Here With You II

1.1K 195 82
                                        

Meski tinggal di desa, Changbin dan Felix tetaplah remaja pada umumnya yang suka dengan hal-hal baru dan menantang. Mereka tetaplah remaja yang memiliki keingin tahuan untuk menjajal sesuatu yang mereka lihat di dunia maya. Entah itu soal tren busana maupun percintaan bebas yang dipamerkan di sosial media.

Hubungan dua anak remaja itu berawal dari sebuah rasa asing yang tiba-tiba merambati hati mereka ketika keduanya saling berdekatan. Awalnya mereka hanyalah teman biasa, namun ketika keduanya memasuki masa pubertas, ada suatu perasaan menggelitik ketika mata saling menatap atau ketika kulit mereka saling bersentuhan.

Awalnya mereka mengabaikan perasaan itu, namun lambat laun hal tersebut semakin mengganggu hingga masing-masing dari mereka mulai mencari tau apa yang terjadi melalui internet. Homoseksual, itu adalah satu hal yang membuat mereka penasaran dan semakin membaca banyak hal yang berkaitan dengan orientasi seksual. Setelah mencoba memahami perasaan asing yang dirasakan, akhirnya mereka menemukan ketertarikan yang sebelumnya tak mereka ketahui. Sebuah ketertarikan yang masih belum bisa diterima di desa kecil yang masih tradisional. Percintaan dua laki-laki.

Changbin membuka mata ketika ayam berkokok bersahutan. Aroma masakan dari arah dapur rumah Felix pun membuatnya tak mau menutup mata lebih lama lagi. Pemuda itu mengucek matanya kemudian ia baru menyadari bahwa Felix sudah tak ada di dalam pelukannya.

"Ibu, ini sudah matang belum?"

Teriakan dari arah dapur membuat Changbin segera bangun kemudian kakinya melangkah keluar kamar untuk pergi menuju sumber suara. Memasuki pintu dapur, Changbin dapat melihat Felix tengah duduk di depan tungku dengan tangannya yang memegang spatula. Sesekali pemuda manis itu berjengit mundur ketika minyak panas terciprat ke arahnya.

"Ibu!" Teriak Felix semakin heboh ketika ikan yang digorengnya makin brutal menyemburkan minyak panas. Mirip gunung berapi yang meletus.

"Kalau sudah kecokelatan angkat saja!" Sahut ibu Felix dari arah halaman belakang.

"Ikannya mengamuk!"

Felix makin heboh membuat Changbin berinisiatif mengambil alih spatula di tangan Felix untuk membantu pemuda manis itu mengangkat ikan dari wajan.

"Eh? Sudah bangun?" Tanya Felix sambil memundurkan tubuhnya ketika Changbin memasukkan ikan yang masih mentah ke dalam wajan.

"Teriakanmu sudah mirip alarm kebakaran, mana mungkin aku tidak bangun," ucap Changbin dengan usil membuat Felix merengut.

"Sakit," ucap Felix sembari menunjukkan tangannya yang diolesi pasta gigi ke arah Changbin.

"Kena cipratan minyak?" Tanya Changbin yang dijawab dengan anggukan manja dari si pemuda manis.

Tanpa banyak bicara, Changbin meraih tangan Felix kemudian meniupi punggung tangan pemuda manis itu untuk membantu mengurangi rasa panasnya. Felix dengan senang hati menatap Changbin yang perhatian padanya. Ini adalah satu dari banyak hal yang Felix suka dari um.. Kekasihnya? Ah benar, sebenarnya mereka berdua tak pernah secara resmi menyatakan hubungan sebagai sepasang kekasih, cukup dengan mereka mengetahui perasaan satu sama lain saja sudah bisa mendefinisikan hubungan yang lebih dari sekedar sahabat di antara keduanya.

"Duduk sini biar hangat," ucap Changbin sembari mengangkat kursi ke dekatnya agar Felix bisa merasa hangat namun tidak akan terkena cipratan minyak karena terlindungi tubuhnya.

Felix tersenyum senang kemudian pemuda manis itu duduk dengan tangannya yang menggenggam erat tangan Changbin. Rasanya menyenangkan dan juga mendebarkan, semoga saja ibunya tidak kembali secepatnya dari kebun belakang agar ia bisa makin lama berduaan dengan Changbin.

Felix sudah memiliki rencana untuk masa depannya. Ketika ia lulus SMA nanti, ia ingin keluar dari desanya untuk menuntut ilmu di kota, sama seperti kakaknya yang kini sudah lulus kuliah dan bekerja disana. Felix bukannya merencanakan tanpa berpikir. Pemuda manis itu seringkali menonton vlog beberapa beauty influencer dan dari sana ia bisa melihat sisi lain dari dunia. Sebuah lingkungan yang jauh berbeda dari kehidupannya di desa. Di dalam vlog tersebut orang-orang terlihat bebas mengekspresikan diri, entah dari segi pakaian, riasan, maupun orientasi seksual. Felix juga ingin hidup bebas bersama pilihannya tanpa dipandang aneh oleh lingkungan sekitarnya. Menurutnya keinginan tersebut hanya bisa ia dapatkan ketika ia pindah ke kota.

Three Words 5 [ChangLix]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang