Kekacauan telah terjadi. Hari yang disangka-sangka akan menjadi hari yang membahagiakan bagi semua orang, kini menjadi hari yang begitu menakutkan bagi mereka. Langit-langit yang biasanya biru cerah menebarkan semangatnya, kini seolah bersedih dengan menunjukkan awan abu gelap kehitaman. Suara gemuruh kini mulai bergema. Rintik hujan mulai turun untuk menenangkan ibu kota yang bising. Basahnya air, membuat suasana menjadi semakin menakutkan bagi mereka yang berharap tinggi akan sebuah keajaiban. Mereka saat ini tengah duduk dengan tatapan yang kosong. Dan di saat inilah, mereka terus berharap, dan berdoa. Semoga keajaiban datang membantu sahabat tercinta mereka.
"Gimana dok keadaan sahabat saya!?" Tanya Fiony menggenggam erat bahu dokter yang baru saja memeriksa Freya.
"Pendarahan di otaknya cukup parah. Mungkin di akibatkan benturan keras yang terjadi akibat kecelakaan. Tapi, mungkin memang keajaiban sedang berpihak kepada teman kalian, karena dialah satu-satunya korban yang selamat dari kecelakaan itu." Jawab sang dokter sedangkan mereka masih mencoba untuk menyadarkan Christy dan Zee yang masih dalam batas ambang kesadaran.
Begitu mengetahui Freya menjadi korban kecelakaan, Christy pun langsung terkejut bukan main. Kedua kakinya tak lagi kuat menopang tubuhnya. Christy menangis sejadi-jadinya, dan begitu Christy melihat Freya yang tak sadarkan diri dengan segala alat asing yang membantu menopang kehidupannya, Christy langsung kehilangan kesadaran seketika.
Christy tak lagi kuasa untuk mempertahankan kesadarannya. Melihat sang sahabat dengan masker oksigen, dengan banyak sekali alat asing yang menopang kehidupan Freya, serta dress putih bersih Freya yang penuh dengan darah yang masih terus mengalir melewati jari-jarinya...
"Christy masih belum sadar?" Tanya Fiony.
"Belum fio. Ini Christy masih ga sadar." Jawab Ashel sembari menggosok kaki Christy, sedangkan Adel sedang tengah menggosok kaki Zee.
"Ini pihak keluarga pasien kemana!? Saya butuh persetujuan keluarga pasien untuk mengambil tindakan!"
"SAYA KELUARGA NYA!" Pekik seseorang dengan menggunakan pakaian casual.
"Dokter Anin?" Tanya dokter umum yang berada di ruang instalasi gawat darurat.
"Apa saja tindakan yang udah kamu lakukan. Jelaskan ke saya semua kondisi Freya sekarang." Ujar dokter Anin mengambil jas dokter miliknya, dan langsung memakainya sembari berjalan masuk ke dalam ruang tindakan.
"Tindakan yang saya lakukan..."
Gruak!
Pintu ruang tindakan tertutup, membuat mereka kini tak lagi dapat melihat kondisi Freya.
Hanya Fiony, Ashel, dan Adel lah yang sanggup untuk berdiri. Christy tidak sanggup untuk berdiri karena dirinya mengingat akan apa yang telah sang ayah lakukan kepada Freya dan apa yang telah Freya lakukan sebagai balasannya. Otak Christy kembali memutar memori saat mereka berada di danau. Tempat dimana dirinya melihat jelas tubuh sang sahabat jatuh ke dasar danau.
Sedangkan Zee, dirinya masih mempunyai banyak sekali dosa atas Freya. Zee belum menebus semua kesalahannya terhadap seseorang yang telah ia renggut penglihatannya. Zee masih merasa sangat bersalah atas apa yang telah dilakukan pada Freya selama ini. Zee tak sanggup, dan untuk pertama kalinya, sejak terakhir kali dirinya menangis saat kecil... Zee kembali menitihkan air matanya.
"Ini gimana? Kita harus gimana?" Tanya Ashel sedangkan Fiony juga sendiri pusing dan tidak tahu dengan apa yang harus di lakukan oleh mereka.
"Oke, walaupun aku ga tahu siapa itu dokter Anin, setidaknya kita bisa menarik nafas untuk memikirkan apa yang harus di lakukan. Karena sepertinya dokter Anin itu salah satu kenalan keluarga Freya. Aku juga ingat kalau Freya masuk rumah sakit, pasti dokter itu yang selalu menangani Freya." Ucap Fiony panjang lebar sembari berjalan kesana kemari dengan perasaan yang sangat cemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ingin Bertemu (Tamat)✅
AcakApakah di setiap pertemuan akan ada perpisahan? Apakah akan ada sebuah penyesalan dalam pertemuan itu? Yang pasti aku Ingin Bertemu lagi dengan mu. . . . . . Oh Ya ini Pemeran Utama nya aku ngambil dari member JKT48,dan ga semua member aku masukin. ...
