Changbin jatuh sakit. Selama 3 hari pemuda itu demam tinggi dan tidak nafsu makan. Jisung sudah membawanya ke puskesmas sehingga kini demamnya sudah tak terlalu tinggi, meski begitu tubuhnya masih lemas sehingga ia belum bisa beraktifitas normal.
"Padahal Felix juga ada di tempat kejadian, tapi aku lihat dia baik-baik saja. Bagaimana bisa hanya kau yang demam setelah tak sengaja berada di tempat yang sama dengan Kanigara?" Ucap Jisung sembari memberikan obat dan juga air putih untuk Changbin.
Changbin tak bersuara. Pemuda itu meminum obatnya sebelum kemudian kembali berbaring di tempat tidur.
"Aku belum pernah melihatnya sakit, jangan-jangan dia punya pegangan," ucap Jisung sembari membetulkan selimut yang dikenakan Changbin.
"Tidak semua hal ada hubungannya dengan mistis. Mungkin saja Felix memiliki kekebalan tubuh yang baik," ucap Changbin dengan suara pelan.
Jisung mengedikkan bahunya kemudian pemuda itu bangun dari duduknya di tepi ranjang.
"Malam nanti ada acara adat di balai desa, apa kau baik-baik saja sendirian di rumah?"
"Kau pikir aku bayi yang harus ditemani 24 jam penuh?"
"Bayi tua," ucap Jisung yang kemudian keluar dari kamar.
Changbin menatap langit-langit dalam diam. Pikirannya kembali pada saat ia memergoki Felix di kebun beberapa hari yang lalu. Ia tak mungkin salah lihat. Tangan Felix penuh darah dan sekitar bibirnya pun tak kalah kotor dari tangannya. Lalu apa yang membuat pemuda manis itu memakan daging mentah? Ia harus segera sembuh agar ia bisa bertemu Felix untuk meminta penjelasan.
"Kau yakin tidak mau ditemani?" Tanya Jisung dari ambang pintu kamar Changbin.
Changbin yang sudah merasa baikan mengangguk kemudian pemuda itu turun dari ranjang untuk menghampiri sepupunya.
"Bahkan kalau kakek dan nenek tidak melarang aku pasti ikut ke balai desa. Lumayan kan makan gratis," ucap Changbin diakhiri kekehan pelan.
"Memang itu yang aku cari. Kalau begitu aku pergi dulu ya, pintunya dikunci saja, aku bawa kunci cadangan," ucap Jisung sembari berjalan menuju pintu depan.
Changbin mengikuti dan setelahnya pemuda itu mengunci pintu seperti yang Jisung perintahkan. Changbin merasa jauh lebih baik namun kepalanya masih sedikit pusing sehingga ia memutuskan untuk menuruti kakek dan neneknya untuk tetap tinggal di rumah. Pemuda itu berjalan menuju ruang tengah, memutuskan untuk menonton televisi untuk membunuh rasa sepi di rumah.
Satu jam berlalu Changbin dapat mendengar alunan musik Jawa dari arah balai desa. Selain acara adat, malam itu juga diadakan pertunjukan wayang sehingga para warga antusias untuk datang. Changbin akhirnya mematikan televisi, memilih mendengarkan alunan musik samar yang begitu menenangkan.
Tok tok
Changbin menoleh ke arah ruang tamu. Suara ketukan pelan terdengar membuatnya segera bangun untuk membukakan pintu. Siapa tau kakek atau neneknya pulang tanpa Jisung yang membawa kunci cadangan.
Tok tok
"Iya sebentar," ucap Changbin sembari membuka kunci.
Changbin terdiam melihat sosok pemuda manis dengan balutan baju adat berada di depannya. Tatapan matanya terasa hangat tak seperti terakhir kali mereka mengobrol di pinggir sungai beberapa hari yang lalu.
"Buatan ibuku," ucap Felix sembari menyodorkan sebuah kantong plastik berukuran kecil.
"Terima kasih," ucap Changbin sembari menerima pemberian Felix.
KAMU SEDANG MEMBACA
Three Words 5 [ChangLix]
FanfictionKumpulan oneshoot, twoshoot, manyshoot ChangLix Even though I look like I don't care, actually my heart is just for you. Three Words, I Love You Started : 2021, September 11th ⚠️BXB AREA⚠️ Cerita dan ide original dari Sweetbearry10. Saya hanya mem...
![Three Words 5 [ChangLix]](https://img.wattpad.com/cover/284685682-64-k258831.jpg)