Duduk termenung dirangkul keheningan malam adalah sebuah hal yang memang begitu menenangkan. Indahnya para bintang yang menjaga gelap malam, serta cahaya remang lembut sang rembulan, sungguh tidak ada bandingannya. Jika mungkin orang lain berpikir kalau "Senja" jauh lebih indah dari "Malam", maka Freya adalah orang pertama yang akan menentang hal itu.
Freya, seorang gadis lemah. Gadis tak berdaya yang selalu berseteru dengan senyap nya malam kala dirinya sedang sendirian. Ditemani oleh hembusan halus angin yang ringan, Freya mulai memetik senar gitar dengan penuh khidmat membiarkan melodi yang tercipta menari-nari di luasnya cakrawala, membisik dan mengalun merdu kepada sang langit malam.
"Nak? Kamu ga masuk?" Tanya seseorang dari ambang pintu, kala Freya sedang menikmati alunan suara gitar di atas ayunan.
Terdengar suara lembut sang ibunda dari dalam rumah. Dirinya dengan halus penuh kasih sayang memanggil Freya dengan perasaan yang begitu tulus. Suaranya begitu halus. Bahkan, mungkin sutra paling lembut sekalipun, akan bersujud mengaku kalah kepada kelembutan suara ibunda dari Freya.
"Kakak mana mah?" Tanya Freya kecil memberhentikan aktivitas nya.
"Kakak kamu udah tidur. Kamu tidur juga gih. Udah malam loh."
"Oh iya, besok kakak pulang ya?" Tanya Freya kembali masih terduduk di atas ayunan dengan kedua tangan yang masih memeluk gitar.
"Iya, besok Gita pulang. Kamu tidur gih, udah jam sepuluh loh."
Tutur katanya yang begitu terdengar lemah lembut membuat apa yang ada di keheningan malam tersenyap. Semuanya ikut menikmati suara halus itu. Mereka tidak ingin membuang kesempatan mereka untuk tidak mendengarkan suara itu.
"Iya mah." Balas Freya berjalan menuju ibunda nya dengan kedua tangan Freya membawa gitar ayah nya.
"Kamu suka banget sama musik ya nak?"
"Ga tahu sih mah. Tapi aku suka aja pas liat mamah main piano, atau papah main gitar." Ucap Freya meletakkan gitar milik Adya kembali ke asalnya.
"Heum, kalau gitu kamu mau belajar piano sama mamah?"
"MAUUUUU. AKU MAU KAYA MAMAH. AKU MAU JADI PEMAIN PIANO YANG HEBAT." Ujar Freya semangat memeluk kaki sang ibu.
"Hahahaha yaudah besok kita belajar piano ya, oke? Tapi, sekarang kamu tidur dulu, besok abis kak Gita nya pulang ke Jakarta baru kita belajar piano."
"JANJI YA MAH?" Freya memberikan jari kelingkingnya, membuat sang ibu sedikit terkekeh.
"Iya."
Namun, ternyata itu semua hanyalah janji yang tak dapat di penuhi. Janji yang terus mengikuti, namun tak bisa di tepati. Sebuah janji yang terikat antara ibu dan anak, yang hanya menjadi sebuah kenangan. Kenangan menyakitkan bagi Freya.
"Freya? Nak? Freya jangan nangis nak. Yang sabar Freya."
Puk! Puk! Puk!
Puk! Puk! Puk!
"Freya? Nak? Freya bangun nak? Kamu kenapa nak? Freya kenapa kamu nangis, hei."
Terbangun dengan mendapati wajah Tefa yang nampak khawatir nan cemas, Freya sang pemilik tubuh pun spontan terduduk di atas kasurnya. Di usapnya air matanya, lalu dengan cepat beranjak dari kasurnya membuat Tefa yang masih berdiri di sana sontak menatap heran.
"Kamu kenapa?" Tanya Tefa kala Freya tidak menjawab pertanyaan sebelumnya.
"Gapapa mah, Freya cuman mimpi buruk aja." Dalih Freya lalu mulai merapihkan tempat tidurnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ingin Bertemu (Tamat)✅
AcakApakah di setiap pertemuan akan ada perpisahan? Apakah akan ada sebuah penyesalan dalam pertemuan itu? Yang pasti aku Ingin Bertemu lagi dengan mu. . . . . . Oh Ya ini Pemeran Utama nya aku ngambil dari member JKT48,dan ga semua member aku masukin. ...
