Kanigara: First Sight

1.8K 222 43
                                        


Di sebuah desa kecil yang terletak di antara gunung dan laut ada legenda yang melekat kuat pada masyarakatnya. Sebuah legenda yang mengatakan bahwa ada sosok penunggu menyeramkan di hutan angker dekat desa mereka. Selama ini penduduk banyak mencari kebutuhan pangan disana, namun ketika malam datang tak ada satu orangpun yang bahkan berani menginjak batas masuk hutan.

Legenda menyebut penunggu itu sebagai Kanigara. Dalam bahasa Jawa kuno berarti bunga matahari, namun sosok itu disebut-sebut memiliki penampilan yang menyeramkan tak seperti namanya. Beberapa orang yang pernah melihat Kanigara mengatakan bahwa sosok itu memiliki taring yang tajam dan sayap hitam yang lebar dan menyeramkan. Sosoknya mirip manusia namun kulitnya dipenuhi bulu hitam yang menyeramkan.

"Dengar-dengar ada warga kampung sebelah yang kemarin lewat batas hutan dan melihat Kanigara sedang memangsa hewan," ucap salah seorang warga yang tengah berkumpul di pos ronda. Di hadapan beberapa lelaki itu ada papan catur yang tertata dan beberapa gelas kopi sebagai pelengkapnya. Biasalah, rutinitas warga desa bermain catur ataupun kartu ketika mendapat giliran ronda.

"Ngeri sekali ketika mendengar ceritanya, untung saja dia masih selamat dan hanya mengalami demam setelah melihat Kanigara. Bagaimana nasibnya jika Kanigara memangsanya?"

"Heh jangan menakut-nakuti aku!"

Lamat-lamat Changbin mendengar para lelaki desa sedang mengobrol dan pemuda itu mengucap permisi ketika lewat di depan pos ronda.

"Permisi Pak," ucapnya.

"Eh Changbin, mau kemana? Mampir dulu sini."

"Wah terima kasih pak, mungkin lain kali. Saya mau ke warung untuk membelikan koyo untuk kakek," ucap Changbin dengan sopan sebelum kemudian pamit pergi dari sana.

"Dia anak kota tapi sopan ya."

"Jika aku punya anak gadis sudah aku jodohkan anakku dengannya."

Changbin dapat mendengar ucapan para bapak-bapak namun pemuda itu tak menghiraukan dan tetap berjalan ke warung untuk melakukan tujuannya. Tak sampai 15 menit, Changbin sudah kembali ke rumah kakek dan neneknya dimana ia menginap selama berlibur di desa. Setelah memberikan koyo pada kakeknya, Changbin pun duduk di pelataran rumah bersama salah seorang sepupu yang juga tinggal di desa tersebut.

"Jisung."

"Hm?"

"Kau tau soal Kanigara?" Tanya Changbin membuat Jisung menatap kaget ke arahnya.

"Jangan disebut, nanti datang!" Ucap Jisung dengan heboh.

"Memangnya hal semacam itu masih berlaku?"

"Aku tau orang-orang kota tidak percaya dengan itu, tapi disini hal semacam itu masih sangat kuat. Kalau kau bersikeras mengatakan makhluk-makhluk itu tak ada, yang ada kau yang dianggap gila."

"Bisakah kau jelaskan padaku soal Kanigara?"

"Bisakah kau tidak bertanya padaku malam-malam begini? Besok pagi saja!" Ucap Jisung yang kemudian masuk ke rumah meninggalkan Changbin sendirian.

Changbin menyeruput teh jahe buatan neneknya hingga matanya terpaku pada seorang pemuda yang berjalan melewati depan rumah. Pemuda dengan kulit putih bersih dan memiliki paras tampan yang juga bercampur cantik. Kombinasi yang pas seperti dewi yang digambarkan dalam buku dongeng.

Pemuda itu menoleh, tersenyum sopan layaknya warga desa lain sebelum kemudian melanjutkan jalannya. Changbin terpesona jadi dengan berani pemuda itu mengejar si pemuda.

"Tunggu," ucap Changbin membuat si pemuda berbalik ke arahnya.

"Ya, ada apa?" Tanya si pemuda membuat Changbin salah tingkah.

Three Words 5 [ChangLix]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang