Married by Accident VI

2.2K 233 69
                                        


"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Changbin menghela nafas mendengar pertanyaan dari kakak Felix. Wanita itu masih disana meski Felix telah dibawa pergi oleh bundanya dan mama Changbin. Ia tidak mungkin membiarkan Changbin berduaan dengan Elle di apartemen kan?

"Aku akan menyusul Felix secepatnya."

"Bagaimana dengan gadis itu?" Tanya Jane sembari menunjuk Elle yang berbaring di sofa.

"Aku akan mengantarnya pulang," jawab Changbin membuat Jane mendengus pelan.

"Kau memang pemuda yang baik, tapi kau harus paham bahwa kau tidak bisa melakukan segala hal dalam satu waktu. Ada hal yang bernama prioritas, kau harus bisa menempatkan dengan tepat atau hal semacam ini bisa terjadi lagi," ucap Jane membuat Changbin terdiam.

"Aku tau niatmu baik untuk menolong mantan kekasihmu, tapi kebaikanmu belum tentu dianggap sebagai kebaikan seorang teman oleh gadis itu. Kau tidak akan pernah tau apa yang seorang wanita pikirkan, bisa saja dia masih menyimpan harapan padamu, atau lebih parahnya dia sedang merencanakan sesuatu untuk bisa mendapatkanmu lagi."

"Aku rasa Elle tidak akan melakukan hal semacam itu."

"Sudah aku bilang kau tidak akan pernah tau apa yang seorang wanita pikirkan, terlebih ketika dia sedang patah hati. Apa yang tidak pernah dia lakukan, bisa saja dia nekat melakukannya jika kau masih tetap baik padanya. Jangan memberinya harapan, Changbin."

"Aku sudah berjanji untuk menjadi temannya," ucap Changbin membuat Jane memutar bola matanya.

"Kau dan Felix juga hanya teman, tapi lihat apa yang sudah kalian lakukan. Aku hanya memperingatkan agar kau lebih hati-hati, lagipula apa yang berhubungan denganmu juga akan berdampak pada Felix, jadi aku tidak ingin adikku kenapa-kenapa," ucap Jane dengan tegas.

"Satu lagi, kau harus tegas meninggalkan gadis itu atau aku akan menjadi orang yang paling menentang hubunganmu dengan Felix. Aku tidak mau melihat adikku tersakiti."

Jane berdiri kemudian wanita itu merapikan dressnya sembari menatap ke arah Elle yang terlihat belum juga sadar.

"Berikan aku alamat gadis itu, biar aku yang mengantarnya pulang. Kau pergilah menyusul Felix, anak itu pasti akan berulah jika kau tidak segera menjemputnya."












Felix berbaring dengan wajah tertekuk. Sedari tadi ia hanya bisa membolak-balik posisinya karena tak kunjung bisa tidur. Beberapa hari terakhir Changbin selalu memeluk dan mengusap punggungnya, tapi sekarang ia harus tidur sendirian tanpa ada pemuda itu. Sungguh, rasanya Felix sudah ketergantungan dengan pelukan Changbin.

Waktu masih menunjukkan pukul 10 malam dan dua ibu-ibu yang tadi menyeretnya pergi masih mengobrol seru di ruang tengah apartemen sewaan mereka. Felix sendiri sudah masuk ke kamar sedari tadi karena tidak ingin mendengar wejangan panjang yang tak ada habisnya.

Suara bel terdengar dan Felix hanya mengabaikannya karena ia pikir kakaknya sudah pulang, namun beberapa saat kemudian sayup-sayup ia bisa mendengar suara laki-laki yang sangat ia kenal. Diam-diam Felix mengintip dari balik pintu dan ketika ia melihat Changbin datang, ia pun segera keluar kamar dan berlari mendekati pemuda itu.

"Aku pulang ya bunda," ucap Felix dengan semangat sembari berkedip memohon pada bundanya. Pasalnya wanita itu sudah menjanjikan jika Felix boleh pulang ketika Changbin menjemputnya. Sekarang sudah boleh kan?

Bunda Felix menghela nafasnya kemudian wanita itu mengangguk dengan terpaksa. Mama Changbin pun tak bisa protes karena mereka sudah berjanji pada Felix.

"Ma, tante, aku ingin bicara sebentar," ucap Changbin membuat ketiga orang lainnya menatap penasaran.

Dua pasang ibu dan anak itu kini duduk di ruang tengah. Changbin menatap serius ke arah dua wanita di depannya kemudian pemuda itu mulai mengucapkan niatnya.

Three Words 5 [ChangLix]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang