genggaman tangannya.

"Mau sampai kapan kau membohonginya? Bahkan kau tidak memiliki janji apapun akhir pekan ini," lanjut pemuda bernama Chan yang merupakan sahabat sekaligus sekretaris Changbin di perusahaan.

"Aku hanya tidak ingin terjebak dengan suasana canggung di antara kami berdua."

"Lebih tepatnya kau yang merasa canggung dan dia tidak."

"Dia terus saja marah-marah tiap kali kami bertemu," ucap Changbin mulai mengeluh soal hubungannya.

"Wajar dia melakukannya, jika aku memiliki kekasih yang acuh seperti dirimu juga aku akan melakukan hal yang sama."

"Sebenarnya kau itu sahabatku atau sahabatnya?"

"Aku hanya mencoba objektif."

"Sudahlah, setidaknya aku tidak harus bertemu dengannya akhir pekan ini," ucap Changbin sembari menyandarkan punggungnya dengan nyaman di sofa.

Three Words 5 [ChangLix]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang