Berhalangan ternyata, wkwk. At least masih ada waktu kubisa update.
.
.
Derap langkahnya bergema di lorong yang tengah dia lewati. Di depan pintu berpapan tuliskan "Jangan Ganggu" dia berhenti, kemudian dia membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam. Bukan berarti dia melanggar perintah, hanya saja tulisan tadi bukan untuknya.
Di depan sana terdapat sebuah ranjang yang mana terbaring seorang pasien di atasnya. Banyaknya alat yang menempel pada tubuh pasien itu selalu membuat dia meringis tiap kali melihatnya. Didekatilah si pasien yang merupakan orang yang sudah tidak ada kabar selama 3 hari itu.
Pasien itu adalah Boboiboy, dan dia yang dimaksud adalah Gempa.
Kedua mata Boboiboy perlahan terbuka namun tidak sepenuhnya, lalu dia melirik ke arah Gempa.
"Pagi... Gempa," sapanya lemah.
Yang disapa gak langsung menjawab. Kedua tangannya mengepal kala mendengar suara tanpa semangat itu. Namun begitu, Gempa tetap menyunggingkan senyum untuknya.
"Pagi, Kak Boy," balasnya.
"Aku bawakan bubur cair buat kakak." Gempa merogoh isi totebag yang dibawanya untuk mengeluarkan mangkuk bubur yang didapatnya dari seorang perawat.
"Makasih, ya," ucap Boboiboy, "untungnya tubuh ini masih mau menerima makanan," lanjutnya terseyum sendu.
Tangan Gempa berhenti sejenak dari meletakkan mangkuk itu ke atas nakas. Dalam hati dia gak suka dengan yang Boboiboy katakan tadi. Tapi nyatanya dengan kondisinya yang seperti itu, ada sedikit saja makanan masuk sudah syukur.
Gempa menoleh ke arah Boboiboy masih dengan senyum di wajahnya.
"Pasti kemakanlah. Kan, aku yang suapin," ujarnya.
Setelah menaruh mangkuk tadi, Gempa lebih dulu memutar engkol agar headboard ranjang terangkat sehingga posisi Boboiboy menjadi duduk. Kemudian Gempa mengambil kursi untuk duduk di samping ranjang dan mulai menyuapi Boboiboy.
"Taufan dan yang lain mana?" tanya Boboiboy.
"Taufan, Halilintar dan Cahaya sedang mengurus sesuatu, Blaze dan Ice harus pergi kerja, dan Duri ada bersama Sori," jawab Gempa.
Boboiboy mangut-mangut. "Kamu sendiri gak kerja?"
"Kerja. Ada Gentar yang jagain kafe buat sebentar."
"Seharusnya kamu bantu dialah. Nanti Gentar kewalahan kalau tiba-tiba kafe rame."
Gempa berhenti menyendok buburnya. Kedua sudut bibirnya turun, dia gak lagi tersenyum.
"Lalu siapa yang bakal nemenin Kakak nanti?" tanya Gempa lirih.
Boboiboy mengerjap. Dia menunduk guna melihat tangannya yang disuntikkan infus. Rasanya dia menyayangkan kondisinya yang gak bisa untuk sekedar menghibur Gempa dengan elusan di kepalanya.
"Aku gak sendirian, Gempa," ucap Boboiboy.
Gempa melihat ke arah Boboiboy. Dapat dia lihat senyum samarnya dari balik masker nebulizer.
"Kuyakin kalaupun besok kamu gak bisa, masih ada Halilintar, Blaze, atau lainnya yang akan datang," ujar Boboiboy.
Gempa mengetapkan bibirnya yang bergetar. Dia sedang menahan tangis. Perkataan Boboiboy tadi membuatnya tak lagi memaksakan sebuah senyuman untuknya.
Boboiboy kembali memercayai mereka.
"Tentu. Kita pasti, akan datang," kata Gempa.
Boboiboy mengangguk. "Kutunggu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Reboot! Not Ribut
FanfictionGue muak ketika orang-orang bilang jangan lihat sesuatu cuma dari sampulnya. Di mana-mana yang namanya baru lihat pasti yang dilihat duluan ya sampul. Hidup mati gue dipertaruhkan di sekolah ini. Abang-abang sialan! . . Cerita ini murni hasil dari...
