72 - Gempa Beneran

624 105 61
                                        

Sepasang tirai mata itu perlahan kembali terbuka, dan hal pertama yang didapati Halilintar adalah sosok Beliung yang membungkuk di samping tubuhnya yang terbaring di lantai sembari tersenyum.

"Sahur, Bang," canda Beliung.

Halilintar tertanya dalam hati. Bagaimana dia masih bisa mengukir senyum cerahnya itu setelah apa yang telah menimpanya? Saking cerahnya,

mata Halilintar yang udah merah tambah merah kayaknya. Baru melek udah disenter cahaya ilahi apa gak sakit.

 Baru melek udah disenter cahaya ilahi apa gak sakit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gak seterang itu juga, sih.

Tangan kanan Beliung terulur ke arah Halilintar, disusul tangan lain yang datang dari arah lain. Halilintar menoleh dan mendapati empu tangan tersebut adalah Gempa. Sepasang mata emas itu menatapnya tulus ingin menolong.

Kapan terakhir kali mereka bertiga saling menautkan jemari?

Genggaman mereka yang ini, mereka pastikan akan ada kelanjutannya. Halilintar pun berdiri dengan bantuan Beliung dan Gempa. Kemudian dia sadar ada Gentar meledekinya dari belakang Gempa.

"Belakang lu," cepu Halilintar.

Gempa menoleh, tapi yang dilihatnya adalah Gentar yang lagi korek kuping pake kelingking. Diendus pula. Gempa balik natep halilintar sambil mengernyit bingung.

"Kenapa?" tanyanya.

Namun Halilintar hanya merotasi bola matanya.

Frostfire pula tengah bersama Blaze yang sedang melihat pemandangan tiga insan bersama sambil berkacak sebelah pinggang dan menyeringai bangga.

Kawan lama bersemi kembali.

Blaze bersiul, "rujuk nih ye."

"Maksud?" protes Halilintar.

"Nyelo elah. Btw nih," Blaze mengode mereka untuk melihat sekitar.

"Nyadar gak kalo kita bukan di tempat terakhir sebelum turu?" tanyanya.

Tentunya mereka sadar. Meski ada perbedaan yang besar, mereka tetap yakin ruangan ini adalah ruang kepala sekolah. Tapi sejak kapan jadi seluas lapangan bola basket begini?

Kemudian fokus mereka terpaku pada tubuh-tubuh manusia yang berserakan di lantai tidak sadarkan diri. Jumlah mereka yang berseragam sekolah lebih banyak dibanding mereka yang bersetelan smart casual.

"Wong edan. Perasaan dulu gak sampe begini amat ngelawan kita," keluh Blaze.

"Enak jaman kita toh?" tanya Beliung.

"Ndasmu."

"Kalian," Gempa memanggil, "lihat itu!" tunjuknya.

Atensi mereka pun beralih ke arah yang ditujukan Gempa. Kalau aja gak ditilik lebih lanjut, mereka gak bakal sadar dengan apa yang ada di antara lautan tubuh tersebut.

Reboot! Not RibutTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang