Ges sumpil, kulupa kalo kemaren itu hari Jum'at astagaa😇.
Telat sehari ngaruh gak ya? Yang penting masih bisa update hwhw.
Seperti biasa, author kambek dengan chapter panjang. Mangat bacanya!
.
.
Malam harinya sesudah gue nyampe di rumah beberapa menit yang lalu.
"Ckck cius deh, Sup, lu beneran cuma ditampar doang?" tanya Bang Mari sambil ngolesin salep ke pipi gue yang bengkak.
"Kenapa emang? Aduh."
"Ya pikirlah, nih bekas gak kayak habis ditampar, malah kayak ditonjok. Lu nantang pegulat?"
"Jidat lu. Tapi, dia udah minta maaf."
Kemudian Bang Mari hanya ber-oh tepat dia selesai mengoleskan salep. Awalnya mau gue lakuin sendiri, tapi begitu bekas tamparan di pipi gue kesentuh dikit, denyut sakitnya gak main-main bikin tangan gue gemeteran. Jadilah gue minta tolong Bang Mari.
Tentang gue yang tiba-tiba ditampar Bang Gempa tadi, gue masih bingung kenapa dia melakukannya, bahkan setelah itu dia seperti baru sadar lalu meminta maaf.
.
.
"SUPRA!"
Bang Gempa berteriak histeris melihat gue tersungkur di lantai. Gentar dan Sopan masih membeku di tempat karena terkejut dengan tamparan tadi. Kuat banget sialan, sampe suara plak-nya bisa kali kedengeran sampe luar kafe.
Gue bangkit terduduk di lantai, bersamaan dengan Bang Gempa berlutut di depan gue dengan raut wajah cemas.
Ekspresi murkanya tadi menghilang seperti tak pernah dia tunjukkan.
"Maaf, maaf, kamu gak papa? Abang kuat banget, ya?"
Pake nanya.
Kesel sih, secara gue gak tau apa-apa malah diperlakukan begini, tapi masa iya gue ngomong kek tadi di saat Bang Gempa sedang menatap gue khawatir sekarang?
"I-iya Bang, g-gak papa."
Anjir! Tamparannya ngaruh sampe rahang gue. Ngilu banget pas ngomong.
Sopan nyamperin gue lalu menarik tangan gue untuk merangkulnya. Kemudian dia nolongin gue berdiri.
"Bisa berdiri?" tanya Sopan.
Gue mengangguk dan pelan-pelan Sopan melepaskan rangkulan gue darinya.
"Kenapa, Bang? Kumat lagi?" tanya Gentar pada abangnya.
Yang ditanya menggeleng, atensi cemasnya masih ia tunjukkan pada gue. Dia kembali mendekati gue, lalu dia menarik telapak tangan gue dan menaruh sesuatu di sana.
"Maaf, Abang gak bermaksud. Ini kukembalikan," ucap Bang Gempa.
Tangannya dia tarik balik, kemudian gue melihat benda yang dikembalikannya itu. Pin emblem petir merah yang gak sengaja jatuh tadi.
"Aku gak tau gimana kamu menemukan itu, tapi pastinya..." Bang Gempa menoleh ke arah Gentar.
Entah seperti apa Bang Gempa ngeliat Gentar. Yang dilihat nampak ketar-ketir. Gak lama kemudian, Bang Gempa balik ngeliat gue.
"Kumohon, maafkan Abang untuk tadi, dan maafkan Abang untuk ini,"
"Gentar gak akan bisa bertemu kalian buat sementara waktu."
.
.
Gue naik ke lantai atas niatnya pergi ke kamar. Ketika gue melewati pintu kamar Bang Solar yang kebuka dikit, gue berhenti. Sebelumnya Bang Mari udah ngomong pas gue baru nyampe, kalo Ibu udah tidur duluan. Mau gue tutupin, tapi kepo juga kenapa pintunya kebuka, jadi gue mau ngintip bentar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanfictionGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
