Sebelumnya...
Supra pov
"Udah selesai, kah?"
Gila, sih. Gue sampe speechless buat komen. Pertama dan terakhir kalinya pengalaman gue nusuk orang pake sajam. Gue cek bekas tusuk di dada si Kepsek, gak tau kek mana pedang yang menancap di sana sebelumnya menghilang, kerennya lagi tidak ada luka tusuk melainkan hanya pakaiannya yang berlubang. Rambut putihnya juga berubah jadi coklat.
Dia gak sadarkan diri, tapi denyut nadi dan hembusan nafasnya masih ada meski lemah. Dia sekarat.
"Supra."
Gue noleh liat Sopan nyamperin. Dia menanyakan kondisi gue, ya gue jawab aman aja. Begitu juga gue menanyakan dirinya secara sebelumnya dia habis dicekik kenceng.
"Siapa itu?" Kali ini Sopan menanyakan orang pingsan deket gue ini.
Lah bejir masa iya kagak kenal gegara beda warna rambut. Muka mah masih setelan awal.
Ya udah gue jawab aja. "Kepsek."
"He? Tapi kayak ada yang beda."
"Waktu lu kesurupan juga jadi beruban, Pan."
"Em iya, sih." Sopan meraba rambutnya sendiri. "Berarti, kita berhasil?"
Gue diem sejenak. Kalo diliat-liat ya harusnya udah berhasil, tapi gak tau kenapa gue malah meragukannya.
"Mungkin," jawab gue.
Gak lama kemudian kita dikejutkan oleh getaran tanah yang lumayan kencang. Gue tersentak. Njir salah ngomong gue, harusnya gue jawab iya aja tanpa ragu. Jadi ngundang masalah baru lagi, kan.
"Gempa!" seru Sopan.
Gempa dalam artian beneran bencana alam maksudnya.
Apa mungkin berhubungan dengan kondisi Pak Boy sekarang? Bukan berarti gue gak ngakuin mulut gue masin, tapi secara kebetulan nyambung aja situasinya.
"Pan, bantu gue bawa Pak Kepsek," ujar gue.
Awalnya dia natep gue kek, seriusan? But still dia tolong angkut. Dia bopong di sebelah kanan sementara gue kiri. Karena perbedaan tinggi dan berat badan membuat kami agak susah kalo bawa dia sambil lari, mana bahu gue juga lagi luka, kan.
"Supra mundur!" sentak Sopan.
Kaget dikit, gue segera berhenti dan mundur. Bener aja. Baru mau belok ke lorong lain, kami malah dijatuhkan runtuhan tembok yang memblokir satu-satunya jalan keluar kami.
"Sial," cibir gue.
"Kalaupun kita lewat jalan lain, yaitu lewat pintu yang mengarah ke lapangan basket, tapi aku gak yakin kita punya cukup waktu untuk ke sana," jelas Sopan.
Dia benar, pintu itu ada di ujung lain lorong ini. Dengan situasi kita yang gak memungkinkan lari yang ada keburu kejatuhan puing lain. Baik gue dan Sopan sama-sama mencari cara, dan di situlah gue sadar kita berada dekat dengan ruang kelas.
"Kita bisa lewat sana," ujar gue.
Sopan menoleh ke arah yang tengah gue liat, lalu dia balik liat gue sambil mengernyit.
"Tapi gak seharusnya kita di dalam ruangan saat gempa, bukan?" tanya Sopan.
"Lu mau selamat apa kagak? Jangan banyak bacot dulu kalo gitu," tukas gue.
Sopan menghela nafasnya pasrah, dia pun mengangguk. Kita bertiga masuk ke dalam ruang kelas tersebut. Nice, kayak yang gue pikirkan. Gue minta Sopan pegangin Pak Boy bentar selagi gue mendekati jendela. Segera dia paham alasan gue buat milih masuk sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanfictionGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
