55 - Merah Jadi Coklat

1.1K 193 57
                                        

Supra pov

"Beraninya kau dan kakakmu merubah identitasnya dan menjauhkannya dariku, adik kandungnya!"

Gue tersentak hebat. Woy lah plot twist apalagi ini buset, tapi kali ini lebih f*ckin shocked.

Sopan terengah-engah setelah membentak. Sebelumnya, dia tiba-tiba bilang kalau Bang Solar adalah kakak keduanya yang hilang dan namanya adalah Cahaya Gumilar. Tapi kok iso? Sedangkan dari gue kecil, gue udah bareng sama kedua abang gue.

"Maksud lu apa ngaku-ngaku nyet?!" bentak gue.

"Kamu yang ngaku-ngaku!" balas Sopan.

"DIA ABANG GUE YA SETAN!"

"BUKAN! DIA KAKAKKU!"

"BACOT LU PADA GOBLOK!"

Gue dan Sopan spontan menoleh ke arah Gentar yang barusan ikut-ikutan ngebentak. Dia terlihat marah banget.

"Sekarang bukan waktunya ngedebatin abang kalian!" geramnya, lalu dia menatap Sopan.

"Sopan! Gue yakin lu pasti tau konsekuensi dari perbuatan lu. Lu ninggalin kita demi dendam lu, namun suatu saat nanti, lu bakal termakan dendam lu sendiri," Gentar mulai melangkah ke arah Sopan.

"Kalo lu pernah denger kalimat ini, "penyesalan dateng di akhir", lebih baik lu berhenti sekarang selagi kita masih mau nerima elu."

Begitu Gentar sudah dekat dengannya, dia menepuk kedua pundak Sopan.

"Masih ada kesempatan buat balik ke kita," ucapnya.

Namun Sopan hanya diam sambil menunduk. Gentar geram, kedua tangannya mengepal pelan di pundak Sopan. Sepertinya akan sulit untuk membuat Sopan paham.

Swush.

Gue terbelalak. "Awas!"

Segera gue bergerak cepat ke arah Gentar dan mendorongnya jauh karena ada Sori yang kembali mengayunkan senjatanya dari samping. Sopan juga cekatan menghindar dari kena imbas serangan itu.

Gue dan Gentar cepat-cepat bangkit usai tersungkur lalu melihat Sopan dan Sori.

"Kalian orang-orang beruntung, cuma bisa berisik," decak Sopan.

Kemudian dia berjalan menuju pintu. Melihat itu Kak Adudu dan Kak Gilang mencoba untuk menghalang mereka, tapi perlawanan balas dari Sori berhasil menyingkirkan mereka.

Sopan menoleh tanpa berbalik, dia berkata, "jika kalian ingin segitunya bertarung dengan kami, maka temuilah kami di pertarungan yang sesungguhnya nanti."

Setelahnya dia dan Sori keluar dari ruangan ini. Gue menatap geram ke arah pintu, lalu gue melihat ke arah Frostfire yang sedang coba menggendong tubuh Glacier. Gue bergegas menghampirinya, begitu juga dengan Gentar, kami membantu Frostfire mengangkat tubuh Glacier ke gendongannya.

"Lukanya harus langsung ditangani di rumah sakit. Biar gue bantu bawa kalian ke sana naik motor," ujar gue.

"Gak papa, Sup, gue telfon om gue aja. Lu sama yang lain susulin Sopan sama Sori dan hentikan mereka," ujar Frostfire.

"Gak! Lebih cepet kita nyampe di rumah sakit, lebih cepet Glacier dapet penanganan. Lagian ada Gentar, Kak Adudu, dan Kak Gilang yang bisa susul mereka." Gue dianggukki Gentar.

Tanpa banyak pikir lagi, Frostfire mengiyakan saran gue. Selagi Gentar dengan kedua kakel mengawasi Sopan dan Sori, gue dan Frostfire cepet-cepet ke parkiran lalu pergi dari lingkungan sekolah.

.

.

Sebuah mobil berhenti di depan kediaman Adhikara. Siapa lagi kalau bukan dua tertua yang pulang sehari lebih cepat dari yang dikabarkan. Mereka telah ditunggu oleh Kuputeri dan Maripos yang selama tiga bulan ini menjaga rumah dan si bungsu. Raut muka mereka gak meyakinkan.

Reboot! Not RibutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang