Gue capek.
Apa yang gue takutin selama ini terjadi sudah.
Yang pernah terjadi di SMP gue dulu terulang lagi di sini.
Gue duduk meringkuk bersandar batang pohon di halaman tengah sekolah. Ada Frostfire dan Glacier di kedua sisi gue, mereka daritadi lagi coba ngehibur gue, tapi gak ngaruh.
Ya pikirlah, emang ada difitnah itu enak? Emosi gue anjlok seketika yang ada.
"Sup, udahlah, balik kuy ke kelas," ujar Frostfire.
"Ogah anjing."
"Kalo kamu terus ngumpet gini, nanti dikira yang dirumorkan itu bener loh," ujar Glacier.
"Gue unjuk diri pun mereka masih ngelolongin rumor itu."
"Ngelolongin?" tanya Glacier.
"Hm."
"Bukannya itu suara anjing?"
"Emang. Mulutnya kang nyebar fitnah sama najisnya kayak anjing."
"Iya juga," kata Frostfire.
Gue mendesah gusar. Makin meringkuklah gue saking acak pikiran gue sekarang. Habis ini gue kudu apa? Kepala gue terlalu mumet buat lanjut penyelidikan. Belum lagi ngecek data-data yang gue dapet dari em-
Nah iya! Emblemnya kan ilang habis dicolong!
Meski gue udah punya salinannya, tetep aja sumber didapatnya data-data itu dari delapan pin emblem tersebut. Bisa dikata, itu bukti terkuatnya.
Gue yang lagi bengong mantengin rumput tiba-tiba ngeliat sepatu orang berjalan mendekat ke gue. Ketika gue mendongak, Frostfire dan Glacier pula noleh, ternyata Gentar yang datang.
"Supra," panggilnya, dan gue cuma balas mendeham.
Kemudian Gentar duduk berhadapan dengan gue. Gue mengerjap sekali, entah perasaan gue aja atau emang Gentar lagi natep gue serius? Tumben dia masang muka triplek, mana mirip banget sama Bang Hali kalo lagi naber.
"Rumor itu, emang bener?" tanyanya.
Kedua alis gue menukik kesal. "Lu pikir?"
"Gue gak percaya."
"Bagus."
Si jamet malah ikutan mengernyit, keliatan kesal tapi ada keponya juga.
"Terus kok bisa elu dirumorin kayak gitu?"
"Bacot! Stop ngomongin rumor! Itu fitnah, gue gak begitu!"
Baik Gentar, Frostfire, dan Glacier, mereka sama-sama tersentak. Melihat reaksi mereka bikin gue tersadar, segera gue nenggelamin muka di lipatan tangan gue.
"So-sorry, gue gak bermaksud bentak," lirih gue.
Mereka bertiga lebih dulu saling tatap, kemudian Glacier berkata,
"Emosimu lagi gak stabil, kan? Itu wajar kalo kamu sampe ninggiin suara," ujarnya.
Tapi gue gak jawab samsek, keburu malu banget. Kapan terakhir kali gue bersuara tinggi kayak tadi? Oh waktu gue SMP.
Lalu Gentar kembali angkat suara.
"Kalo lu gak keberatan, lu mau gak cerita tentang diri lu?"
Gue tersentap kecil dengernya. Gue mengangkat kepala lagi dan menatap Gentar, yang ditatap pula sedang ngusap tengkuknya canggung.
"Soalnya gue kan baru masuk lagi hari ini, jadi gue ketinggalan banyak gitu. Yang lain udah tau, gue doang yang nggak," katanya.
"Yang lain juga belum tau."
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanficGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
