66 - Double Up (2)

1.4K 179 124
                                        

Tim medis mulai menyibukkan diri dengan melakukan tindakan terhadap Sori di dalam mobil ambulans. Sementara itu di luar, tangisan Rimba meraung di dalam dekapan Solar. Dia sempat memberontak ingin ikut dalam tindakan, namun dilarang oleh perawat di sana.

Solar meringis melihat Rimba yang gak mau tenang sejak beberapa waktu yang lalu. Dia mengerti dengan apa yang dirasakan Rimba sekarang. Dulu dia pernah di posisinya, dan Rimba atau Duri pernah ada di posisi Sori.

"Dia pasti selamat, Duri. Lu denger EKG-nya nunjukkin masih ada detak, kan? Tenang ya," ujar Solar, tapi malah memperparah tangisan Rimba.

Solar mengerti ianya gak akan mudah. Dia seperti melihat dirinya sendiri pada Rimba, menangis untuk hal yang sama. Tapi begitu melihat hal sama tersebut bisa dia dapatkan kembali, dia percaya Rimba juga bisa mendapatkannya juga.

Di sisi lain masih ada Gempa dan Gentar. Mereka cukup terkejut sampai gak tahu mau bereaksi apa. Sebelumnya Solar sudah menjelaskan tentang Rimba.

.

.

"Kakak gak salah orang, dia emang Duri," kata Solar.

Ada rasa lega saat mendengarnya. Perhatiannya terpaku pada Rimba yang sedang memeluk tubuh lemah adiknya sebelum Sori dibawa masuk ke dalam mobil. Baru saja dia ingin tersenyum, lagi-lagi dia dibuat kaget oleh fakta lain.

"Dia selamat bersama Kak Taufan."

Gempa menoleh cepat dan terbelalak. Itu berarti gak hanya Halilintar, dia juga akan bertemu dengan kawan yang dia kira sudah mati.

"Kamu serius?" tanya Gempa, dan Solar menganggukkinya.

"Jadi Kakak gak salah," Solar tersenyum, "Kak Taufan masih hidup."

Sekilas ingatan buruk muncul di kepalanya. Gempa menunduk, kedua tangannya mengepal.

"Tetap saja..," lirihnya.

.

.

Hela nafas terdengar dari Gempa. Gentar menatapnya khawatir Gempa bakal kenapa-napa. Pasti abangnya itu sedang melankolis karena dipertemukan kembali dengan teman-temannya.

"Aku harusnya gak boleh begini."

Gentar mengerjap saat mendengar gumaman itu. Tak lama kemudian Gempa beranjak dari duduk.

"Mau kemana lu, Bang?"

Gempa menoleh pada adiknya itu dan menjawab, "bantu yang lain. Kamu di sini aja. Lukamu baru dijahit."

"Dih, Abang juga lagi sakit nekat pergi tuh."

"Sakitnya Abang gak membatasi gerak."

Gentar kincep. Mau kesel tapi ada benernya juga. Diam-diam dia ngumpat dalam hati biar gak diamuk abangnya.

Gempa tersenyum lalu mengelus kepala Gentar sebentar sebelum dia beranjak masuk ke dalam gedung sekolah lagi.

.

.

Supra pov

Sekuat-kuatnya dia hingga bisa banting gue ke tembok sampe hancur, dia memiliki titik buta yang gampang gue raih. Udah ke sekian kali gue berhasil ngebogem dia, tapi dia kayak gak kenal sakit sialan.

Di sana dia tersungkur, tapi gue tahu habis ini dia bakal ngeremehin gue.

"Ha- hahaha."

Nah kan.

Dia berdiri sambil memegang dadanya yang habis kena gores kerambit gue. Kemudian dia menjulurkan tangannya ke gue. Gue mengernyit bingung, dia ngapain? Sampai gue denger suara langkah kaki dari belakang. Gue berbalik dan tersentak.

Reboot! Not RibutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang