Sumpil cok. Siapa sangka!
Gue masih kaget perkara orang di dalam helikopter tadi. Antara mau percaya atau nggak, takut gue salah liat juga. Terus ini ada kotak dibungkus kayak paket main dilempar gitu aja lewat jendela. Padahal gue gak pesen apa-apa.
Nih kotak juga gak tertulis tertuju untuk siapa, tapi dilempar ke kamar gue. Buat gue apa? Tapi gak bahaya tah? Alhasil gue coba buka kotak paket itu sambil direkam pake handycam, takutnya itu bom kan rekamannya bisa jadi barang bukti tindak kriminal.
Gue buka paketnya sambil berkeringat dingin saking waspadanya. Ketika isinya mulai keliatan, gue menghela nafas lega, ternyata isinya cuma sebuah buku dan buku itu berhasil bikin gue terbelalak kaget. Yang gue dapatkan ini adalah buku album, dengan logo tanah dan nama Gempa Pamungkas.
.
.
Supra Pov
Tuh cewek ada masalah apa dah?
Gue baru aja nyampe di parkiran sekolah malah ketemu dia lagi duduk di atas motor gue.
Gak sopan banget.
Mana pas dia nyadar gue dateng, dia langsung turun dari motor terus lari ke arah gue. Tangan gue mengepal. Sial, gue gemeteran lagi.
"Et et! Gak boleh."
Gue mengerjap begitu Frostfire dan Glacier maju menghadang cewek itu dengan rentangan tangan mereka. Cewek itu pun reflek mundur sambil pasang raut kesal.
"Kalian apaan sih? Minggir!"
Gue berdecak, "lu siapa main duduk di motor gue?"
Se-waspadanya gue sama cewek, liat orang kayak dia bertingkah seenaknya sampe duduk di atas motor orang asing itu bikin gue kesel. Lagi-lagi cewek itu beralasan dengan pernyataan yang sama.
"Ya gak papa dong, aku kan pacar kamu. Aku nungguin kamu biar kita pulang bareng," katanya.
"Asal mbak tau, ya, Supra itu orang yang menjaga jarak dari perempuan. Kalo pun Supra lagi dekat atau ada hubungan khusus sama cewek, kita temen-temennya pasti tau duluan, terus mbak yang notabennya baru muncul batang hidungnya tiba-tiba ngeklaim Supra pacar mbak," ujar Glacier.
Jujur gue terharu dengerinnya, tapi situasinya lagi begini. Lagipula gue juga kurang ngerti gimana mengekspresikan rasa haru gue.
Cewek itu menghentakkan kakinya ke aspal, dia kesal. Kemudian dia merogoh isi tasnya lalu dikeluarkannya sebuah amplop yang disodorkan ke arah Glacier.
"Itu bukti. Baca!" titah cewek itu.
Glacier mengerjap melihat amplop itu tiba-tiba tersodor padanya. Namun daripada dia, Frostfire yang ngambil amplop itu dan membaca isi kertas suratnya. Kemudian dia noleh ke gue sambil nunjukkin kertas surat itu ke depan muka gue.
"Ini tulisan lu?" tanya Frostfire.
Ditanya begitu gue spontan baca suratnya. Ada dua macam tulisan di dalamnya, yang pertama tulisan si cewek tentang bagaimana dia konfes perasaannya ke gue, dan yang kedua adalah jawaban yang mengatakan ia menerima perasaan si cewek.
Gue menghembuskan nafas lega. Tulisan kedua itu bukan punya gue. Gue melirik dikit ke cewek itu, jangan-jangan ada orang yang ngisengin dia dengan bikin dia berpikir gue lah yang nulis jawabannya. Tapi untuk apa?
"Bener kan? Itu kamu ngasih aku jawaban loh," kata si cewek.
Miris, dia terus berharap gue iyain saat dia belum tau lagi kena tipu.
Gue masih belum jawab apa-apa, sampai terdengar suara langkah kaki dari arah belakang. Gue berbalik dan si kembar menoleh, ternyata ada Sopan dan Sori lagi jalan bareng ke arah kita.
Selagi mereka masih jauh, gue berbalik liat cewek itu lagi dan bilang, "siapapun itu yang nulis jawaban konfes lu, hajar aja, soalnya bukan gue yang nulis."
Frostfire dan Glacier ikut noleh ke cewek itu kala dia tersentak. Kertas surat tadi pun Frostfire kembalikan lagi padanya.
Sesudah Sopan dan Sori nyamperin, nampak Sopan ingin bertanya namun gue lebih dulu menyelanya.
"Dan lagi, gue pulang sama Sopan, sepupu gue." Gue memungkas.
Cewek itu mencemberutkan bibirnya. Dia melirik sinis ke arah Sopan, lalu dia mendengus sebelum akhirnya dia berbalik. Gue pikir dia bakal langsung pergi, tapi ternyata dia mengatakan sesuatu lebih dulu.
"Pasti gara-gara cewek itu."
Suaranya kecil, mungkin tuh cewek niatnya bergumam, tapi masih kedengaran sama gue bahkan yang lain.
"Awas aja, gue bakal buat perhitungan sama dia." Barulah dia melangkah pergi.
Entah cewek mana yang dia maksudkan tadi.
Akhirnya Sopan bertanya, "ada apa ini?"
Lalu dibantu jawab sama Frostfire.
"Cewek yang tadi ganggu lagi. Btw kalian darimana? Tiba-tiba pergi gitu aja dari UKS."
Mendengar itu gue dan Glacier pun melihat penasaran ke Sori dan Sopan. Yang lagi diliatin pula kayak orang habis kegep.
"Ta-tadi Sori ninggalin UKS duluan gak bilang-bilang. Pas sadar aku langsung keluar cari dia. Tau-tau dia ada di rumah kaca," jawab Sopan.
"Rumah kaca?" Alis gue naik sebelah.
Sori mengerjap, "kamu gak tau? Sekolah ini kan punya itu. Tapi ya wajar gak banyak yang tau, toh pas aku nemu tempatnya juga keliatan gak terawat."
"Terus kalo lu ngapain ke sana?" tanya Frostfire.
"Umm pengen aja. Di sana juga tempat biasa aku nongkrong," jawab Sori.
Entah ada yang sadar atau gue doang, gue ngerasa Sori lagi sedikit melow? Ah apa sih sebutannya, pokoknya kayak orang yang lagi kepikiran sesuatu cuma nutupin pake muka sehari-harinya.
"Eh kuylah kita balik. Supra tiati bawa motornya, lu masih panas dikit. Sori, lu bareng kita," ujar Frostfire.
"Eh kenapa begitu?"
"Supra bilang lu biasa pulang sama Gentar, tapi dia lagi gak bisa masuk, jadi paham-paham lah yak."
Sontak Sori liat ke gue dengan mata berbinar. Gue heran nih anak satu lagi kenapa. Tadi kerasa banget aura melownya, sekarang bersemangat lagi.
"Woah oke oke! Glacier, ayo pulang bareng!" seru Sori sambil tiba-tiba narik tangan Glacier.
"Eh pelan-pelan, Ri."
"Woelah gue yang ngajak juga!" protes Frostfire lalu berlari nyusul mereka berdua.
Begitu mereka makin menjauh, suasana area parkir terasa hening. Tinggal gue dan Sopan yang masih berdiri di situ. Gue pun ngajak Sopan buat nyamperin motor gue.
Saat gue akan menyalakan mesin motor, terdengar suara bising baling-baling dari arah atas. Gue mendongak melihat langit. Sopan ngeliat gue gitu pula ikut mendongakkan kepalanya. Ternyata hanya helikopter lewat. Untuk beberapa saat gue terfokus sama helikopter itu, soalnya jarang ada kendaraan udara itu lewat.
Usai itu menghilang di kejauhan, gue balik coba nyalain mesin motor. Baru aja mau nginjek starter, gue salfok sama ekspresi Sopan yang kayak dibuat kaget sama sesuatu. Ketika gue mau tanya, dia lebih dulu bersuara.
"Ka... kak?"
Gue mengernyit bingung. Kakak yang mana?
To be continued...
.
.
Trimakasih banyak untuk 3k votesnya! Author apresiasiin banget support kalian🙏🏻.
Saran dung, mau selebrasiin dengan ngadain QnA part 2 atau ToD nih? Yang mau ikutan yuk jawab.
See y'all later.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanfictionGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
