Baca dulu update-an yang kemaren, ges. Waktu upload malah gak muncul notif uweuwe.
.
.
"Sampai kapan dia akan terus menahanku, ya?"
Pertanyaan tadi memberi sentakkan kecil pada Halilintar dan Gempa. Apalagi saat anak sungai mulai terlihat mengalir tiba-tiba dari kedua mata Boboiboy.
"Aku udah gak tahan."
Hati mereka mencelos gak tega. Padahal mereka tahu penyebabnya, yang lain juga tahu, tapi setiap cara yang telah mereka lakukan semua gak membuahkan hasil. Jika terus dibiarkan begini, Boboiboy hanya akan semakin sakit.
"Kak Boy," Gempa menggenggam pelan tangan Boboiboy yang terpasang infus.
"Kami udah coba kembali ke sana, namun tidak ada tanda dia masih ada," katanya.
Genggaman Gempa mengerat kala dirinya merasa waduk di matanya akan bocor. Genggaman itu pula membuat Boboiboy mengetapkan bibirnya. Dia mengetahui usaha mereka bertujuh selama 6 bulan ini, tapi memang kelihatannya tidak semudah itu.
"Aku hanya bertanya, Gempa," ucap Boboiboy.
"Emang sih rasanya kayak pengen cepet mati, tapi mau digimanakan lagi kalau memang udah gak ada."
"Pasti ada," imbuh Halilintar.
Perhatian Boboiboy dan Gempa kini tertuju padanya.
"Dia pasti ada. Kalau tidak, kondisi Kak Boy tidak akan menjadi lebih buruk dari ini," ujarnya.
"Pengecut sialan yang beraninya di kandang itu..." gumam Gempa.
Melihat kedua mantan dekelnya itu tengah larut dalam emosi masing-masing, Boboiboy jadi merasa tak enak hati. Tangan satunya yang gak digenggam Gempa mengepal begitu memori dirinya bersama dua kawannya bekerja sama dengan Taufan and the geng dulu terputar lagi.
Masa-masa dimana rencana yang mereka lakukan bersama berjalan dengan mulus.
Jika saja Boboiboy tidak berpikir untuk menyudahi kerja sama itu.
Jika saja Boboiboy lebih memercayai mereka.
Dirinya gak akan berada di situasinya yang sekarang. Tidak lagi bisa membantu, hanya duduk diam membebani orang lain.
.
.
Supra pov
"Yo. Dah nyampe kalian."
Gue hampir lupa sama nih orang. Barusan itu Bang Mari nyambut gue, Sopan dan Gentar yang masuk dari pintu garasi. Sejak tau tentang insiden sekolah kemaren, Bang Mari dan Ibu Kuputeri dipinta Bang Hali untuk tetap tinggal buat beberapa waktu lagi.
"Temen lu pada tuh?" tanya Bang Mari nunjuk Gentar.
"Iya, Kak. Mau main bentar katanya," jawab Sopan.
"Jenengmu sopo?"
"Gentar mas e," jawab Gentar.
"Owalah elu toh. Gak heran sih nih bocah dua bilang lu spek preman."
Cepu anjir.
"Alah biasa, Bang. Fans mah gitu kalo ngiri sama kekecean gue," kata Gentar sambil pasang gaya jari pistol di bawah dagunya dan efek kinclong di giginya.
Gue sama Bang Mari cuma natep datar, sedangkan Sopan menutup muka bawahnya dengan kipas.
Kemudian Bang Solar dan Bang Beliung baru aja dateng dari garasi. Koper gue yang dibantu bawakan sama Bang Solar pun gue ambil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
Fiksi PenggemarGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
