Udah lewat 3 hari sejak saat itu, tapi belum ada kabar lebih lanjut tentang kondisi Pak Boy. Bahkan para abang tampak sunyi. Gak ada satupun dari mereka membahasnya, atau mungkin ada mereka bahas tapi enggak di depan gue maupun temen-temen gue.
Sekarang ini gue, Frostfire dan Glacier berada di kamar Sori buat jenguk. Sori lagi merajuk sehabis cerita dia dilarang untuk makan makanan selain makanan rumah sakit.
"Lagian kemaren pake acara pura-pura. Kalau emang gak kuat, jangan dihabiskan nasi gorengnya," tukas Glacier.
Sori jadi manyun dengernya. "Atuh ih bosen, dikasihnya sayur bening terus," keluhnya.
"Biar cepet sehat lagi," ujar Frostfire.
Gue daritadi nyimak aja obrolan mereka. Masih kepikiran perihal Pak Boy. Gue inget di hari yang sama begitu gue kabarin Bang Hali, gue bisa ngeh intonasi cemasnya dan temen-temennya. Lalu setelah mereka datang, fokus mereka terus terpaku pada pintu ruang IGD. Gue dan Sopan juga sempet ditanyai, tapi kita menjawab gak tau.
Dan juga gue kena siraman rohaninya Bang Hali gegara keluar kamar gak ijin dulu.
Kesampingkan itu, padahal pada kunjungan pertama Pak Boy ke kamar gue dulu, dia nampak sehat-sehat aja meski dia sudah harus menggunakan kursi roda sebagai alat bantu jalan.
Sebuah tepukan pada bahu bikin gue tersadar seketika. Gue menoleh ke Sori yang tadi menepuk gue.
"Bengongin apa, sih? Kita panggilin daritadi juga," tanyanya.
Gue mengerjap. Gue gak sadar udah melamun terlalu dalam sampai gak mendengarkan sekitar. Si kembar pula mulai liatin gue khawatir.
"Lu gak papa, Sup?" tanya Frostfire memastikan.
Gue menggeleng, "cuma kepikiran hal yang bukan urusan gue."
"Apa tuh?"
"Ada aja."
Setelahnya gak ada yang bertanya lebih lanjut.
Sampai sebuah petir imajiner nyambar gue, lalu gue ngeliat Sori lagi. Kalau gue inget-inget lagi saat Kak Rimba datang menyeretnya balik ke kamarnya, Frostfire dan Gentar ada mengatakan sesuatu.
'Padahal saat kita jemput ke kamarnya, dia keliatan baik-baik aja.'
'Sampe sekarang pun masih pinter dia nipu kita.'
Bahkan Pak Boy juga berbohong tentang kondisinya. Tapi saat dia menunjukkan letak gue menusuk dadanya dulu, jelas tidak ada luka di sana.
"Lirikan matamu menarik hati~"
Si Sori nyanyi gara-gara gue udah terlalu lama natepin dia.
"Gue gebuk, nih."
"Jangan, dong. Kita sama-sama sakit nanti tambah sakit," ujar Sori.
Kemudian pintu kamar terbuka dan nampaklah Kak Rimba masuk bersama Bang Gempa mendorong kursinya.
"Halo kalian," sapa Kak Rimba pada gue dan si kembar. Kita bertiga pula membalas sapanya.
"Kalau kamu butuh apa-apa, telpon aja ya, Duri." Bang Gempa berujar pada Kak Rimba.
"Oke!"
Setelah itu Bang Gempa tersenyum pada kita-kita sebelum dia melangkah keluar.
"Yang lainnya maaf, boleh keluar dulu juga? Aku mau ngurus Sori dulu," ujar Kak Rimba.
"Oh boleh, Kak. Kalau begitu ketemu lagi nanti, Sori," ucap Frostfire.
Sori mengangguk senang. "Makasih ya udah dateng jenguk!" ucapnya.
Kemudian gue, Frostfire dan Glacier turut keluar dari kamar Sori. Kita gak langsung balik ke kamar masing-masing, malah kita bertiga berjalan menuju lobi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanfictionGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
