Sejak helikopter itu lewat, Sopan kelihatan murung. Selama boncengan dia hanya menatap kosong ke aspal jalan. Ya bukan berarti dia biasanya cerewet di sepanjang perjalanan pulang berangkat bareng gue sebelumnya, dia diem tapi diemnya gak semuram ini.
Bahkan setelah sampai di rumah pun dia belum menyuarakan apapun selain ucapan salam, lalu dia langsung melengos pergi ke atas sesudah salim pada Ibu dan Bang Mari. Mereka melihat gue penasaran, tapi gue cuma angkat bahu gak paham.
Gue inget sebelumnya Sopan sempat menyebut "Kakak" setelah helikopter yang kita liat di parkiran terbang menjauh. Apa maksudnya? Kakaknya kan ada yang menjadi korban tewas dan hi-
... Jadi maksudnya, tadi itu dia ngeliat kakaknya yang hilang?
Masa sih? Kalau iya, berarti itu hal yang bagus buat Sopan. Tapi buat apa kakaknya itu naik helikopter?
Gue kudu periksa keadaan Sopan dulu.
Usai gue berganti pakaian, gue otw datengin Sopan di kamar Bang Hali. Tanpa mengetuk gue langsung nyelonong masuk. Gak usah protes, kamar abang gue ini. Baru aja masuk gue diperlihatkan Sopan yang lagi duduk meringkuk di atas kasur sambil mantengin buku di depannya.
Gue mengerjap, buat pertama kalinya gue liat Sopan bisa segalau ini. At least gue deketin dia dan dia pun sadar kehadiran gue. Meski sesaat, gue merasa Sopan terganggu sama kedatangan gue, lalu perasaan itu hilang ketika Sopan tersenyum.
"Oh Supra. Ada apa?" tanyanya.
Gue menggelengkan kepala.
"Lu ok?"
Dia terkekeh sebentar dan menjawab, "entahlah."
Tangannya bergerak menggulir halaman berikutnya dari buku itu. Begitu gue ikut liat isinya, gue tercekat, ternyata yang sedang diliat Sopan itu buku album.
Dan isi album itu sama kayak yang diberikan Bang Hali ke gue waktu itu.
"Album itu punya lu?" tanya gue.
Dia menggeleng, "bukan. Ini punya Kak Upan."
"Hah sape?"
"Kakak pertamaku."
Tunggu, mungkin yang dimaksud Sopan itu Taufan Gumilar ya, tapi dipanggil Upan. Lucu juga.
"Itu dikasih?"
"Nemu. Sebenarnya ada dua, satu lagi punya kakak keduaku, tapi aku gak menemukannya."
Denger dia ngomong gitu gue jadi penasaran, Bang Solar juga punya album kek gini gak, ya.
"Supra,"
Tiba-tiba dia manggil gue, dan gue cuma mendeham.
"Apa boleh aku berharap?"
Gue mengerjap, "maksud lu?"
"Tentang helikopter yang kita lihat tadi, kamu pasti dengar apa yang kuucapkan."
Gue terdiam sejenak, kemudian hanya anggukkan yang gue beri.
"Sekilas aku lihat wajah orang di dalam sana, terlihat mirip, tapi setelah kurenungi lagi, aku takut tadi itu hanya salah lihat karena jarak helikopter yang jauh."
Ah dari sini gue dapet poinnya. Meski masih abu-abu, seseorang yang berada di dalam helikopter saat itu telah memberi Sopan secercah harapan.
"Lu boleh berharap."
Ucapan gue sontak membuat Sopan melihat gue dengan mata terbelalak. Kemudian dia mendengus sambil mengukir senyum yang biasa ia perlihatkan.
"Aku gak nyangka kamu bakal jawab begitu. Padahal aku mau lihat bagaimana kamu menghentikanku," ujarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
Hayran KurguGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
