Kanigara: The End

1.2K 227 78
                                        

Hidup tak bisa selalu berjalan lurus. Ada kalanya seseorang akan menghadapi jalan bercabang ataupun jalan bebatuan. Hidup memiliki dinamikanya sendiri dan mulus terjalnya kehidupan tak bisa dipukul rata. Semua orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menerima ujian, namun segala yang berhubungan dengan nyawa tentu merupakan ujian yang berat bukan?

"Changbin bangun!"

Jisung menggoyang bahu Changbin dengan panik. Jam menunjukkan pukul 11 lewat dan Changbin tengah menikmati tidurnya berbalut selimut hangat. Pemuda itu sedikit menggeliat sebelum kemudian membuka mata dengan berat.

"Changbin cepat bangun!" Ucap Jisung yang kali menarik kuat tangan Changbin hingga pemuda itu tertarik ke samping.

"Ada apa?" Tanya Changbin sembari duduk dan mengusap matanya yang mengantuk.

"Aku minta maaf atas segala kecerobohanku. Tidak seharusnya aku mengatakannya pada teman-teman," ucap Jisung membuat Changbin mengerutkan keningnya bingung.

"Apa yang sedang kau bicarakan?"

"Felix, tolong selamatkan dia."

Changbin makin tak mengerti. Ada apa dengan Felix? Kenapa Jisung panik seperti itu? Bukankah mereka tak dekat?

"Apa maksudmu?"

"Aku telah melakukan kesalahan dengan memberitau teman-teman soal siapa Kanigara sebenarnya. Aku.. Ceritanya panjang, sekarang cepat bangun dan pergi ke rumah Felix secepatnya."

Changbin masih tak paham dengan apa yang Jisung katakan, namun satu hal yang ia tangkap adalah seseorang dalam bahaya. Bukan, mungkin bukan seseorang, tapi banyak orang. Ia tau Kanigara memiliki kekuatan yang tak bisa dilawan dengan mudah. Ini darurat.











"Kita mau kemana?" Tanya Changbin ketika Jisung menariknya melewati jalanan yang sempit dan gelap.

"Jalan pintas menuju rumah Felix, dulu saat kecil aku sering melewatinya."

"Kenapa lewat sini?"

Jisung menghela nafas kemudian pemuda itu semakin cepat menarik tangan Changbin.

"Di jalan utama ada banyak warga, mereka akan curiga jika kita lewat dengan terburu-buru."

Makin jauh melangkah perasaan Changbin makin tak enak. Pemuda itu berlari makin cepat dan Jisung turut mengimbangi di belakangnya. Sepasang sepupu itu berkeringat meski cuaca malam itu terasa dingin menyentuh kulit.

Beberapa menit kemudian keduanya berhenti di depan sebuah pintu kayu yang tertutup rapat. Jisung mengetuk pelan, mencoba tak mengagetkan seseorang di dalam sana. Changbin tak sabar, pemuda itu maju dan mengetuk pintu dengan lumayan kuat.

"Felix, ini Changbin."

Beberapa saat kemudian suara kunci dibuka terdengar. Ibu Felix muncul dengan pandangan bingung menatap sepasang sepupu itu ada disana.

"Bu, Felix ada?" Tanya Changbin sebelum ibu Felix sempat angkat bicara.

"Ada, ayo masuk dulu."

Changbin masuk lebih dulu diikuti Jisung setelahnya. Ibu Felix kembali mengunci pintu kemudian mempersilahkan dua pemuda itu masuk ke kamar Felix. Tak sengaja mereka berpapasan dengan Minho yang keluar dari kamar mandi. Mereka bertatapan sebelum kemudian Jisung angkat suara.

"Maafkan aku," ucap Jisung membuat ketiga orang disana fokus menatapnya.

"Kau memberitau mereka?" Tanya Minho membuat Changbin dan ibu Felix bingung karena mereka tak mengerti maksudnya.

"Aku hanya.. Maaf, ini memang salahku. Aku menyesal sudah melakukannya."

Jisung menunduk sembari memainkan bajunya. Ia benar-benar sudah melakukan hal yang fatal dan ia tau bahwa Minho marah padanya.

Three Words 5 [ChangLix]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang