Paws, I Love You

2.7K 280 138
                                        


Changbin pulang ke rumah lewat tengah malam setelah pesta minum bersama beberapa rekan kerjanya. Lelaki berusia 27 tahun itu berjalan dengan agak sempoyongan memasuki gerbang rumahnya. Sebundel kunci ia keluarkan dari dalam tasnya dan lelaki itu berusaha membuka pintu dengan sisa kesadaran yang ia punya.

Matanya terlihat sayu, pandangannya pun agak kabur membuatnya harus berjalan sembari meraba barang-barang di dekatnya. Setelah bergelut dengan kunci rumah yang lumayan sulit untuk dibuka, akhirnya Changbin berhasil masuk ke rumahnya. Kakinya melangkah namun kemudian lelaki itu terjerembab ke lantai lantaran tersandung sesuatu.

Changbin menyipitkan mata berusaha memfokuskan pandangannya kemudian lelaki itu mengucek matanya ketika ia tak kunjung bisa melihat dengan jelas. Ia berjongkok kemudian meraba sebuah gulungan putih di keset depan pintu utama rumahnya.

"Huh? Ini apa?" Gumam Changbin dengan tak jelas ketika merasakan sesuatu yang empuk dari gulungan tersebut.

Dengan setengah sadar Changbin menggoyangkan gulungan putih tersebut kemudian lelaki itu mengangkatnya hingga ia memekik ketika gulungan tersebut tiba-tiba menggigitnya.

"Meow!"

"Oh? Babi? Hihihi," gumam Changbin sembari tersenyum bodoh ke arah seekor kucing yang terbangun akibat ulahnya.

"Meow."

Kucing putih itu mengeong, mendekati Changbin sembari menduselkan bulu halusnya karena merasa lapar. Changbin yang dalam keadaan mabuk tentu saja tak paham maksudnya, membedakan kucing dan babi saja ia tidak bisa.

"Syuh syuh disini bukan peternakan babi!" Usir Changbin sembari menyingkirkan si kucing yang masih betah mendusel kakinya.

"Meow."

Kucing putih itu mendongak dengan mata bulat yang lucu sembari terus mengeong meminta perhatian dari Changbin. Lelaki itu menggaruk kepalanya kemudian ia celingukan sebelum kemudian menggendong kucing putih itu masuk ke rumahnya.

"Apa babi makan sereal?" Gumam Changbin sembari menggendong kucing itu ke dapur rumahnya.

"Hei babi, apa kau bisa makan sereal?" Tanya Changbin pada si kucing yang hanya bisa mengeong.

Memang dasarnya sedang mabuk jadi Changbin mengambil sebuah mangkok kecil dan menuangkan sereal beserta susu ke dalamnya sebelum kemudian ia berikan pada si kucing yang kini dengan nyaman bertengger di atas meja makan.

"Makan yang banyak ya babi, kakak tampan mandi dulu," ucap Changbin sebelum masuk ke kamar mandi.

Begitulah kehidupan seorang pekerja kantoran yang membosankan. Kerja, kerja, kerja, dan di akhir pekan diisi dengan minum-minum bersama beberapa rekan untuk menghilangkan rasa suntuk setelah sepekan menjadi budak korporat.

Changbin mandi dengan kilat, kemudian hanya dengan mengenakan handuk yang melilit bagian bawahnya lelaki itu masuk ke kamar dan tertidur di pinggir ranjang dengan posisi yang tak nyaman. Mari biarkan Changbin mengistirahatkan badan.










Changbin bangun ketika matahari berada tepat di atas kepala manusia. Hari Sabtu terasa menyenangkan karena ia bisa tidur sepuasnya tanpa memikirkan pekerjaannya. Lelaki itu meregangkan tubuh di atas ranjangnya dan dengan mata yang masih tertutup tangannya bergerak menggaruk perutnya yang masih bertelanjang dada.

"Hoaamm tidur memang nikmat," ucap Changbin sembari melebarkan tangannya untuk merilekskan badan.

Changbin merasa aneh ketika tangannya menyentuh sesuatu yang hangat di sampingnya. Tangannya meraba dan keningnya berkerut bingung sebelum kemudian ia membuka mata untuk melihat apa yang ada di sampingnya.

Three Words 5 [ChangLix]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang