Sopan pov
Kenapa, rasanya sulit untuk percaya dengan orang lain?
Apa karena aku yang naif, atau mereka yang lebih pintar menyembunyikan kebenarannya?
Bahkan aku jadi meragukan kakak-kakakku sendiri. Bukti yang tertera seolah berkata untuk tidak mudah percaya pada siapapun yang menghuni SMA Monsta.
Tempat ini penuh dengan pembohong. Mirisnya, aku adalah salah satunya. Membohongi yang lain demi mencapai tujuanku di sini.
Tidak...
Aku bukan satu-satunya yang berbohong di antara mereka.
Kedua tanganku mengepal kala mengingatnya lagi, betapa aku kecewa karena Kak Cahaya tak benar-benar menghilang, melainkan meninggalkanku untuk keluarga lain.
Kenapa? Padahal aku kemari untuk mencari tahu tentang keberadaanmu, Kak.
"Sopan."
Aku menoleh ke belakang dan mendapati Sori telah kembali. Aku mengernyit melihat gelagatnya. Tsk, pada akhirnya dia tahu Kakaknya mati tertimpa reruntuhan kapal, usai ikut menonton video dari chip yang kita curi. Bagaimana bisa dia terlihat sesantai itu?
"Mereka?" tanyaku.
"Babak belur," jawabnya.
"Jadi, next kamu mau melakukan apa?" lanjutnya bertanya.
Sejenak aku hanya diam, lalu aku berbalik menghadap peti yang sebelumnya sedang kuteliti. Peti ini berada di belakang panggung gimnasium. Siapapun yang menemukannya pasti akan mengira itu hanya sebuah properti, namun peliknya ini gak bisa dibuka.
Heh tentu saja untuk melindungi apa yang ada di dalamnya, dan itu harus segera dimusnahkan.
Ketika uluran tanganku tinggal seinci dari peti, tiba-tiba ada seruan dari arah belakang mencoba menghentikanku. Aku dan Sori berbalik.
"Pergi! Jangan sentuh peti itu!"
Kita berdua terbelalak kaget. Dia... Kak Gempa? Sejak kapan dan bagaimana dia bisa ada di sini??
.
.
Sebelumnya...
Gempa menjalani pekerjaannya seperti biasa. Hari ini kafe gak terlalu ramai jadi dia bisa sedikit santai. Saat dia tengah mengelap beberapa gelas yang basah usai dia basuh, terdengar suara lonceng pintu yang artinya ada pelanggan baru datang.
Gempa menunda dulu kegiatan mengelapnya untuk menyapa si pelanggan dari meja barista. Awalnya Gempa gak menyadarinya. Namun saat pelanggan itu sedikit mengangkat kepalanya yang tertutup kupluk hoodie, barulah Gempa mengenali orang itu.
Usai pesanan si pelanggan jadi, Gempa menghampiri mejanya dan meletakkan pesanannya itu.
"Ada yang ingin saya bicarakan. Duduklah di sini jika sudah luang," ucap si pelanggan, yaitu Reverse.
Sebetulnya Gempa segan, tapi dia juga tak bisa menolaknya, dan tentu saja dia langsung duduk di kursi di seberang meja Reverse karena sudah luang.
"Kupikir segera aku akan mendapatkan wadah baru," ujar Reverse.
Gempa tertegun. Jika Reverse sudah menggunakan panggilan aku-kau, maka hal buruk akan terjadi.
"Maksudmu? Kau bahkan belum lama menggunakan yang sekarang," kata Gempa.
Reverse hanya tersenyum sambil mengangkat bahu bomat. Coklat panas pesanannya dia minum, kemudian dia bicara lagi.
"Aku juga gak expect bakal dapet lebih cepet dari yang kukira. Namun, ada maksud lain aku memberitahumu ini."
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanficGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
