"Lewat sini," ujar Ice.
Dia membawa mereka ke lorong bawah tanah dari ruang OSIS. Kalau kalian ingat Adudu, Gentar, dan Sopan pernah ke sana. Lega dia rasakan saat menemukan ada sedikit orang yang gak terpengaruh. Namun alih-alih mengungsikan mereka, Ice malah meminta mereka menemaninya ke suatu tempat.
Si kembar Sai dan Shielda nampak waspada terhadapnya. Meski begitu mereka tetap mengikutinya karena Nutt ikut. Dia bilang dia pernah melihat Ice di suatu tempat di sekolah ini saat melakukan penelitian dulu.
Pendek cerita mereka sampai di depan sebuah foto. Nutt, Sai, dan Shielda terpaku pada bingkai besar dengan foto seseorang yang sangat mereka kenal.
"Eh ini Pak Reverse, bukan?" tanya Nutt.
"Mirip. Tapi, warna rambut dan matanya berbeda," kata Shielda.
"Faktor U kali," cerocos Sai.
"Masih muda anjir."
Di tengah mereka ribut perkara foto, Ice mendekati sisi bingkai lalu menariknya seperti membukakan pintu. Usai melihat apa yang ada di baliknya, mereka bertiga terkesiap.
"Wih ada lift barang," seru Nutt.
Ice mengangguk. Kemudian dia menekan nomor-nomor yang mengunci pintu lift tersebut sampai berbunyi tanda terbuka.
Tau darimana anjir? Pertanyaan yang sama terbesit di benak Nutt, Sai, dan Shielda.
"Masuk satu-satu. Jangan lelet," titah Ice.
Mendengar itu membuat mereka mengesampingkan penasaran mereka tadi. Satu persatu mereka naik ke atas menggunakan lift barang tersebut, sampai Ice terakhir yang menggunakannya. Tibalah mereka di sebuah ruangan yang sama yang Gentar dan kawan-kawan kunjungi.
Nutt, Sai, dan Shielda terkesima melihat isi ruangan tersebut. Maunya mereka liat-liat bentar, tapi Ice lebih dulu meminta mereka untuk mengikutinya lagi.
Ice terdiam memandangi tembok kosong tanpa ada sesuatu menempel di sana. Mereka bertiga saling menatap bingung, nih orang ngapain liatin tembok? Sampai Ice berbalik menghadap mereka lalu berkata,
"Di balik sana ada sesuatu yang harus dimusnahkan. Itu kata kawanku."
Mendengar itu mereka bertiga pun tersentap.
"Apa ada hubungannya dengan hal tabu sekolah ini?" tanya Sai.
Ice mengangguk, "mudah saja, kita hanya perlu menggeser tembok ini," katanya sambil berbalik menghadap tembok lagi. Tangannya terulur untuk menyentuhnya.
"Padahal semudah ini, tapi kita malah mengulurnya dan akhirnya gagal," lirihnya.
"Kalo gitu tunggu apalagi. Ayo kita buka!" seru Nutt.
Ice hanya melirik dengan senyum tipis. Baru saja dia mau mengangguk lagi, tiba-tiba tubuhnya merasa sangat berat. Penglihatannya bergelombang dan mual menyerang perutnya. Ice pun limbung dan jatuh hingga mengejutkan mereka bertiga.
"Kak?!"
Mereka cepat-cepat mendekatinya. Suara mereka terus memanggilnya, tapi yang Ice dengar hanya suara samar yang lama-lama pudar seiring kesadarannya hilang.
.
.
Supra pov
Kalau kalian ngira gue ngajak dia gegara terpaksa, itu salah. Sekesel-keselnya gue, yang namanya tanggungjawab ya harus dikerjakan, mau bagaimana pun dia udah terlibat dalam investigasi.
Sopan keliatan agak kaget waktu gue ajak dia buat ikut masuk ke dalem sekolah. Dia ragu, gue tau. Bang Solar juga udah bantu yakinin dia biar ikut.
"Bener gak apa-apa?" tanyanya.
"Gak bakal gue ajak lu kalo ada apa-apa," jawab gue.
Dia mengetapkan bibir. Sebenernya gue mau tarik dia aja kayak yang gue lakuin di gimnasium tadi, cuma lagi ada Bang Solar.
Maksud gue, nanti kesannya kek gue kasar walau udah setelan pabriknya gitu. Gue gak mau dimusuhin dia.
"Bawa aja, Sup. Kelamaan loh nanti."
Gue kaget Bang Solar ngomong begitu, Sopan juga ikut kaget. Dia liatin Bang Solar kayak dia takut bakal bikin kesalahan lagi. Waktunya udah mepet juga. Mumpung udah diijinin, gue tarik Sopan keluar dari mobil. Bang Solar malah dadah-dadahan di dalem.
"Jangan sampe mokad, ya!"
Cangkeman.
Gue susulin yang lain dengan Sopan masih gue tarik. Dia udah nyamain langkah gue, tapi sempet gue longgarin dikit dia curi-curi kesempatan buat lepasin diri. Daripada kabur beneran mending gue peganging terus.
Gak ada yang komenin Sopan usai kita nimbrung. Lebih baik gitu, sih, sekarang bukan waktunya buat ngebacot. Ketika kita baru mau otw, Kak Rimba menyaut. Kita semua noleh dan mendapati dia menatap kosong pada kami.
Oh ya, pasti Sori udah dibawa kemari buat penanganan. Fak gue lupa buat jenguk.
Agak lama dia cuma diem liatin kita, sampai dia membuat senyum lebar dengan kedua mata ditutup dan kepala dimiringkan.
"Hati-hati!" ucapnya dengan intonasi ceria.
Gue tertegun liatnya. Ekspresi yang bisa dia ubah dengan mudah, kerasa kayak lagi liat Sori.
Ya iyalah anjir kakak adek.
Bang Solar datang nyamperin Kak Rimba. Dengan sekali tepukan Bang Solar berikan di punggungnya, Kak Rimba menoleh padanya.
"Ngapain di sini, Dur? Sori kamu tinggalin?"
"Eh enggak kok. Aku cuma mau bilang hati-hati ke mereka." Kak Rimba gelagapan.
Bang Solar pun bantu dorong kursi roda Kak Rimba balik ke mobil. Selagi itu gue dan yang lain lanjut pergi menuju gedung sekolah.
Setelah masuk, kita langsung disambut sama badan-badan para siswa yang tergeletak di lantai, kadang di beberapa tempat juga ada badan guru. Ya gue pikir gara-gara tadi lagi chaos, mereka capek berantem, jadi bobo bentar.
"Eh liat deh," Frostfire nunjuk ke salah satu badan siswa, "ujung jarinya transparan."
Oh iya anjir. Sejam lagi ini masalahnya. Lalu hal yang selanjutnya bikin kita kaget yaitu saat kuping kita semua berdengung dan gak lama kemudian terdengar suara.
'Tolong Abang di ruang Kepala Sekolah.'
Pesan singkat yang dapat langsung dipahami, karena yang punya suara itu Bang Hali tapi gak tau asli apa bukan. Gue gak pernah denger Bang Hali minta tolong buat diri sendiri soalnya.
"Lu denger gak, Sup?" tanya Gentar, gue anggukkin. Frostfire dan Sopan juga mengiyakan.
Sementara Kak Adudu, Yaya, dan Ying bingung maksudnya denger apa.
"Kayaknya ini tentang keluarga kita," gue noleh ke mereka bertiga, "Kak, Yaya, Ying, maaf. Gue cuma bisa ajak kalian sampe sini."
"Lah ngapa? Kita udah nanggung masuk sini, loh," protes Kak Adudu.
"Maaf, Kak. Masalahnya ini tentang abang-abang kita," kata Frostfire.
Kalo Yaya sama Ying keliatan sih mereka paham dan maklumin. Kak Adudu keliatan kesel tapi ditahan-tahan. Dia berdecih sambil buang muka.
"Terserahlah, tapi gue gak mau keluar dari sini," ujarnya. Kemudian dia sedikit melirik ke kita.
"Anggep aja backup."
Gue, Frostfire, Gentar, dan Sopan ngangguk kompak. Habis itu kita lari ninggalin sisanya yang gak kedapetan pesan batin tadi.
Tanpa adanya hambatan, di sinilah kami sekarang, di dalam ruang Kepala Sekolah yang gak tau emang seluas itu darisananya atau ada ilusi yang membuat kami melihatnya begitu.
Apa yang menunggu kita di ujung sana?
To be continued...
.
.
Kemaleman wkwk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanfictionGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
