82 - Pada Zaman Dahulu (2)

457 85 24
                                        

Memang benar ada yang berniat ingin mencelakainya, bahkan sekarang dia mendapat surat ancaman jika tidak datang ke tempat yang diperintahkan dalam kurun waktu yang ditentukan, mereka gak akan segan untuk mengganggunya lebih parah.

Retak'ka berdecak membaca tiap deretan kata di atas kertas itu, kemudian dia meremuknya lalu membuangnya ke segala arah.

Ah dia jadi teringat saat awal dia ingin diajari bela diri oleh dua kakak kelas yang lagi trending di sekolahnya itu. Banyak sekali aturan yang harus ditaatinya demi bisa mempelajari setiap gerakannya.

Salah satunya yaitu untuk menegakkan keadilan.

"Keadilan?" Dirinya bermonolog.

"Perbuatan orang-orang hina yang bisa saja merenggut nyawa, harus dibalas dengan defense yang membuat mereka tetap hidup,"

"Keadilan itu, emang kayak gitu?"

Kedua matanya terbelalak penuh amarah. Pemikiran itu membuatnya terpancing untuk berbuat hal tercela.

Sekolah adalah neraka bagi mereka yang lemah.

Sebelum Retak'ka melancarkan aksinya, dia sudah memprediksi jikalau dirinya akan terciduk orang lain. Retak'ka memasuki ruang kepala sekolah yang mana ruangan itu sedang kosong karena Kepala Sekolah tidak datang hari ini. Dia mulai merakit bom yang sudah lama sekali ingin dia lakukan.

Dia sudah muak dengan KEADILAN di semua tempat bernama sekolah.

"Apa? Kalian bilang aku boleh melakukannya untuk melindungi diri. Lihat saja,"

"Mereka duluan yang mulai!"

"Sialan...!"

Melihat amarah Kasa yang membuatnya terbawa ingin melawan namun ditahan oleh Aba bikin Retak'ka menyunggingkan senyum miris.

Gak ada yang namanya keadilan bagi korban.

Selalu seperti itu.

"Kami gak akan mengabaikanmu kalau kau mau menghentikan kami. Perbuatanmu ini tetap harus dilaporkan. Ayo, Kasa."

Melihat kepergian Aba dan Kasa tidak membuatnya bergerak dari tempatnya.

Retak'ka menyeringai, "bukan gue yang bakal hentiin kalian."

Sementara itu, di tengah perjalanan mereka menuju ruang kepala sekolah, entah kenapa Kasa merasa gelisah. Bahkan setelah mereka sampai di depan pintu, bukannya menghilang, kegelisahannya malah bertambah.

Aba mengetuk pintu guna memeriksa keberadaan orang di dalam lebih dulu. Gak ada sahutan. Dia pun bergerak ingin membuka pintu, tapi Kasa tiba-tiba menghentikannya.

Aba mengernyit bingung. "Kenapa?" tanyanya.

Kasa menggeleng, "gak apa-apa, tapi biar gue aja yang buka."

"Lah?"

"Percaya aja. Feeling gue bilang gak beres soalnya."

Dibilang begitu Aba jadi mau gak mau harus ngalah, tapi memang sepertinya ada yang gak beres. Dia juga merasakannya.

Walau begitu, gak seharusnya Aba membiarkan Kasa yang membuka pintu tersebut.

Ketika Kasa sudah membuka pintunya sedikit, barulah dia sadar ada bahaya yang terpasang di gagangnya.

"ABA!"

Teriakkan Kasa mengagetkan Aba sampai membuatnya gak diberi sempat untuk mencerna apa yang terjadi. Kasa menendang Aba hingga terpelanting ke tembok, di saat bersamaan pula sebuah tekanan besar mendorongnya lagi bahkan sampai menghancurkan tembok di belakangnya.

Reboot! Not RibutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang