"Ini digeser aja apa gimana?" tanya Shielda.
"Geser aja kali. Kata kakak itu tadi juga bilangnya cuma digeser," ujar Nutt.
"Ya udah ayok," titah Sai mulai mendekati ujung tembok.
Nutt bengong bentar. Pandangannya teralih pada Ice yang sudah mereka bertiga pindahkan jadi bersandar di salah satu lemari rak. Sebenernya baik dia dan si kembar masih terheran-heran dengan yang terjadi pada Ice, tapi mereka tahu itu juga akan mengulur waktu. Toh mereka udah tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu bertanya lagi pada Ice.
"Oit!" Nutt tersentak. Dia melihat Shielda sudah bersama dengan Sai dan segera akan menggeser temboknya.
"Malah bengong," ketus Sai.
"Oh iya. Maaf maaf."
Usai disamperin Nutt, mereka bertiga pun mulai menggeser tembok tersebut. Tembok tersebut bisa dilipat saat dibuka seperti pintu garasi. Cukup sulit karena roda penggesernya sudah berkarat tebal, bahkan sampai mengeluarkan suara berdecit karena sudah lama gak digerakkan.
Saat temboknya udah kebuka dikit, bau tak sedap keluar dari balik sana. Sontak mereka berdua berhenti cuma untuk tutup hidung.
"Bau apaan ini anjir?" tanya Sai.
"Kayak bau tanah basah campur bangkai. Pekat banget pula," misuh Shielda.
Nutt juga terganggu oleh bau tersebut, namun atensinya gak sengaja menangkap sesuatu yang janggal ada di balik tembok ini.
"Ges, yuk dorong lagi," ujar Nutt.
"Gila lu? Baru kebuka dikit aja baunya udah kemana-mana ini," protes Sai.
Nutt menoleh pada Sai dan berkata, "lebih gila lagi kalau sesuatu yang bisa hentiin keabnormalan sekolah ini malah kita abaiin."
Tentu Sai gak bisa mengelak itu lagi. Memang itu tujuan mereka. Sai dan Shielda saling beri tatap lalu mengangguk, kemudian bersama Nutt mereka kembali menggeser tembok tersebut.
Gak sampai kebuka sepenuhnya tapi cukup untuk bisa melihat apa yang di dalam, yaitu seperti yang udah diberitahu sebelumnya.
Jeruji besi yang di dalamnya terdapat kasur dengan tubuh anak kecil yang di awetkan terbaring di sana.
.
.
"Jangan..."
Dahi gue mengernyit. Lah ngape nih orang tiba-tiba pasang muka marah? Yang pasti sih bukan hal yang bagus.
Dia mengangkat satu tangannya dan berteriak, "jangan dekati adikku!"
Brak!
Pintu ruang Kepsek didobrak oleh beberapa tubuh. Baik gue dan yang lain kaget liat para guru dan beberapa murid yang kita temuin gak sadarkan diri di beberapa tempat sebelumnya ada di sini. Mereka nyamperin kita dengan tergesa-gesa.
Gue melirik sinis si Kepsek. Apa ini? Katanya dia yang mau jadi lawannya.
"Jangan bengong heh!" tukas Gentar bikin gue tersentap dikit.
Gak tau dari kapan dia udah berdiri di depan gue dengan pentungannya siap buat nabokin orang-orang tadi. Dan bener aja, satu orang guru maju kayak mau nerkam si jamet, tapi keduluan dipentung kepalanya sampe bunyi "tung" gitu.
Kemudian dari arah samping gue dateng murid-murid yang mau nyerang. Bahkan gue ada liat satu orang bawa kursi yang kayaknya sih dia jadiin senjatanya. Buset sebegitunya.
Masih dengan sepasang kerambit di genggaman, gue juga ladenin mereka.
"Frost! Sopan!" Gue mau mastiin situasi mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanficGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
