Malam itu mungkin terasa berbeda bagi Syakila. Karena apa yang dilaluinya bersama Halka telah menjadi penanda bahwa dirinya sudah menjalankan kewajiban sebagai seorang istri.
Tak ada yang mengganjal di hati. Semua ia berikan dengan tulus, tanpa paksaan apapun.
Mata indah nan lentik itu mulai terbuka perlahan. Hal pertama kali yang ia lihat adalah tempat tidur Halka yang kosong. Manik matanya mulai menjelajahi seluruh ruangan untuk mencari keberadaan cowok itu-- ah, apakah Halka masih bisa disebut seperti itu lagi setelah kejadian semalam? Syakila sampai malu untuk mengingat kembali bagaimana pergumulan panas mereka.
Senyumnya semakin melebar saat Syakila mendapati sang suami yang tengah berdiri sendirian di balkon kamar. Lelaki itu menatap langit yang jelas-jelas masih menampilkan kegelapan karena malam belum usai.
Baru saja bergerak, Syakila merasakan sakit di bagian sensitifnya. "Sshh.."
Rintihan terdengar masuk ke telinga Halka, membuat lelaki itu langsung menoleh ke belakang. Matanya mendapati Syakila yang sepertinya mencoba untuk duduk. Halka membalikkan badan dan berjalan mendekati istrinya.
"Kamu ngapain di sana?" tanya Syakila yang mulai bersandar pada kepala ranjang. Gadis-- oh ralat, perempuan itu membelitkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Halka hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Syakila. Ia duduk di pinggir ranjang--tepat di samping istrinya.
"Maaf," lirih Halka membuat kening Syakila berkerut.
"Maaf untuk apa?" Syakila bertanya. "Kenapa kamu minta maaf?"
Halka kembali menggeleng. Lelaki itu mendekatkan bibirnya pada kening Syakila, mengecup lembut di sana lalu memeluk perempuan itu.
Syakila merasa sedikit aneh pada tubuhnya. Pasalnya, hanya selimut saja yang membalut tubuh perempuan itu. Apalagi, saat selimut itu mulai melorot karena dekapan Halka yang erat.
"Halka, kamu udah mandi kan?" tanya Syakila mendorong pelan dada Halka dengan tangan yang terbungkus selimut, membuat lelaki itu langsung melepas pelukannya.
Agak aneh memang, Syakila membenarkan selimut agar sempurna menutupi tubuhnya.
"Aku mau mandi dulu."
Manusia yang baru saja melepas kegadisannya itu menurunkan perlahan kakinya. Namun dengan cepat Halka tiba-tiba menggendongnya menuju kamar mandi, tanpa menerima penolakan istrinya.
"Aku bantu."
****
"Sya, ijin aja ya?" bujuk Halka menahan tangan Syakila.
Perempuan itu menoleh, menatap Halka bingung bercampur kesal. "Kenapa ijin sih?! Aku nggak sakit! Kenapa harus ijin segala??"
"Tap--"
"Ssssttt.. buruan berangkat," sela Syakila menempelkan telunjuk di bibir suaminya lalu berjalan mendahului lelaki itu.
Halka menghela napas pasrah. Masalahnya, ia sangat khawatir pada sang istri. Lelaki itu takut terjadi apa-apa pada Syakila setelah apa yang ia perbuat tadi malam.
Sesampainya di sekolah, Halka lebih dulu menahan Syakila yang hendak membuka pintu mobil. Perempuan itu mengedarkan pandangannya tak tenang ke arah luar, takut-takut jika keluar mobil nanti ada yang melihat dirinya berangkat bersama pangeran idaman mereka.
Halka menghela napas kembali, menangkup wajah Syakila dengan kedua tangannya agar mata sang istri tak kemana-mana.
Halka ingin Syakila hanya menatapnya.
"Bareng ya?"
"Hah?" beo Syakila bingung.
"Bareng aja masuknya," ulang Halka lebih panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
HALSYA [Selesai]
Ficção Adolescente‼️WARNING‼️ Cerita nggak jelas. Yang nggak suka lebih baik jangan baca. ✪✪✪✪ "Kita emang pasangan. Gue sebagai majikan, dan lo babu gue. Itu termasuk pasangan kan?" ✪✪✪✪ Syakila terpaksa menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya karena suatu ha...
![HALSYA [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/278441864-64-k46583.jpg)