81 - Pada Zaman Dahulu (1)

521 80 29
                                        

Sorry for the delay.

Cek aja papan pengumuman kalau mau tau kenapa kemaren gak ada update-an, ya.

.

.

Keesokan paginya, kabar tentang bangunnya gue udah kesebar ke temen-temen. Sekarang kamar gue penuh gegara mereka. Ada Frostfire, Glacier, Sori, Gentar dan Sopan. Gue sebut kunjungan mereka ini kayak permainan boneka bambu, alias gak ngabarin.

Bayangin aja gue belum bangun malah dikagetin suara pintu dibuka kenceng tanpa diketuk dulu, terus ada yang teriak,

"Supra! Kita dateng jenguk, loh!"

Itu si Sori.

Gue jadi kebangun dengan gak etisnya.

"Huh?"

"Halo, Supra. Gimana kabarmu?" tanya Glacier.

"Hah?"

"Bisa-bisanya kamu masih mau bernafas di dunia yang lagi pilkas-pilkasnya," kata Sori.

"He?"

"Lu daritadi hah heh hoh mulu ngapa dah?" tanya Frostfire.

Gue masih setengah tidur bangsat.

Kemudian mereka sepak-sepik bentar sampe gue sadar total. Ngomongin luka guelah, kapan gue bisa pulanglah, kampretnya ada yang nanya rasanya kegeprek pegimana.

Itu si Gentar.

"Eh sambil mabar sabilah, ya." Sori ngide.

"Mabar apaan? Ep ep?" tanya Gentar.

"Gue?" tanya Frostfire nunjuk dirinya sendiri.

"Bukan elu."

Melihat adanya salah paham, Sori berdecak sambil menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan-kiri.

"Bukan mabar main, tapi makan bareng," jelasnya.

Gentar dan Frostfire pun ber-oh. Begitu semuanya setuju, akhirnya sama Sopan dipesenin gopud dah tuh. Selagi nunggu, Frostfire nawarin buat main kartu.

Karena gue males ceritain proses mainnya, jadi gue persingkat aja.

"UNO game," ucap gue.

Taulah, ya.

"Bejirlah. Karbit juga lu, Sup," kata Gentar.

"Lagi hoki kali," jawab gue.

"Nge-game begini aja kamu hoki terus, giliran di sekolah jadi orang terapes mulu," kata Sori.

Bisa gak tuh mulut jangan bener mulu ngomongnya?

"Justru yang sering apes itu, kan, hero-nya. Apalagi yang ngalahin last boss si Supra, kata gue sih wajar-wajar aja," imbuh Frostfire.

"Gundul lu wajar," protes gue.

"Gak gundul, tuh, gue masih berambut."

Gak gitu konsepnya.

"Namanya kecelakaan bukan sesuatu yang diwajarkan, Frost," ujar Glacier. Yang dikasih paham pula nyengir.

"Di anime biasanya gitu," kata Frostfire.

"Ih wibu," sindir Sori. "Rekomennya atuh."

Yeu samanya.

Di tengah obrolan kecil tadi, tau-tau Sopan udah mengeluarkan kartu terakhirnya.

"UNO game," ucap Sopan, kemudian dengan anggunly dia menyeruput tehnya.

Sebelumya Sopan juga menuangkan teh untuk kami berenam, tapi baru Sopan yang minum sampai nambah tiga cangkir.

Reboot! Not RibutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang