65. DIARY ELA

1.8K 88 0
                                        

Jari lentik itu dengan santainya mengetuk-ngetuk meja seirama dengan nada yang sedang digumamkannya. Sebelah tangannya mengamati sebuah benda pipih yang didalamnya terdapat gambar seseorang. Detik selanjutnya, dia tersenyum miring. Membelai layar ponselnya dengan jari yang tadi digunakan untuk mengetuk meja.

"Kan gue udah bilang. Berani lo mundur, lo nggak akan selamat," desis gadis itu menatap sinis orang yang ada di layar ponselnya.

"Ela, Ela.." gadis itu menggeleng remeh.

"Lo rela mati hanya karena nggak mau lanjut untuk bunuh Syakila? Stupid decision."

"Keputusan yang lo ambil menyuruh lo sendiri.." ia sejenak menjeda ucapannya kemudian tersenyum licik.  "Untuk mati," lanjut gadis itu beralih menatap tajam ke arah depan yang kosong.

Beberapa detik kemudian, dia tertawa kencang, lalu kembali menatap gambar Ela yang ada di ponselnya.

"Masih belum selesai. Lo punya kakak kan Ela?" gadis itu bertanya entah pada siapa, karena dalam ruangan ini hanya dia yang ada di sini.

"Mungkin gue bisa jadikan kakak lo sebagai budak gue--

--untuk melenyapkan Syakila dengan cepat," lanjut gadis itu kemudian kembali tertawa puas.

****

"Emas murni dapet di selokan,"

"Cakepp!!"

"Eh, anjir! Gue bukan nge-pantun ya." Bima mendelik sewot. Ia menjitak teman sebangkunya membuat sang empu mengaduh.

"Tai! Nggak usah jitak-jitak segala, bangsat! Lo pikir nggak sakit apa?"

"Nggak. Karena gue yang jitak lo, jadinya nggak sakit," jawab Bima tak mau kalah. Teman sebangkunya mendengus kesal.

"Kek ada yang kurang ya?" gumam Rara menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangan di meja. Ia melirik sekilas Syakila yang sedari tadi hanya diam.

"Bim! Pantun lagi napa! Sohib gue butuh pencerahan nih!" teriak gadis itu mencubit paha Syakila di bawah meja membuat sang empu memekik kaget.

Syakila menatap tajam Rara. "Jangan usil!" peringatnya galak, Rara menyengir.

"Nggak nyangka banget ya Ela udah moek!" Bima bersuara kembali membuat seisi kelas menoleh pada cowok itu.

"Apa? Kenapa pada lihatin gue?" sewot Bima. "Gue tau gue ganteng, jadi lo semua nggak perlu pandangin gue hanya untuk membuat gue tambah ganteng," lanjut cowok itu percaya diri, seisi kelas berpura-pura muntah karena jijik akan ucapan si ketua kelas itu.

"Kenapa Ela bisa bunuh diri ya?" monolog siswa cewek menyahuti, seisi kelas menjadi hening setelah perkataan gadis tadi.

"Sejak Ela meninggal, kok kelas kita jadi kelihatan serem ya?" sahut anak cowok bersuara.

"Malam nanti pengajian tiga hari Ela bukan sih? Kelas kita di undang ke sana kan?" tanya yang lain lagi. Beberapa orang mengangguk untuk menjawab.

"Udah-udah! Bahas yang lain aja," Bima mengintrupsi. "Daripada diem-diem wae, mending gue pantun lagi."

"Nah betul tuh!" serempak beberapa anak cowok.

"Baju seragam terlihat gagah,"

"Cakepp!" sahut yang lain mengacungkan jempolnya saat Bima sudah mulai berpantun.

"Pulang sekolah membawa buku,"

"Cakep!"

"Takdir berpisah tak dapat dicegah,"

"Cakep!"

"Selamat tinggal rekan terbaikku."

"Cak–eh, buat Ela ya? Sejak kapan lo jadi rekan terbaiknya Ela?" sahut teman sebangku Bima meledek sewot. Sang ketua kelas pun mulai menyahuti tak kalah sewot.

HALSYA [Selesai]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang