"Gws, Sup. Kapan-kapan gue jenguk lagi. Ngantri tapi, yak."
"Sans ae."
Lalu Gentar melambaikan tangannya sebelum pergi, gue juga melakukan hal yang sama. Sekarang kamar gue sepi lagi, tapi gak sepenuhnya gue sendirian. Sopan lagi ke toilet dan bilangnya bakal balik lagi. Kalau Frostfire nemenin Glacier balik ke kamar inapnya.
Gue lagi makan pisang sambil yutuban selagi nunggu Sopan balik. Beberapa lama kemudian, tuh bocah budiman dateng. Dia pun duduk di kursi samping kasur.
"Gak samperin kakak-kakak lu?" tanya gue usai matiin HP.
Sopan menggeleng dan menjawab, "nanti aja. Aku mau ngobrol sama kamu dulu, gak apa-apa?"
"Yaa gak papa lah."
"Kali aja kamu udah mau tidur siang."
"Kagak."
Sopan terkekeh pelan. "Agak sensitif sebenernya. Tapi kuharap kamu mengerti, soalnya ini terus mengganjal di hatiku."
Kedua alis gue naik karena penasaran kala mendengarnya.
"Ngomong aja," ujar gue.
Sopan mengangguk. Dia pun memulai obrolan dengan pertanyaan, "kenapa kamu bisa gak tau kalau Kak Cahaya bukan saudara kandungmu?"
Oh? Baru satu pertanyaan aja gue langsung paham arah pembicaraan ini.
"Lu berharap apa dari bocil yang masih bisa dibohongin? Gue yang waktu itu belum kenal yang namanya trust issue," jawab gue.
"Setidaknya ada rasa penasaran gitu. Kek kok tau-tau punya kakak lagi."
"Itu mah pasti ada."
"Gimana?"
Guenya inget-inget dulu. "Pernah gue tanya, kok bisa? Terus Bang Hali jawab Bang Solar itu sekolahnya di luar kota terus nginep di rumah nenek, makanya gak kenal gegara belum pernah ketemu. Gitu."
"Ohh. Lalu..."
Tiba-tiba aja yang tadinya alur pembicaraannya santai berubah jadi agak tegang. Senyum yang tadi gue lihat darinya menghilang. Sekarang dia tampak serius.
"Kalau kuminta kakakku kembali, apa kau mau mengembalikannya?" tanyanya.
Nah kan, diungkit lagi.
"Itu di luar kendali gue. Yang mutusin bikin pemindahan kakak lu ke keluarga gue, kan, Bang Hali sama Bang Beliung," jawab gue.
Sopan ngangguk lagi. "Kalau semisal mereka minta keputusan kita tentang Kak Cahaya, maumu apa?"
Pake nanya. Maunya gue ya balik jadi bertiga lagi, tapi apa daya faktanya udah manteng di depan mata.
Sejak lahir gue cuma sodaraan berdua sama Bang Hali.
"Lu takut banget bakal gue rebut, ya," celetuk gue.
Eh dianya ngangguk. Beneran takut dong dia.
"Aelah kagak bejir," keluh gue, "gue gak sebrengsek itu buah nahan orang yang masih punya keluarganya sendiri. Kan udah gue bilang, lu mau kakak lu ya ambillah."
Sopan pun terdiam mendengarnya. Gue ngeh kedua tangannya mengepal di atas paha, lalu ada tetesan air jatuh mengenai punggung tangannya. Begitu gue liat mukanya, bejir, anak orang nangis, cok.
"Lu- anjir, ngapain nangis heh."
Tutor tenangin orang, ges.
Sopan menggeleng kepalanya pelan, kemudian dia mencoba menyeka air matanya walau dia terus terisak. Akhirnya gak berhenti tuh ngalir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanfictionGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
