17 - Tes Kelayakan (1)

1.1K 223 11
                                        

Tiba hari pelaksanaan tes kelayakan anggota OSIS baru di keesokan lusanya.

Seluruh kelas diberi jamkos untuk jadi penonton tes yang diadakan di lapangan basket. Di sinilah gue duduk di bangku penonton bareng Frostfire dan Sori. Gak kayak gue, mereka paling bersemangat buat nontonin orang gelud.

Di tengah lapangan berdiri beberapa calon anggota yang udah siap dites. Sekarang ini mereka lagi diarahkan tentang siapa yang akan melawan siapa dari anggota OSIS lama. Yang ngikut lumayan banyak juga, tapi perhatian gue lebih tertuju ke Glacier, Gentar, dan Sopan.

Di rumah kemarin, gue menyaksikan sendiri Sopan berlatih karena dia juga yang minta gue buat nemenin dia. Kesan gue dengan kata berantem, itu berarti bebas melakukan gerakan apapun asal lawan bisa dijatuhkan, tapi gerakan yang dilatih Sopan bukan sembarang gerakan berantem biasa.

Dia atlet pencak silat.

Gue bisa tau gerakan yang dia pake di latihannya kemaren adalah silat karena gue kenal dekat siapa pendekarnya.

Abang gue sendiri, Bang Hali.

"Yang mendapat giliran pertama segera mengambil posisi! Sementara yang lain menunggu dulu di luar lapangan!" tukas si Ketos.

Peserta pertama dari yang dilindungi, senjata yang dia pakai adalah pistol. Lawannya adalah kakel OSIS yang juga dari yang dilindungi, senjata yang dipakainya yaitu pedang kembar.

Pertandingan pun dimulai setelah peluit dibunyikan. Yang pertama ini menghabiskan waktu 20 menit sampai dia dinyatakan layak.

Terhitung sekitar 31 siswa yang mencalonkan diri, termasuk Glacier yang ke-13, Gentar ke-20, dan Sopan ke-21. Saking banyaknya kandidat dan lama waktu mereka bertarung, jadi gue persingkat aja.

Dua jam berlalu dengan 7 orang lolos dan 5 orang gugur. Sekarang adalah giliran Glacier memasuki lapangan. Meski dulu dia ikut tes kepintaran, dia berhasil menduduki posisi yang dihormati. Jadi dia akan dites dengan kekuatan fisik.

Begitu anggota OSIS yang bakal jadi lawannya muncul, gue mengumpat kaget, dan Frostfire jadi tambah bersemangat.

"Ahaha gokil! Si kakel itu lagi! Kasih paham dia kali ini, Ciel!"

Gandeng sia.

"Wih keliatannya temen kamu itu ada dendam kesumat, ya," kata Sori.

"Iya kali," jawab gue.

Gue inget banget sama tuh kakel, dia abangnya Dodot yang dulu pernah nyerang gue sama si kembar. Gue baru tau kalo dia juga anggota OSIS lama.

Setelah Glacier dan lawannya saling berhadapan, peluit pun dibunyikan.

Buagh!

Baik gue dan penonton lain dibuat tercengang. Belum sedetik peluit dibunyikan, si kakel udah ambil start nonjok tepat di pipi kiri Glacier.

Yang selanjutnya terjadi adalah si kakel terus meluncurkan pukulannya pada Glacier, sementara Glacier cuma menghindar dan melindungi diri dengan kedua tangannya sebagai tameng.

Situasinya agak gawat karena si kakel nyerangnya membabi buta sehingga Glacier gak dapet celah buat nyerang balik. Kalo udah gini gue yakin Frostfire gak terima.

Btw kok gue belum denger Frostfire protes?

Gue noleh ke arahnya, ternyata dia lagi diem nontonin pertandingan. Dibilang tumben juga gak bisa sebenernya. Mata melotot dengan muka pucet gelap gitu kentara dia lagi nahan emosi.

Kalo udah sampe meledak-ledak bisa jadi kayak gunung Krakatau keliatannya.

Pukulan telak Glacier terima sampai buat dia terpental lalu terhantuk pembatas lapangan. Dahi gue mengerut heran, gak tau kenapa gue merasa gak mungkin Glacier bisa terdesak segampang itu.

Terlihat Glacier mulai bangkit lagi. Kali ini wajahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya, sementara si kakel abangnya Dodot masih ngetawain dan ngerendahin Glacier.

Ketegangan atmosfer di bangku penonton makin berat ketika Glacier mulai berjalan santai mendekati si kakel, sedangkan si kakel diam tak menyerang seolah membiarkan Glacier menghampirinya.

.

.

Glacier Pov

Seseorang pernah bilang padaku, kalau dengan melindungi diri dan menghindari serangan lawan itu hanya taktik mengelabui. Begitu lawan sudah menganggap aku lemah, itu berarti aku berhasil membuatnya lengah.

Seperti sekarang. Setelah aku dibuat terpojok olehnya, aku kembali bangun lalu berjalan ke arahnya, namun dia hanya membiarkan tanpa melakukan penyerangan lagi.

Muka ngeselinnya yang terlihat kayak merendahkanku, apa jadinya jika kubuat rata, ya? Mumpung peraturannya boleh buat gak nahan diri, jadi gak ada salahnya nyoba.

BUGH! KREK!

Dalam sepersekian detik, kepalan tanganku berhasil meninju tepat di wajahnya. Aku agak kaget saat tau pukulanku bisa sampe nyebabin suara retak tulang. Aku bisa denger suara desisan ngilu dari bangku penonton. Sepertinya aku berlebihan.

Ketika kujauhkan kepalan tanganku dari wajahnya, benar saja, lebam muncul di area dahi dan hidungnya sampe mimisan. Segitu aja udah lumayan buat aku karena tanganku lemes habis dipukul terus-terusan sama dia, jadi aku gak bisa ninju dengan tenaga penuh.

"Ke-keparat lo!" seru si kakak OSIS.

Walau mukanya babak belur gitu, masih bisa kulihat kalau dia udah marah besar. Hal yang wajar dalam sebuah kompetisi.

Aku mulai memasang kuda-kuda dengan kedua tanganku terkepal di depan wajah. Melihat gayaku yang begini membuatnya merasa tertantang. Dia melesat maju ke arahku untuk meluncurkan serangan lainnya. Jika tadi aku terus menghindar, kali ini setiap pukulannya aku tepis. Cara dia melawan masih terekam di pikiranku sehingga aku dengan mudahnya membaca gerakkannya.

Kehebohan para penonton terdengar riuh. Terhitung sudah banyak kali aku melayangkan pukulan pada si kakak OSIS. Kecepatanku menepis pukulannya juga berhasil menyamai. Sampai aku menemukan kesempatan, aku langsung melayangkan pukulan lagi terhadapnya.

Pukulan terakhir berhasil membuatnya terpental hingga tersungkur. Aku terdiam sejenak sebelum aku melangkah mendekatinya.

Kali ini aku yang memandangnya rendah, kedua mataku nyalang menatapnya terpuruk begitu. Aku menarik kerahnya lalu mengangkatnya setinggi diriku, hanya dengan begini saja para penonton tampak terpana. Tanganku yang terbebas kembali mengepal. Tinggal satu pukulan saja, maka aku akan dinyatakan lolos.

Tinjuku sudah terangkat di samping wajahku, tinggal mendorongnya agar mendarat lagi di wajah si kakak OSIS yang udah bonyok.

Sampai atensiku tanpa sengaja menangkap figur seseorang dari luar lapangan. Meski jauh dari hadapanku, aku masih dapat melihatnya dengan jelas.

Karena sosok itu juga aku dibuat lengah.

Si kakak OSIS berhasil membalikkan keadaan, dengan menarik dirinya menapak ke tanah lalu meremas kerahku dan mengangkatku.

"Liat kemana lu hah?! Tololnya lu malah ngalihin perhatian ke yang lain!"

Lalu si kakak OSIS tertawa gahar, bersamaan dengan rasa sakit yang menjalar di tubuh dan wajahku setelah aku dibantingnya dengan posisi tengkurap di tanah.

Peluit dibunyikan tanda pertandingan telah usai, dan aku dinyatakan gagal. Tapi dibanding kegagalan itu, dibanding rasa sakit ini, semua itu tak ada apa-apanya ketika mataku masih terpaku pada orang di luar lapangan yang sedang tersenyum ke arahku.

Sebutir air mata muncul di sudut mataku. Frost... siapapun... tolong tutup mataku.

To be continued...

.

.

Glacier gak indigo ya ges.

Dua kali update di luar jadwal :')
In Syaa Allah mulai Jum'at besok udah bisa update normal sesuai jadwal.

Janlup tinggalin jejak vote komennya ges ya!

Reboot! Not RibutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang