‼️WARNING‼️
Cerita nggak jelas.
Yang nggak suka lebih baik jangan baca.
✪✪✪✪
"Kita emang pasangan. Gue sebagai majikan, dan lo babu gue. Itu termasuk pasangan kan?"
✪✪✪✪
Syakila terpaksa menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya karena suatu ha...
Sore ini, Karin dan Rara berada di rumah baru Syakila untuk mengerjakan tugas. Dan untuk pertama kalinya rumah baru tersebut terisi tamu yang langsung diundang sendiri oleh istri Halka itu.
Rara berusaha membekap mulutnya yang akan menyemburkan tawa. Ia begitu terkecoh saat memandang Syakila yang kini menggunakan baju berbeda di acara kerja kelompok mereka.
"Sumpah, gue nggak tahan lagi, Kil! Kenapa lo tiba-tiba pakai daster coba?!" pekik Rara dan akhirnya ia tertawa kencang.
"Ih, enak aja lo kata daster," celah Syakila sewot. Ia menatap tak terima ke arah Rara. "Ini itu bukan daster, tapi dress rumahan yang unik."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dress itu bahasa inggris. Bahasa kampungannya ya daster," sahut Karin tak mengalihkan pandangannya dari apa yang ia tulis. "Gitu aja ribet," lanjutnya mencibir membuat Syakila tercengo.
"Hahaha, sukurin! Kicep kan lo!" tawa Rara meledek habis-habisan. "Daster, daster~ mana gambar tikus lagi. Hahaha." lanjut gadis itu menggeleng, tawanya pun tak kunjung berhenti.
Syakila mencebik kesal. Jika bukan karena Halka yang melarangnya agar tak memakai pakaian ketat, mana mau perempuan itu memakai benda seperti ini. Ini karena Halka yang menyuruhnya untuk memakai daster.
"Julid banget sih. Nyebelin, issh!"
"Oh, ini cuma gue yang kerjain tugasnya?" sindir Karin menatap Syakila dan Rara dengan sebelah alis terangkat. Gadis itu kemudian meletakkan bolpoinnya lalu bangkit berdiri setelah duduk di lantai beralaskan karpet coklat. "Gue pinjem toilet, Kil. Di sebelah mana?"
Syakila langsung saja berputar dan menunjuk ke arah belakangnya. "Lurus aja dari sini. Nanti sebelah tangga ada toilet. Perlu gue antar nggak?" tawarnya dan langsung dibalas gelengan oleh Karin.
"Gue sendiri aja. Lo sama Rara coba kasih kesimpulan di bawah paragraf yang gue tulis tadi. Gue tinggal bentar ya?"
"Jangan lama-lama, Rin. Inget, masih rumah baru ini. Jangan sampai urin lo bau busuk ya." Rara menyahuti.
Karin melotot. "Heh! Mana ada kayak gitu!"
"Ya kan bisa aja lo habis makan jengkol mungkin?" guyon Rara kemudian tertawa meledek.
"Sembarangan kalo ngomong!" sungut Karin tak terima.
"Udah udah. Lo cepet ke toilet sana," lerai Syakila mengarah pada Karin. Perempuan itu sudah memegang bolpoin dan tau-tau sudah menulis tiga kalimat dalam kertas kelompok mereka.
Karin yang hendak bersuara dikagetkan oleh kedatangan Halka yang tiba-tiba sudah ada di disampingnya. Lelaki itu memakai kaos jersey basketnya dengan bagian punggung yang telah tercetak basah.
"Sya, aku langsung ke atas," kata Halka membuat Syakila langsung berhenti menulis. Perempuan itu langsung berbinar menatap suaminya.
"Ahhh, suami gue udah pulang?!!" teriak Syakila heboh melupakan kedua sahabatnya. "Mau pelukk!" rengeknya sudah berdiri lalu berniat memeluk Halka. Namun lelaki itu memundurkan tubuh seolah menolak membuat Syakila terkejut.