79 - Kembali ke Laptop

538 89 27
                                        

Lu pada tau senganga apa gue pas dengerin cerita Pak Boy?

Ada kali selebar Slendrina.

Canda. Jelek amat gue kalau bener gitu.

Intinya permasalahan mereka berawal dari kesalahpahaman karena Pak Boy dihasut setan. Padahal gue gak begitu kenal orang ini, tapi kok gue malah meragukan ceritanya, ya?

"Saya gak yakin," ucap gue membuat Pak Boy mengerjap penasaran.

"Kenapa, tuh?"

"Masa iya Bapak langsung percaya gitu aja sama hasutannya?"

Pak Boy ber-oh lalu terkekeh dan menjawab, "ya enggaklah. Walau ya rasanya kayak antara logikaku sama logika dia tuh kecampur, tapi masih bisa sempet waras, kok."

Sempet katanya. Mana dia thumbs up ke gue pula.

"Setelah kelulusan pun, ah- keinget lagi deh, wkwk. Itu adalah pesta kelulusan terburuk yang pernah kudapat. Dipertontonkan komplotan kanibal memakan para siswa seangkatanku, cuma iblis yang gak bakal mual ngeliatnya. Mirisnya akulah iblis itu,"

Pak Boy menghela nafas. "Saat itu Retak'ka masih belum bisa mengambil kendali penuh tubuhku. Padahal aku udah merasa mau menang darinya, sampai mereka bertujuh..."

Pak Boy mengepalkan tangannya dan gak melanjutkan perkataannya lagi.

Kurang lebih gue paham maksudnya. Ceritanya tadi ada benernya juga, harus ada pemicu yang dapat memancing kebencian Pak Boy kepada sirkel Bang Hali. Kronologi kematian adiknya Pak Boy masih bisa dicerna dengan akal sehat. Situasi saat itu tidak memungkinkan untuk menuduh sirkel Bang Hali sebagai yang salah, jadi hanya amarah Pak Boy saja yang bisa langsung terpancing.

Puncaknya adalah ketika konflik mereka bertujuh dimulai.

"Supra," panggil Kak Boy.

"Kuyakin kamu dan temen-temenmu gak kebetulan bisa barengan milih buat sekolah di sini," ujarnya.

Njir diingetin lagi. Tapi perasaan udah pernah gue spill deh alesannya. Wes lupa kali.

"Setau saya dari kata mereka juga, mereka mah setuju-setuju aja sekolah di sini. Kalau case saya, boro-boro pengen, abang saya yang main daftarin. Katanya sekalian mintol bujuk Bapak," jawab gue.

Mulut Pak Boy terbuka seperti akan mengatakan sesuatu, tapi gak jadi. Dia rapatkan mulutnya lagi untuk mengukir senyum.

"Kasian ditumbalin."

Panah imajiner jleb nusuk ke dada gue. Bangke banget asbunnya itu, mana bener lagi.

Gue membenarkan kacamata gue yang sedikit merosot, lalu balik liat Kak Boy. Wajahnya yang menghadap ke langit membuat senyumnya semakin cerah diterpa sinar matahari. Dia terlihat bahagia sampe bikin gue ikut tersenyum dikit. Bukan gue mau, bibir gue gerak sendiri.

"Saya bilang juga apa. Mereka masih mikirin Bapak," ujar gue.

"Haha, iya iya. Kali ini aku mendengarkan," kata Pak Boy.

"Omong-omong kayaknya aku udah tau kita ada di mana," lanjutnya.

Gue mengerjap. Menyadari gue kebingungan, Pak Boy pun menunjuk ke arah gue, atau lebih tepatnya ke tangan gue. Gue menunduk untuk melihatnya. Sentapan kecil gue rasakan usai ngeh tangan gue jadi transparan, begitu juga dengan kaki.

"Bangun, gih. Kasian yang nungguin kamu udah jamuran kali."

Oh, gue konek sekarang. Jadi selama ini kami berada di alam bawah sadar punya gue. Dari kaki sampai lingkar pinggang gue mulai menghilang. Apa ini bermaksud gue lagi berproses buat bangun?

Reboot! Not RibutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang