Iya aku tau, aku sempet ngilang tanpa kabar, hehe...
Kena writer block :')
But now I'm good. Ku coba pelan-pelan buat kondusif lagi updatenya, juga terimakasih banyak buat yang masih mau nungguin nih cerita lanjut!
.
.
Edan,
Gak waras.
Atau sejak awal dia emang udah segila ini?
Gue gak bisa gerak. Bisa sebenernya, tapi kalo gue begitu, Sori bakal dibuat makin kesakitan.
Kepalan tangan gue mengerat. Deretan gigi gue gemeletuk. Kenapa, rasanya gue gak berdaya di situasi begini? Kenapa pikiran gue nge-blank di saat begini?
"Lepaskan itu dari Sori, bangsat!"
Gue gak menoleh, tapi gue tau itu teriakan marah dari Frostfire. Gimana dia masih bisa berteriak seperti itu, sementara suara gue rasanya kayak ketahan untuk keluar?
"Baiklah," ucap Sopan, "dengan ini terhitung aku yang menang. Jadi kalian, jangan ganggu urusanku," tambahnya.
Kemudian dia melepas cokmar itu dari perut Sori. Dia melempar cokmar itu ke sembarang arah, lalu berbalik pergi menuju belakang panggung.
Di kesempatan itu setidaknya Sopan gak bakal menyerang, makanya gue bergegas nyamperin badan Sori. Gue berlutut dan mulai ngobservasi dia. Wajah pucat gak sadarkan diri, masih bernafas dan nadi karotisnya berdenyut meski lemah, deru nafasnya yang gak teratur karena kesakitan.
Gue menatapnya sendu, dan bersalah.
"Maaf, Sori," lirih gue.
Lu pada tau? Kayaknya gue mulai paham. Dibandingkan dengan rasa waspada gue pada perempuan, yang ini lebih nyelekit. Gue gak sadar kapan ini bermulai.
Gue, gak mau kawan gue kenapa-napa.
Tiba-tiba ada angin gak enak berhembus walau cuma sekelibat. Gue baru inget ada yang harus lebih dikhawatirkan dari ini.
Gue mendongak melihat ke arah panggung. Lalu secara reflek, gue bangun dan berlari menuju belakang panggung.
"Sopan!" Terlambat. Gue terbelalak hebat.
Peti itu dirusaknya.
Kalau aja dia gak noleh, mungkin gue bakal ngira kalo gue neriakin orang yang salah. Tapi nyatanya dialah Sopan, sepupu gue yang budiman, dan sekarang gue bingung dia masih bisa disebut budiman apa engga.
Rambunya memutih, padahal masih seumuran gue. Dia noleh ke gue dengan raut muka kaget, tapi gak lama kemudian dia bikin semirik.
Senyum gak biasa kalo kata gue. Soalnya Sopan kalo senyum, kayak lagi make topeng, tapi gak jahat. Sedangkan yang ini bikin gue seakan lagi berhadapan dengan pak Kepsek.
Atau lebih tepatnya, gue berhadapan dengan seseorang yang juga merasuki Pak Reverse.
"Supra," panggilnya.
"Sudah kubilang jangan ganggu urusanku, kan?"
Gue mengernyit. "Kalau itu tentang menjatuhkan sekolah, gue gak yakin."
"Kenapa begitu?"
"Karena lu bukan Sopan. Lu orang yang sama yang sudah memengaruhi murid bernama Boboiboy beberapa tahun lalu."
Kekehan terdengar darinya. Anjirlah. Kalau udah begini, sama aja dengan mengulang kasus lama. Seinget gue Sopan bilang dia hanya melihat isi data kedelapan emblem. Wajar dia gak tau kalau peti itu...
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
Hayran KurguGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
