Sepasang mata itu terlihat begitu berkaca-kaca. Pun dadanya yang terasa sesak setelah mendapati sang sahabat yang terbujur lemah di atas kasur khusus dengan tubuh yang juga dipasangi oleh alat-alat medis.
"Hiks."
Satu isakan akhirnya lolos juga. Karin segera menyeka air matanya seolah tak mau sang sahabat melihat. Meskipun pada kenyataannya, mata Syakila masih terpejam erat.
"Maaf," lirih Karin tercekat. "Maafin gue yang bodoh, Kil. Maafin gue yang udah nggak tau diri."
"Gue nggak pantas jadi sahabat lo. Apa lo akan marah sama gue setelah ini?"
Karin menggeleng cepat. "Nggak. Lo nggak akan kayak gitu. Kita masih bisa bersahabat kan?"
"Kila, ayo bangun. Lo dengar suara gue kan?"
"Pasti. Lo pasti dengar suara gue. Ayo buka mata lo. Semua orang udah nunggu lo di sini. Ada banyak orang yang sayang sama lo. Termasuk gue."
Karin menahan napas sejenak, menetralisir degub jantungnya yang berdetak cepat sebelum memulai kembali ucapannya.
"Gue bodoh, Kil. Gue bego," isak Karin menundukkan kepalanya sejenak. Kemudian ia mendekat dan tak sungkan menggenggam jemari sang sahabat. "Lo pasti ngira gue selingkuh sama Halka kan?"
"Lo pasti mikir gue main belakang sama laki lo. Kampret lo Kil kalau pikiran lo sampai ke sana." Karin terkekeh disela tangisannya.
"Tapi nggak mungkin kan lo mikir kayak gitu? Sahabat gue bukan orang kayak gitu. Lo percaya sama gue kan?" beruntun Karin terus mengajak Syakila yang masih terpejam.
Karin yakin, sang sahabat pasti dengar dari alam bawah sadarnya.
"Halka orang yang baik. Baik banget malah. Udah tampan, mapan, cerdas, hidup pula. Beruntung banget lo Kil udah jadi kekasih halalnya."
"Halka sayang banget sama lo, Kil. Malah dia udah cinta sama lo sampek mampus. Percaya sama gue. Cuma ada nama lo di hati seorang Halka."
Karin menghela napas panjang. "Masih nggak mau bangun? Gue udah ngomong panjang lebar loh ini. Nggak ada niatan lo jawab omongan gue gitu? Bener-bener kampret lo jadi sahabat," seru Karin berlagak marah.
"Oh.. atau gue perlu ngebully lo dulu gitu? Ngatain lo pakai nama nama hewan. Cakep nggak tuh?" tawar Karin sangat konyol. Tak apa, ini cara dia agar Syakila cepat sadar.
"Kil, ayolah.. udah kram mulut gue. Gue mulai sekarang aja gimana? Mau yang mana dulu? Anjing, babi, atau asu?"
Selang berikutnya, Karin tersenyum getir. Melihat sang sahabat masih tak bereaksi membuat dadanya bergemuruh hebat.
Ini salah gue, batin gadis itu tanpa sadar meremat jemari Syakila pelan.
Di detik berikutnya, Karin bermonolog, "Haruskah gue cerita semuanya?" tukasnya yakin tak yakin.
"Kila, gue harap lo dengar hal ini," jeda Karin membenarkan posisi duduknya. "Tentang orang yang menyimpan dendam untuk lo,"
"Apa lo mau tau?"
****
Halka berjalan santai di sepanjang koridor rumah sakit dengan senyum tipisnya. Membawa tubuh yang lebih segar serta wangi yang amat semerbak membuat para kaum hawa yang dilintasi lelaki itu terperangah kagum.
Bukan Halka namanya jika tak bersikap acuh. Tujuan suami Syakila itu hanya sang istri. Halka akan membawa tubuh tampan itu hanya pada Asya-nya seorang.
Membayangkan bagaimana sang istri membuka mata lalu mendapati dirinyalah yang pertama kali dilihat oleh Syakila membuat Halka semakin menyunggingkan senyuman. Lelaki itu buru-buru melangkahkan kakinya tak sabar.
Dia amat tak kuasa ingin mendapati wajah kagum sang istri yang menurutnya sangat gemas.
Dugh
Saking semangatnya lelaki itu berjalan hingga tak sengaja menabrak tubuh seseorang.
"Sorry," ucap Halka merasa tak enak.
Setelah mengambil sebuah boneka yang terjatuh, badan Halka lalu kembali tegap seiring netranya yang bersitatap dengan seseorang.
Seorang perempuan menggendong anak cantiknya yang masih balita.
Sejenak pandangan Halka teralih dan terpaku pada anak kecil berwajah menggemaskan. Netra mata balita cantik itu begitu menenangkan, hingga tak sadar manik mata Halka ikut menyelam.
Lelaki itu bergumam. "Nama kam...
Papa! Kenapa Papa nggak nahan mama!?
Deg! Halka terkesiap. Detik itu juga menegang sesaat.
"Mas, maaf boneka anak saya masih mas pegang. Boleh saya ambil?" tanya sang perempuan yang diketahui sebagai ibu balita cantik itu.
Halka tersadar dan terdiam sesaat.
"Maaf, sekali lagi saya minta maaf. Apa anak kamu tidak apa-apa?" tanya Halka pada sang perempuan yang diyakini masih cukup muda itu. Halka prediksi, perempuan itu masih seusianya.
"Nggakpapa, mas. Saya juga yang salah, saya jalan tidak lihat-lihat. Kara nangis terus soalnya."
"Namanya Kara?" ulang Halka bertanya.
"Iya. Nama anak saya Kara. Kara Ratu Aurora," sebut perempuan itu sembari tersenyum.
"Nama yang cantik," puji Halka benar-benar kagum. Dan tanpa disangka, balita cantik itu seketika diam tak menangis lagi ketika Halka menyentuh kepala si kecil.
"Maaf, mas. Saya harus bawa anak saya ke ruangnya untuk persiapan operasi."
"O-operasi?" gagap Halka terkejut.
"Iya. Kara harus operasi untuk cuci darah pertamanya. Kalau gitu saya permisi. Sekali lagi saya minta maaf karena menabrak masnya," pamit perempuan itu lalu melewati Halka.
Terdiam, itulah yang dilakukan Halka selama beberapa detik. Entah apa yang tengah dirasakan lelaki itu. Tubuh Halka berbalik perlahan lalu mengamati punggung si perempuan yang menggendong balita cantik itu. Semakin menjauh hingga hilang karena berbelok memasuki suatu ruang.
"Semoga berjalan lancar dan cepat sembuh," ucap lelaki itu dibawah sadarnya.
Merasa ingat, Halka kembali berjalan untuk tujuan awalnya.
Asyakila.
Dia sudah tak sabar melihat wajah cantik istrinya. Halka berharap Asya-nya mau membuka mata ketika ia sampai di sana.
Langkah kaki lelaki itu semakin lebar dan cepat. Bahkan Halka berlari agar sampai di ruang istrinya.
Hingga saat lima langkah lagi,
"Halka," parau Sofi setelah memutar badan.
Halka segera mendekat dan panik seketika. "Ma?" heran lelaki itu saat melihat sang ibu. Bahkan kini jantung Halka dibuat berdetak tak karuan.
"Mama kenapa nangis?"
"Halka," lirih Rara yang sejak tadi memang menunggu di luar.
Melihat sahabat sang istri yang juga sesenggukan, Halka semakin kalang kabut.
Hingga suara seseorang yang baru saja keluar dari ruang istrinya membuat aliran darah lelaki itu seakan terhenti. Karin berucap seolah meruntuhkan dunia Halka.
"Detak jantung Syakila melemah."
****
~Tbc~
KAMU SEDANG MEMBACA
HALSYA [Selesai]
Fiksi Remaja‼️WARNING‼️ Cerita nggak jelas. Yang nggak suka lebih baik jangan baca. ✪✪✪✪ "Kita emang pasangan. Gue sebagai majikan, dan lo babu gue. Itu termasuk pasangan kan?" ✪✪✪✪ Syakila terpaksa menikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya karena suatu ha...
![HALSYA [Selesai]](https://img.wattpad.com/cover/278441864-64-k46583.jpg)