87 - Ngapain Hayo

451 66 15
                                        

Pendek cerita selesai makan-makan, gue, temen-temen dan para abang ngumpul di parkiran Moen-moen cuma buat ngobrol bentar sebelum pada balik ke rumah masing-masing.

"Kak Duri nih yang habis sakit siapa yang makan paling banyak siapa." Sori cemberut.

"Kamu juga samanya, Sori. Makanmu banyak tadi," kata Sopan.

"Perutmu kan baru sembuh, makanya jadi kalah tanding," ujar Kak Rimba.

"Lambung Kakak aja yang agak laen. Dari dulu Kakak mulu yang menang," ketus Sori.

Karenanya Kak Rimba menjulurkan lidahnya centil sambil pasang pose jari peace dan kedip satu mata.

"Semuanya udah puas, kan? Bilang terimakasih ke Abang Halilintar gih," ujar Bang Beliung.

Tiba-tiba badan Bang Hali tampak merinding kecil.

"Geli anjir," celetuknya.

"Apa? Oh..."

Lalu Bang Beliung berpose seolah lagi memegang mikrofon.

"Bang Hali banyak uang, orangnya yang dermawan asek asek joss!"

Pake joget pula.

"Bang, recehnya Bang." Ini lagi Kak Blaze ikut-ikutan.

Bug!

"Anj-!"

Bang Beliung dan Kak Blaze merintih bersamaan kala kedua kepala mereka saling dihantuk oleh Bang Hali.

"Kakak lu berdua?" tanya Kak Ice pada Bang Solar dan Sopan.

"Kembar lu juga tuh," celetuk Bang Solar, sementara Sopan cuma nutup setengah mukanya pake kipas.

"Hali," tegur Bang Gempa.

Bang Hali pula cuma berdecak. Gak tau ya, gue ngerasa aja kayak pernah di posisinya Bang Hali. Gue ngelirik Gentar dan Sori. Paham-pahamlah, ya.

"Kak Hali," panggil Glacier dan Sopan barengan.

Mereka berdua nyamperin Bang Hali dan berucap, "terimakasih buat traktirannya."

Bang Hali mengerjap. Gak lama kemudian yang lain, kecuali gue, ikut ngedeketin dia.

"Makasih, Kak," ucap Frostfire.

"Tengkyu loh," ucap Gentar.

"Sering-sering kek gini ya, Kak. Traktiran Kakak enak-enak." Ini kata Sori.

Bang Hali kincep, tapi gue ngeh dia habis tersentap. Lalu dia malingin muka dengan kepala sedikit tertunduk.

"Minta sendiri ke Abang lu pada lah," ujarnya.

Entah ada yang sadar juga atau enggak, telinga Bang Hali memerah samar. Gue mengerjap heran. Bisa tuh Bang Hali malu. Tapi wajarlah, dia masih manusia berperasaan,

dikit.

"Lu gak mau ngucapin juga?" Bang Solar nyerocos.

Gue melirik ke arahnya sebentar, terus balik liatin Bang Hali.

"Gak perlu," kata gue. Walau gitu gue ikut nyamperin.

Ngeh ada gue, Bang Hali noleh. Sejenak kita hanya saling tatap sampe gue ambil langkah meluk dia. Yang di belakang kedengeran habis tarik nafas kaget. Entah kalau komuk mereka gimana.

Gue terperanjat ketika badan gue didekap. Gue mendongak buat liat Abang, dia pula ngeliatin gue. Gak ada semburat merah di telinga atau wajahnya, cuma tatapan lurus yang biasa dia tunjukkan, hanya aja ada sedikit kesuraman di sana.

Setelah pelukan kami lepas, Bang Hali berbalik ngebelakangin gue. Dari balik bahunya dia melirik gue.

"Lu balik duluan bareng Sopan, Taufan sama bensin. Pake aja mobil gue," ujarnya melempar kunci mobil ke gue lalu berjalan pergi.

Reboot! Not RibutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang