Sementara para adik di dalam sedang menjenguk Supra, para abang di luar menunggu mereka. Gak semua, hanya ada Halilintar, Beliung, dan Gempa lagi duduk bareng di kursi taman depan rumah sakit.
Sedari tadi mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing tanpa ada obrolan sedikitpun. Pertama Halilintar yang asik merem sambil berlipat tangan depan dada tapi gak tidur, kemudian Beliung asik menyenandungkan sebuah lagu sambil nyeruput boba, lalu Gempa yang asik menatap gedung rumah sakit di depannya.
Karena Gempa yang duduk di tengah antara Halilintar dan Beliung, dialah yang paling merasakan canggung, apalagi dia duduk di sebelah orang yang pernah sangat membencinya.
"Lu pada nih kurang ngopi apa pegimana, dah? Tau gitu tadi pesen bobanya barengan aja," gerutu Beliung.
Dia sama gak nyamannya dengan kecanggungan antara mereka.
"Um emang mau ngobrolin apa?" tanya Gempa.
"Apa kek. Oh, atau mau denger gue yapping-in pacar gue?"
"Eh? Kamu udah punya pacar?"
Obrolan mereka berhasil membuat Halilintar membuka mata.
"Ada dong. Nih ya, dia tuh beuh cantiknya, multitalent juga. Bisa nyanyi, nge-rap, nge-dance, humoris-"
"Kamu lagi ngomongin cewek idol, ya."
"Iya."
Gempa pun terkekeh kikuk mendengarnya, sedangkan Halilintar sedikit nyesel udah melek mata cuma buat dengerin halunya Beliung. Mereka udah kenal tabiat teman biru mereka itu gimana, cuma kadang masih aja bisa kena penasarannya.
"Baru bisa ngumpul lagi kayak gini, vibesnya malah kayak balik lagi jadi orang baru kenal, ya," ucap Beliung tiba-tiba melow.
Yang mendengarnya gak merespon apapun, tapi jauh di dalam hati mereka juga merasakan hal yang sama. Hanya saja mereka gak tau cara meyuarakannya bagaimana. Untungnya sudah diwakili Beliung, karenanya mereka jadi sedikit terpancing.
"Jujur, aku belum biasa liat rambut kamu jadi warna biru gitu," kata Gempa.
Beliung nyengir, "gimana ya, Gem. Gue sama Duri gak mau terlibat dengan wartawan soalnya. Ini aja yang ngidein tuh ortu angkat gue," jelasnya.
"Oh iya, orangtua angkatmu apa kabar?"
"Baik, kok. Cuman emang gak ada di sini. Rumahnya aja di luar kota."
Gempa ber-oh mendengarnya. Halilintar? Dia nyimak, kok. Emang males keluar suara aja.
Sebab itulah Beliung jadi ngide mau jahil.
"Lin, Lin, tau gak?"
"Huh? Enggak."
"Kudu taulah."
"Kagak."
"Ya udah nih gue kasih tahu."
"Paan?"
Beliung gak langsung jawab, malah dia nampak merogoh kantong plastik bungkus bobanya.
"Nih." Kemudian dia menyodorkan gorengan tahu.
Gak salah harusnya, sih.
Alhasil Beliung dipiting Halilintar. Yang dipiting pula mulai memberontak minta lepas karena sakit dan gak bisa nafas. Gempa juga ikut bantu melerai mereka.
Sampai akhirnya Halilintar mau melepas Beliung.
"Lagian ada-ada aja," ujar Gempa.
"Ohok. Alin mah gitu, Gem. Nyiksa orang elit, ngobrol sulit," kata Beliung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanfictionGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
