Tak terasa dua hari setelah kejadian Freya yang tiba tiba datang mengunjungi rumah Fiony, kini Fiony tengah berada di meja makan bersama Thommy, melakukan agenda makan pagi yang biasa di sebut orang orang dengan sarapan.
Fiony benar benar tidak tahu hal apa saja yang di bincangkan oleh Thommy dan Freya, namun dua hari belakangan ini sosok Thommy tidak seperti yang biasanya. Semenjak Thommy bertemu dengan Freya, Thommy kini tidak lagi terlalu memaksa Fiony untuk datang ke perusahaannya kecuali ada hal yang benar benar mendesak.
"Pi aku berangkat." Ucap Fiony lalu mencium tangan Thommy.
"Hati hati." Ucap Thommy.
"Iya." Fiony membuka pintu dan berjalan menemui pak Yanto. Ini papi beneran lupa aku melukis? Apa yang kamu perbuat Freya?
Tes, tes, tes, tes, tes, Byur!
Baru satu langkah Fiony keluar dari rumahnya, tiba tiba saja hujan deras turun membasahi ibu kota. Bau basah dari derasnya air hujan seketika memenuhi indra penciuman Fiony. Fiony menghela nafasnya, kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil payung kesayangan miliknya. Payung berukuran sedang dengan nuansa pink bercampur hitam, menjadi payung kebanggaan milik Fiony.
Entah apa yang akan terjadi hari ini, namun Fiony sudah memiliki firasat buruk tentang apa yang akan terjadi hari ini. Namun di balik firasat buruk nya, Fiony juga merasakan sesuatu yang membahagiakan akan datang kepadanya yang bahkan dirinya sendiri pun tidak tahu. Jika saja Fiony adalah cenayang, maka Fiony pasti akan menghilangkan kejadian buruk yang akan terjadi, sehingga Fiony hanya mendapatkan hal yang membahagiakan saja.
"Pak, anterin aku ke sekolah pak." Ucap Fiony.
"Oh siap non." Pak Yanto memberikan hormatnya kepada Fiony, lalu di bawah payung hitam pak Yanto berlari membukakan gerbang.
Fiony duduk di bangku teras menunggu pak Yanto menyiapkan mobil untuknya. Fiony sejujurnya bisa saja untuk berangkat sendiri menggunakan kendaraan pribadi miliknya yang sudah di berikan oleh Thommy. Namun Fiony masih belum di perbolehkan untuk membawa sendiri kendaraan tersebut, kecuali ada sosok Thommy ataupun pak Yanto yang mendampingi dirinya.
"Mari non." Pak Yanto dengan payung datang menghampiri Fiony.
"Maaf ya pak ngerepotin." Ucap Fiony.
"Alah, engga ngerepotin non. Non Fiony udah om anggap kayak anak sendiri kok." Ucap pak Yanto lalu berjalan memayungi Fiony sampai masuk ke mobil.
"Makasih ya pak." Fiony masuk ke dalam mobil.
Pak Yanto langsung menutup kan pintu mobil untuk Fiony, lalu berlari mengelilingi mobil sebelum akhirnya dia membuka pintu dan langsung menutup payung miliknya, masuk ke dalam mobil.
Hujan. Tidak ada kenangan bermakna bagi Fiony akan sebuah hujan. Hanya sebatas tetesan air yang terus menyerbu dengan cepat membasahi semua yang ada di bawahnya. Rentetan peluru kejam yang terbuat dari air yang terus-menerus menyerbu tanpa pandang bulu, yang terkadang itu adalah sebuah kenangan bagi mereka yang mempunyai makna sendiri akan sebuah hujan.
Padat lalu lintas tentu saja akan mereka temui. Derasnya hujan membuat aktivitas semua orang menjadi sedikit terhambat, sehingga membuat mereka yang memiliki kendaraan roda empat terpaksa mengeluarkan kendaraan mereka, sedangkan mereka yang hanya bermodalkan tekad dan niat hanya bisa menepikan kendaraan roda dua mereka di tepi jalan, dan berlindung dari kejamnya hujan.
"Makasih ya pak." Ucap Fiony.
"Iya non, sama sama." Balas pak Yanto lalu akhirnya Fiony keluar dari mobil dan langsung membentangkan payung miliknya.
Bunyi berisik payung yang beradu dengan hujan menjadi sebuah musik abstrak yang menghiasi telinga Fiony. Fiony terus menyusuri sekolah sampai, di saat pupil mata Fiony membesar ketika dirinya memfokuskan matanya pada tulisan XI IPA 1.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ingin Bertemu (Tamat)✅
RandomApakah di setiap pertemuan akan ada perpisahan? Apakah akan ada sebuah penyesalan dalam pertemuan itu? Yang pasti aku Ingin Bertemu lagi dengan mu. . . . . . Oh Ya ini Pemeran Utama nya aku ngambil dari member JKT48,dan ga semua member aku masukin. ...
