Gue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya.
Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul.
Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini.
Abang-abang sialan!
.
.
Cerita ini murni hasil dari...
Gak tau gimana gue tiba-tiba bisa ada di rooftop sekolah. Seinget gue nih bangunan dah mau hancur. Gue lagi nyender di railing pembatas guna melihat kondisi gedung, anehnya yang gue dapati justru bangunan mulus dari retakan.
Gue jadi keinget sama cerita random tentang manusia yang dibawa ke alam gaib. Kepikiran aja. Soalnya hal terakhir yang gue inget setelah dorong Sopan dari jendela tuh gue kayak didekap erat sama asap dedemit saat tembok-tembok mulai runtuh. Gue gak mau percaya hal begituan malah gue dibikin ngalamin ini.
"Enak aja aku disebut dedemit."
ANJ-
Kaget gue kampret. Tiba-tiba aja ada orang di samping gue.
Tunggu,
"Pak Boy," sebutku.
Dia menoleh. Sinar matahari yang menerpa wajahnya, sosok yang melihat gue dengan senyum hangat itu terasa asing, tapi juga tidak. Selalunya yang sering gue liat darinya yaitu versi ubanan yang memiliki senyum ngeselin.
Tapi yang ini, walau hanya mengenal sekilas berkat sebuah foto, gue yakin,
sosok inilah yang akan menjadi bukti akhir misi gue.
"Maaf, ya," ucapnya.
Dia berbalik membelakangi railing lalu duduk di atasnya. Gue kaget dikit, ngeri jatuh. Sorot matanya sendu melihat ke sepatunya sendiri.
"Kalau saja aku mendengarkan mereka, kalian bakal punya kehidupan sekolah yang normal," lanjutnya.
Gue mengernyit, kurang tau dah masalah Pak Boy sama yang lain tuh ngapa. Gue balik nyender di railing melihat atap-atap rumah dan gedung nan jauh di sana. Daritadi gue merasa janggal tapi gak tau apa.
"Kita dimana?" tanya gue.
"Lah, di sekolah dong. Dimana lagi?" jawab Pak Boy.
Gue meliriknya dikit, "bener?"
Sejenak hanya ada bisu, sampai Pak Boy terkekeh kecil. "Enggak."
Tiba-tiba saja dia merubah posisi duduknya menjadi berdiri di atas railing. Gue spontan terbelalak kala liat dia merentangkan kedua tangannya.
"Coba cari tau." Dia pun menjatuhkan diri.
Tapi gue berhasil lebih dulu menangkap tangannya.
"Orang gila! Maksud lu apa?!" pekik gue.
Fak mana berat banget lagi anying. Yang lagi gelantungan malah nyantuy aja gue liat.
"Kamu tanya kita ada dimana, kan?" tanyanya.
Tangan satunya ikut memegang tangan gue yang nahan dia dari jatuh. Kedua kakinya bertumpu pada tembok lalu dia menarik gue buat IKUTAN JATOH.
Gubrak.
Gue diem,
Lah gak sakit.
Pelan-pelan gue buka mata dan liat dimana gue jatuh. Gue bangun buat duduk, tangan kiri gue meraba permukaan tanah. Masih tanah, tapi kok bisa badan gue gak sakit habis kehantam ini? Di samping gue Pak Boy baru aja duduk. Kepalanya agak tertunduk dengan mata terpejam.
Begitu dia buka, dia berkata, "kita udah mati."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.