89 - In Action, Again

881 92 39
                                        

Cukup lama gue menguping sampe gak nyadar hari udah malam. Usai mematikan semua device tadi, gue segera merapikan barang-barang dari koper balik ke tempatnya. Pintu diketuk saat gue lagi masukin baju ke lemari. Gue suruh buka aja, kan.

"Pintu lu dikunci pe'a."

Oh iya.

Btw tadi itu suara Bang Solar.

Gue pun ninggalin bentar kerjaan gue buat bukain pintu, habis itu balik beberes. Bang Solar pula bukannya masuk malah nyender doang di pintu.

"Lu daritadi di sini belum kelar beberes juga," katanya.

"Ketiduran tadi," jawab gue.

"Heee. Btw Sup, sini bentar deh."

Aktivitas gue terhenti lagi. Elah orang lagi sibuk juga. Walau gitu gue tetep nyamperin dia.

"Apa?" tanya gue usai mendekat.

Bang Solar tersenyum. "Gak papa, sih. Pengen manggil aja."

Anj-

Baru juga mau gue misuhin, tiba-tiba badan gue ditariknya ke dalam dekapannya. Gue kaget tapi juga gak nolak. Dipikir-pikir hari ini gue udah dipeluk sama Abang-abang gue.

Kemudian pelukan itu Bang Solar lepas, lalu dia menepuk pundak gue.

"Makan dulu sana. Nanti lanjut lagi beberesnya," ujarnya.

Kalimatnya tadi rasanya udah gak asing di telinga. Bang Solar yang selalunya datang ke kamar buat ngingetin gue untuk melakukan suatu hal. Gue, merindukannya.

Gue mengangguk, kemudian gue bersama Bang Solar pergi menuju ruang makan yang mana di sana sudah ada Bang Mari, Sopan dan Gentar di meja makan, sementara Ibu Kuputeri dan Bang Beliung sibuk dengan masakan.

"Supra, sini," panggil Sopan begitu ngeh gue ada. Gue pun nyamperin dan duduk di sebelahnya.

Sopan jadi yang ditengah karena di sisi lain ada si jamet.

"Lama bet. Modol dulu ya lu?" tanya Gentar.

"Ketiduran nyet," sewot gue.

Tanpa gue sadar, Ibu tau-tau udah ada di samping gue lagi naro piring gurame asam manis ke atas meja.

"Makan yang banyak nih, biar cepet sembuh," ujarnya lalu mengelus dan mengecup kepala gue.

"Sopan mau pake daun bawang, gak?" tanya Bang Beliung yang lagi ngaduk masakan di panci.

Sopan menoleh ke Bang Beliung yang ada di belakangnya dan menjawab, "mau. Dikit aja."

Begitu Bang Beliung menyajikan masakannya, ternyata dia membuat bakso. But wait, pake daun bawang?

Karena gue males ceritain prosesi makan malam bersama ini, jadi gue perpendek aja. Gak lama kami selesai makan, bel pintu berbunyi. Ibu yang pergi bukakan pintu. Ternyata Bang Hali udah nyampe bareng Bang Gempa. Di saat itu juga Gentar datengin abangnya.

"Makasih semuanya, udah direpotin buat titip Gentar," ucap Bang Gempa.

"Ceilah nyantai aja, Gem. Lu pada mau dianter gak?" tawar Bang Beliung.

Bang Gempa menggeleng, "udah kepesan ojol, kasian kalau dicancel."

"Owalah hati-hati kalo gitu."

"Sup, Pan, thanks buat experience-nya, ya," ucap Gentar.

Baik gue atau Sopan mengernyit bingung.

"Experience apaan?" tanya gue.

"Memasuki wilayah konglomerat."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 21, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Reboot! Not RibutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang