Sorry telat dikit, ges. Baru balik dari tempat yang gak kejangkau sinyal wkwk.
Btw di bawah nanti baca dulu pengumumanku, ya.
Met baca!
.
.
SMA Monsta beberapa tahun lalu. Di suasana pagi sudah disuguhkan kedatangan para murid yang baru sampai di sekolah. Di antara siswa-siswa tersebut, seseorang menganga mulutnya lebar karena menguap. Segera orang lain di sampingnya menutup mulut orang itu.
"Nguap tuh ditutup. Keselek debu aja baru tau rasa," ujar yang menutup. Dialah Gempa.
Sedangkan yang menguap, Taufan, nyengir sambil mengusap ujung matanya yang basah.
"Hehe, keburu mangap, Gem," ucapnya.
"Fan,"
"Ya? Hok-"
Baru saja Taufan menoleh, sebuah roti tiba-tiba disumbat ke mulutnya.
"Makan tuh mangap."
"Fuh! Kampret lu, Lin," misuh Taufan usai roti tadi terlepas.
"Eh tapi thanks, loh. Buat gue, kan? Tau aja gue belum nyarap," lanjutnya.
Si pemberi roti gak memberi komentar apapun, malah dia membuka roti yang lain untuk dia makan sendiri. Dialah Halilintar.
"Hari ini ada planning?" tanya Taufan mulai makan rotinya juga.
Gempa angkat bahu dan menjawab, "Kak Boy belum nge-info sejak mulai ujian akhir semester minggu kemarin. Seharusnya kita gak bakal ngapa-ngapain dulu buat sementara waktu."
"Iya ya. Eh lu pada ada remedial, gak?" tanya Taufan.
"Enggak/Gak ada kok," jawab Halilintar dan Gempa barengan.
Seketika itu juga Taufan mundung deket pohon gak jauh dari tempat mereka.
"Ngapain tuh?"
Halilintar dan Gempa dibuat terlonjak kecil begitu sadar ada Blaze dan Ice di belakang mereka.
Gempa tersenyum, "pagi Blaze, Ice," sapanya.
"Pagi," jawab si kembar.
Sepasang tangan menggenggam kedua baju Blaze. Mereka agak kaget melihat Taufan yang tadinya lagi mundung tiba-tiba muncul depan mata.
"Lu, ada remedial, gak?" tanya Taufan dengan tatapan penuh harap pada Blaze.
"Eh? Oh, ada sih."
Jawaban Blaze seketika membuat wajah Taufan berseri-seri. Rangkulan diberikannya pada Blaze sambil dia mengusak-usak rambutnya.
"Emang cuman lu doang sohib gue yang gak sombong. Suka, deh," ujar Taufan.
"Apaan?! Gelay, nyet!" pekik Blaze sambil mencoba lepas.
Halilintar, Gempa, dan Ice sampai dibuat sweatdrop melihat kelakuan mereka.
"Ayo, Gem," ajak Halilintar mulai memisahkan diri.
Gempa tadinya mau bilang tunggu biar bareng, tapi keburu jauh orangnya, jadi dia pun menyusul usai memberitahu Taufan kalau dia dan Halilintar duluan masuk.
"Lu gak bareng Cahaya?" tanya Ice.
Sekarang Taufan bertigaan dengan Blaze dan Ice. Mereka baru saja menaiki tangga menuju lantai dua.
"Dah duluan dia. Katanya hari ini piket," jawab Taufan.
"Barusan kita ngelewatin kelasnya gak ada liat si Cahaya perasaan," ujar Blaze.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanfictionGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
