"Waktu". Ialah sebuah hal yang sangat berarti bagi setiap insan yang hidup di bumi. Ialah sang penjaga segala rahasia kehidupan alam semesta. Ialah saksi bisu atas seluruh alur takdir yang tak terbantahkan. Ialah sebuah entitas yang mengerikan, dan dengan kejamnya meninggalkan semua hal tanpa pandang bulu.
Itulah sebuah definisi "waktu" yang dapat Freya ungkapkan dalam benaknya. Tak terasa sudah 6 bulan lamanya terhitung sejak mereka memutuskan untuk pindah dan menetap di jantung ibu kota. Sebuah kota padat lengkap dengan hiruk pikuknya. Entah apa yang di pikirkan sang ayah, "saat itu" sehingga memilih untuk mengajak keluarganya untuk menetap di tempat yang penuh dengan jeritan ini.
Melihat ketimpangan sosial yang sangat mengerikan, disertakan dengan debu jalanan yang menyelimutinya... Sial, sungguh ini adalah sebuah tempat yang sangat tidak menyenangkan! Jika saja aku bisa memilih dimana aku akan menua nanti, sungguh aku tidak akan memilih tempat seperti ini. Gumam Freya dalam lamunan dengan pemandangan kota yang menyesak.
"Furee." Sahut Fiony berlari kearah Freya yang baru saja turun dari bus kota.
"Kenapa Fio?" Tanya Freya menunggu Fiony untuk lebih dekat dengannya.
"Kok kamu naik bis? Ga ada yang nganter?" Balas Fiony bertanya lalu Freya menjelaskan kalau tidak ada yang bisa menghantar dirinya ke sekolah. Sang ayah, Adya yang melakukan perjalanan bisnis bersama Arslan di luar kota. Sang ibu, Tefa yang pergi bersama dengan Syifa menuju rumah sakit karena adik Syifa yang baru saja kecelakaan. Kathrina yang demam tinggi karena terlalu senang saat hujan lebat beberapa hari yang lalu. Sungguh lengkap sudah alasan dari Freya.
"Loh kamu ga bareng kak Gita?" Tanya Fiony yang di jawab gelengan kepala oleh Freya, "kenapa?"
"Gapapa, aku pengen aja naik bus." Ujar Freya yang tidak meninggalkan kecurigaan apapun atas apa yang telah di katakan nya, mengingat memang Freya ini adalah manusia yang susah ditebak.
Ini adalah hari pertama di semester genap, dan hari ini bukanlah hari yang biasa bagi mereka. Iya, hari ini adalah hari dimana mereka akan di Lantik secara resmi menjadi eksekutif dan legislatif murid SMA 48 Jakarta. Tepat pada hari ini adalah hari dimana berakhirnya rezim kepemimpinan Shani berakhir. Ini adalah hari dimana akan ada sebuah hal baru dan harapan baru bagi sekolah mereka, dan ketika semua orang sudah berkumpul di lapangan untuk memulai upacara wajib...
"Langkah, Tegap, Majuuuuuu. JALAN!"
PRAK! PRAK! PRAK! PRAK! PRAK!
"Berhentiiiiiiiiiii. GERAK!"
Upacara terasa sangat berbeda. Atmosfer yang timbul menjadi sangat membanggakan. Entah apa yang telah di perbuat oleh mereka semua kala itu, karena bukan hanya mereka yang bersangkutan lah yang merasa bangga, melainkan murid biasa yang hanya hadir karena sebuah formalitas pun juga ikut merasa bangga akan peristiwa serah terima jabatan eksekutif dan legislatif murid SMA 48 Jakarta ini.
"Serah, Terima, Jabatan. Eksekutif dan Legislatif, Murid SMA 48 Jakarta oleh yang terhormat, para eksekutif dan legislatif SMA 48 Jakarta."
Dengan selesainya kalimat yang telah di bacakan oleh pembawa upacara, akhirnya tibalah untuk Shani, Gracia, Gita, Feni, Zara, dan Eve hadir dan masuk kedalam lapangan upacara.
Membawa kewibawaan serta rasa hormat yang begitu tinggi akan dedikasi mereka terhadap SMA 48 Jakarta. Shani, Gracia, Gita, Feni, Zara, dan Eve, dengan sebuah bendera OSIS dan PK SMA 48 Jakarta yang berkibar lantang di belakang mereka, akhirnya harus menyerahkan jabatan mereka yang selama ini mereka emban.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ingin Bertemu (Tamat)✅
RandomApakah di setiap pertemuan akan ada perpisahan? Apakah akan ada sebuah penyesalan dalam pertemuan itu? Yang pasti aku Ingin Bertemu lagi dengan mu. . . . . . Oh Ya ini Pemeran Utama nya aku ngambil dari member JKT48,dan ga semua member aku masukin. ...
