Dikagumi karena kewibawaannya, disegani karena ketegasannya, disukai karena kebaikannya. Semua itu bukan menjadi yang paling dibanggakannya, melainkan kedua sahabatnya.
Berkawan sejak lama hingga menjenjang sekolah menengah akhir. Ibarat mereka definisi dari kata sahabat, segala hal telah mereka tempuh di kehidupan mereka. Jika dia boleh minta, dia mau menghabiskan masa hidupnya bersama mereka. Toh, dia tidak memiliki orang lain lagi selain kedua sahabatnya dan adiknya.
Kemudian usai mendapat empat kawan baru di SMA, prioritasnya bertambah, dan itu menjadikannya egois dan rakus.
Dia meminta untuk dirinya dan keenam kawannya terus bersama, maka dia akan melakukan segala cara agar dapat mempertahankannya.
Tidak masalah, kan? Selain dirinya, para sahabatnya juga merupakan orang-orang kesepian. Harusnya ini tidak apa-apa.
Sampai mereka terpecah belah sebab dua orang dari mereka harus lenyap dari hadapan,
dan itu karena pilihannya sendiri.
.
.
Balik lagi ke pov gue ges yak.
Juga balik lagi gue dan Kak Adudu di lorong bawah tanah terujung dari ruang OSIS. Lagi-lagi berhadapan dengan bingkai besar dengan foto siswa yang gue dan bahkan Kak Adudu pun gak kenal. Tapi kalau lebih diteliti lagi, muka siswa itu nyaris mirip dengan muka si Kepsek.
Begitu Kak Adudu menarik lagi foto bingkai itu, kita dihadapkan lagi dengan pintu kecil misterius tersebut.
Kak Adudu noleh ke gue, "lu yakin perhitungan lu bener buat buka ini?"
Gue ngangguk, "coba dulu, Kak."
"Sip."
Gue mendesah pelan, lalu gue keluarin buku nota dari dalam saku kemeja. Gue buka halaman yang berisi coretan itung-itungan gue kemaren. Kak Adudu bersiul ketika liat isi buku nota gue.
"Niat banget sampe segitunya," kritiknya.
"Woiya dong. Apa sih yang nggak buat dapetin harta karun," ujar gue.
"Ck rahasia adalah harta ya..," gumam Kak Adudu sambil menyeringai, gue juga ikutan.
Kita mulai ketawa kecil sampai menjadi gahar. Lamaan dikit, Kak Adudu berhenti duluan.
"Udah heh. Buruan buka!"
Gue sontak berhenti juga. Sebelum itu gue nyengir dulu, baru gue mulai memasukkan sandi ke alat tersebut. Ketika gue akan memasukkan angka terakhir, kita sama-sama berkeringat dingin.
Tit. Cklek.
Gue cengo, Kak Adudu apalagi.
"Sandinya bener woy!"
"Bisaan! Hebat juga lu met!"
Terus lengan gue ditabok Kak Adudu. Gue meringis kecil. Seneng sih seneng, tapi gak usah pake tabok juga kali. Mumpung mood kita lagi baek, gue milih diemin aja.
Kak Adudu buru-buru buka pintu kecil itu. Dia pun memeriksa bagian dalamnya.
"Gimana, Kak?"
Kak Adudu mendengus, "ck gue kira ada sesuatu di dalem, taunya cuma lift barang."
Mendengar itu pun gue jadi ikut penasaran mau liat dalemnya, dan bener ternyata cuma lift barang. Di pojok kanan lift terdapat tombol merah yang bisa jadi adalah tombol untuk menaikkan liftnya.
"Mungkin aja liftnya bisa ngebawa kita ke suatu tempat rahasia," ujar gue.
"Hmm ide bagus. Jadi siapa yang mau naik duluan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanfictionGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
