38 - Kok Gue Ditampar?!

1K 214 31
                                        

Mereka langsung kincep setelah apa yang gue omongin di bab sebelumnya. Gue gak kaget, secara itu pemikiran yang paling masuk akal bagi gue. Gue menilik ke arah rak itu lagi. Kalau diteliti lebih jelas, prestasi-prestasi itu gak didapat dari sekolah maupun tempat turnamen lain, melainkan dari SMA Monsta itu sendiri.

"Sebenernya gak aneh kalau ada siswa yang mendapat prestasi dari sekolahnya sendiri. Tapi dengan prestasi sebanyak ini, gak mungkin mereka gak dijadikan perwakilan sekolah untuk mengikuti kompetisi di tempat lain," jelas Glacier.

"Jadi maksudnya, sekolah ini gak pernah terkoneksi dengan sekolah lain?" tanya gue.

"Dalam kompetisi meraih prestasi mungkin iya. Beda lagi kalo ada tawuran, siswa di sini jadi back-up nya siswa dari sekolah lain," jawab Gentar.

Masalah tawuran keknya lu yang paling tau ya, Gen.

"Tapi, Sup, kenapa lu bisa kepikiran kayak tadi?" tanya Frostfire.

Gue beralih ke dia dan menjawab, "gue cuma ngerasa terlalu kebetulan, dah gitu mereka juga sesirkel. Lagipula, abang kedua gue sebelumnya bukan dari yang dihormati."

Kemudian gue mendesah pelan. Sebenernya gue udah capek mikir tapi masih penasaran. Ruangan ini juga lama-lama mulai menggelap, mungkin karena sore sudah semakin larut.

"Anying, udah mau malem cok! Habislah gue bakal dicurigain Bang Gem lagi," cerocos Gentar panik.

"Kalau gitu sekarang kita pulang. Besok hari minggu libur, jadi manfaatkan waktu besok untuk full istirahat," ujar Glacier.

"Nggih Ndoro."

Yang ngomong kayak tadi si Frostfire. Niatnya sih bercanda, tapi malah kena smackdown sama kembarannya sendiri.

Gue dan yang lain pura-pura dongo aja biar dicap gak ikutan.

PRANG!

Kita semua terlonjak kaget mendengar ada suatu benda terjatuh dan menyebabkan suara yang agak keras. Begitu kita terfokus pada dimana benda tersebut jatuh, kita menemukan Sori yang sedang memegang kepalanya sambil nyengir.

"Waduh. Hehe, sorry ges. Nyenggol dikit," ucapnya.

"Gundul lu haha hehe. Gue lagi panik kepikiran abang gue, lu malah nambah beban pikiran gue," kata Gentar lalu pundung di pojokan rak.

Lalu Sori dengan watadosnya nyamperin Gentar sambil nepok-nepok punggungnya dan bilang "cup cup" gitu.

Sementara yang lain masih coba menetralkan rasa kaget mereka, gue balik cari benda apa dan dimana benda tadi terjatuh. Ternyata di dekat Sori berdiri tadi, ada sebuah kotak yang terbuka sehingga isinya keluar berceceran. Gue samperin kotak itu dan berlutut untuk mengambilnya. Helaan nafas lega terhembus.

"Gak ada yang rusak, Gen. Tinggal dirapikan dan-"

Tiba-tiba gue terpaku pada benda yang merupakan isi yang keluar dari kotak tadi. Delapan pin yang terlihat seperti emblem. Ada yang berbentuk petir, angin topan, daun, dan sebagainya, bahkan ada yang berbentuk huruf B.

"Supra?" panggil Sopan, gue pun menoleh padanya.

"Ada apa? Daritadi diam terus."

Ah ya, yang lain udah mau pulang. Sebelum berdiri gak lupa delapan pin emblem tadi gue ambil dan kantongin, lalu kotaknya gue letakkan lagi di tempatnya semula. Kami pun bergegas pergi dari ruangan itu lewat jendela lagi.

.

.

"Sup, minta tolong pliss."

Gue yang lagi coba nyalain mesin motor gue pun noleh ke Gentar, begitu pula dengan Sopan.

Reboot! Not RibutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang