Married by Accident IV

2.4K 260 72
                                        


Bandara sore itu begitu ramai orang. Semuanya berlalu-lalang mengurus urusannya masing-masing, termasuk Changbin dan Felix yang sudah bersama koper besar mereka untuk pulang kembali ke Australia. Lupakan sejenak soal pernikahan, baik orangtua Changbin maupun Felix sepakat untuk tidak memperbolehkan mereka menikah sebelum Changbin mengakhiri hubungan dengan kekasihnya. Mereka juga menginginkan Changbin menjadi laki-laki bertanggungjawab yang mengakhiri hubungan secara baik-baik melalui tatap muka, bukan hanya melalui pesan ataupun panggilan suara. Itulah kenapa pada akhirnya Changbin dan Felix harus kembali ke Australia sebelum tanggal yang ditentukan.

"Jangan lupa minum vitamin dan rutin makan, jika ada keluhan apapun segera pergi ke dokter," ucap bunda Felix ketika mengantar anaknya ke bandara.

"Iya bunda."

"Changbin tolong jaga Felix ya? Jika dia agak rewel tolong dimaklumi, biasanya kehamilan awal memang cukup melelahkan untuk ayah dari bayi," ucap bunda Felix yang diangguki oleh Changbin. Iya, sekarang Felix tanggungjawabnya kan?

"Jangan macam-macam, mama akan mengawasi dari sini," ucap mama Changbin dengan tatapan serius yang membuat Changbin merinding.

"Iya ma, tau."

"Felix baik-baik disana ya, jika Changbin nakal jambak saja rambutnya, tante memberi izin kok," ucap mama Changbin dengan lembut sembari mengusap pundak Felix.

Changbin memutar bola matanya, mamanya baik sekali pada Felix tapi padanya terlihat seperti singa yang ingin memburu targetnya. Jadi begini ya rasanya diasingkan karena menghamili anak orang?










Australia terasa cukup dingin saat itu dan Felix yang hanya memakai kaos lengan panjang masih merasakan dingin di tubuhnya. Changbin sebagai calon suami yang baik tentu saja berbaik hati memberikan jaketnya untuk Felix pakai. Keren kan dia? Sudah cocok jadi suami yang tampan dan bertanggungjawab kan?

"Eh? Elle?" Ucap Felix ketika mereka keluar dari pintu kedatangan luar negeri.

Changbin menatap ke arah orang-orang yang sedang menunggu kedatangan kenalan mereka dan disana ada seorang wanita cantik dengan rambut pirang sebahunya. Elle tersenyum lebar sembari melambaikan tangannya sedangkan Changbin melirik ke arah Felix yang terkesan acuh dan tidak mau ikut campur. Benar, ini urusan Changbin.

"Felix."

"Aku tunggu di cafetaria," ucap Felix yang kemudian berjalan menjauh dengan membawa kopernya.

Changbin buru-buru menahan lengan Felix dan pemuda itu menyempatkan diri tersenyum canggung ke arah Elle yang terlihat sangat bersemangat menunggunya.

"Kau tidak mau membantuku?"

"Tidak mau ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Tidak mau disebut perebut pacar orang juga," ucap Felix yang kemudian bergidik ngeri membayangkan dirinya dicap sebagai pelakor alias perebut laki orang. Duh, ia sama sekali tidak memiliki intensi semacam itu. Kan yang memaksa mereka menikah adalah orangtua mereka bukan dirinya.

"Aku harus menggunakan alasan apa?" Tanya Changbin masih tak membiarkan Felix pergi.

"Pakai saja saranku tadi."

"Tidak meyakinkan ah."

Felix ingin kabur secepatnya ketika Elle masih terus menatap ke arah mereka tapi Changbin yang tidak tau diri juga masih saja terus menahannya. Felix tidak enak hati, meskipun dirinya tidak memiliki niat merebut Changbin, tetap saja kejadian ini sebagian adalah salahnya yang masih melanjutkan hubungan mutualisme dengan pemuda itu.

"Terserah kakak mau mengatakan apa. Aku mual," ucap Felix yang tiba-tiba merasa perutnya tak enak.

Changbin panik, ia ada di situasi dimana dirinya harus memutuskan untuk mengantar Felix ke toilet atau menyelesaikan urusannya dengan Elle terlebih dahulu.

Three Words 5 [ChangLix]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang