Di suatu hari sebelumnya...
"Kami bakal selamatin Kakak."
"Eh."
Boboiboy mengerjap. Udah tiba-tiba diajak makan soto bareng sama Halilintar, Taufan, dan Gempa, sekarang Taufan mengatakan hal membingungkan.
"Selamatkan aku?" Mereka bertiga mengangguk.
"Kenapa?"
"Belakangan ini tingkah Kakak agak lain. Takut itu tanda ketularan sablengnya aku sama trioku, jadi kita mau ruq-"
Belum aja Taufan selesai ngomong, sebuah jitakan dari Halilintar mendarat mulus di kepalanya.
"Elu kali yang diruqyah," ketus Halilintar.
Taufan manyun sambil mengusap kepalanya. "Janganlah. Nanti kau kangen kuisengin pula kalau aku jadi normal."
"Ngaku lu gak normal."
"Berak."
Melihat itu Gempa menghelakan nafas ke sekiannya. Bukannya heran, tapi lihatlah situasi lagi serius.
"Yang Taufan katakan benar. Gak tau kenapa kami merasa Kakak terkadang bisa menjadi orang yang berbeda," kata Gempa.
"Beda gimana?" tanya Boboiboy.
"Aura Kakak kayak pak RT habis ciduk yang maling mangga," cerocos Taufan.
Baik Boboiboy dan dua orang lainnya sama-sama sweatdrop dengernya. Sampai Halilintar yang menjelaskan.
"Lebih tepatnya, terkadang Kakak terlihat merendahkan kami. Contohnya saat Taufan mengatakan kalau kami akan menyelamatkanmu tadi. Tatapanmu seolah bilang,
kayak kalian bisa aja."
Setelahnya hanya bisu yang melanda. Boboiboy menatap datar ke tiga orang adik kelasnya itu. Lalu helaan nafas lolos dari bibirnya.
"Apa cuma kalian bertiga aja yang merasa gitu? Atau yang lain juga?" tanya Boboiboy.
"Yang lain juga," jawab Gempa.
"Begitu," lirih Boboiboy.
"Jujur aku sedikit sakit hati dengernya."
Mendengar itu seketika membuat mereka bertiga mencelos. Gak lama kemudian, Boboiboy tersenyum.
"Tapi aku paham maksud kalian baik. Maaf jika kalian merasa aku membuat wajah yang gak enak dipandang sampai dikira kayak beda orang. Bisa jadi akunya emang lagi stres aja."
"Stres?" beo Halilintar.
Boboiboy mengangguk, "bentar lagi kan mau masuk akhir semester, nih. Tau sendirilah kesibukannya apa. Belum lagi ada ujian praktek juga."
Kemudian Boboiboy berdiri sambil membawa mangkuk soto yang sudah ludas.
"Stres dikit gak papa selagi belum sekarat aja. Aku gak perlu diselamatin, oke?" ujarnya thumbs up.
Dia pun berjalan pergi untuk mengembalikan mangkuknya, sedangkan Halilintar, Taufan, dan Gempa saling melempar tatap. Taufan dengan raut yakinnya mengangguk, dibalas anggukkan juga dari Halilintar dan Gempa.
Mereka sudah berniat untuk tetap mengawasi kakak kelas mereka itu.
.
.
Kembali ke masa kini. Nampak Boboiboy bersama Gopal dan Fang baru saja keluar dari ruang kepala sekolah. Selagi mereka berbincang kecil di depan ruangan tersebut, Blaze dan Ice terlihat mengawasi dari balik tembok belokan koridor. Di salah satu telinga mereka terpasang earpiece yang dipinjamkan Halilintar untuk menguping. Dia juga meminjamkan empat lainnya masing-masing satu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanficGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
