37 - Hasil Usaha

951 224 46
                                        

Kita sepakat untuk memulai penyelidikan usai ujian tengah semester. Kok lama? Takut bentrok sama waktu belajar. Walau begitu, masih ada beberapa di antara kita yang mencari petunjuk kecil agar tak memakan waktu lama di hari-H penyelidikan.

So I'll skip half two months later.

Selesai seminggu penuh ujian, inilah harinya. Infonya sih mau ketemuan di belakang gedung kiri sewaktu pulsek. Sekarang gue lagi otw ke sana.

Btw sebelumnya Gentar yang minta-mintain nomor kita untuk info-infoan di grup.

Sesampainya gue di tempat janjian, di sana yang gue liat udah nyampe baru Sori dan Sopan. Kalo Frostfire sama Glacier udah ngomong ke gue katanya mau ke beli makan dulu, lah ini tumben yang biasanya CS-an malah kurang personil. Mana yang telat yang ngusulin buat ketemuan di sini.

"Sup iga! Sini sini!" panggil Sori.

Ngajak berantem ni anak setan atu.

"Lu kalo dah males idup bilang aja, Ri."

"Udah lama males. Gara-gara kakakku aja aku masih bertahan."

Lah kok gelap?

Setelahnya gue milih diem, takut topiknya makin ke sana makin ke sini. Baru diem bentar gue diajak ngobrol lagi.

"Sup, aku bingung deh, maksud kamu ribut sekolah ini apa? Kamu mau ngajak berantem pihak sekolah?" tanya Sori.

Gue mengernyit, "kapan gue bilang?"

"Waktu kita konferensi meja kotak di perpus."

"Reboot! Bukan ribut."

"Lah bedanya? Kedengerannya sama tuh."

"Kayak nama kamu." Si Sopan nimbrung sambil nutup setengah mukanya pake kipas.

Btw Sopan ngapain bawa-bawa kipas segala?

"Sori dan Sorry. Sama, kan?" kata Sopan.

Gue ngangguk setuju.

"Reboot yang gue maksud itu sebuah istilah yang umumnya digunakan untuk sistem elektronik, yaitu menghapus dan memulai ulang sebuah sistem. Makanya sekolah ini akan cocok dengan istilah itu,"

"Setelah kita memecahkan misteri sekolah dan menyelesaikan masalah yang dibuat saudara kita dulu, kita akan melakukan reboot pada sistem sekolah yang sekarang dengan sistem normal sekolah pada umumnya."

Sori mengerjap mendengar penjelasan gue, lalu dia mengapit dagunya dengan kedua jarinya.

"Terdengar seperti kau ingin mempertahankan sekolah ini," katanya.

"Emang harusnya begitu, kan?"

Meski samar, gue tau dia habis mendengus di balik muka bingung polosnya yang sedang dia tunjukkan.

"Bukannya lebih gampang kalo kita buat sekolah ini diban?" tanyanya.

Gue juga pernah kepikiran gitu sih, tapi...

"Abang gue gak bakal suka itu."

"Hee~"

Gue terlonjak kaget begitu Sori tiba-tiba udah ada di depan muka gue deket banget. Sok-sokan lagi menilik gue.

"Abangmu sus."

"Sus apaan anjer?!"

"Pasti," ucap Sopan.

Gue dan Sori pun spontan noleh ke dia. Sopan memiringkan sedikit kepalanya sambil melihat bingung ke kita.

"Bukankah gak adil kalau sekolah ini harus dipertahankan, sedangkan sistemnya sudah banyak memakan korban sejak dulu. Bagaimana kata mereka yang pernah menjadi korban sistem abnormal sekolah ini?"

Reboot! Not RibutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang