Tujuh hari sudah waktu terlewati. Itu adalah saat-saat yang lama bagi mereka yang terkena masalah, namun tidak bagi mereka yang bahagia akan sebuah kehidupannya. Waktu memang begitu jahat, atau malah itulah sebuah keadilan yang tidak di anggap, karena memang sejatinya manusia masih rancu dengan apa itu keadilan?
Kehidupan sekolah kembali berjalan normal seperti biasanya. Seluruh pelaku sekaligus korban 48 Berdarah kini telah kembali beraktivitas. Walaupun aktivitas mereka terbatas karena kondisi tubuh yang belum mencapai 100%, akan tetapi kewajiban tetaplah sebuah kewajiban. Namun sungguh. Sungguh memang sebuah keberuntungan bagi mereka yang berpengaruh terhadap sekolah. Karena walau mereka saat ini tengah menjabat sebagai struktural, mereka saat ini untuk sementara dibebastugaskan dari kewajiban mereka terhadap struktural Eksekutif dan Legislatif sekolah. Bahkan mereka tidak terkena hukuman sama sekali.
"Teman-teman, hari ini Bu Yuvia ga masuk. Jadi, kita hari ini tidak ada pembelajaran dari bu Yuvia. Bu Yuvia pesan 'boleh ngapain aja asal jangan sampai menganggu aktivitas belajar kelas lainnya'. Jadi, teman-teman. Silahkan bersenang-senang!" Tutur ketua kelas yang di sambut gembira oleh hampir semua murid. Iya, hampir. "Hampir"! Ingat, hanya "HAMPIR".
"Aish buyuv ga masuk. Mager aku, balek yok." Ajak Fiony menggoyangkan kakinya.
"Buyuv siapa fio?" Tanya Christy.
"Yuvia the punky lah. Siapa lagi?" Tanya Fiony.
Ya, mereka yang tidak menyambut bahagia ketidakhadiran Yuvia adalah, Freya, Christy, Fiony, Zee, Ashel, dan Adel. Walaupun yang memulai komunikasi adalah Christy dan Fiony, tapi mereka yang lain mempunyai alasan mereka masing-masing.
Freya tidak bahagia karena dirinya sudah terlalu lama meninggalkan pelajaran. Christy dan Fiony tidak bahagia karena memang hanya Yuvia lah guru favorit mereka. Sedangkan untuk Zee, Ashel, dan Adel, mereka tidak bahagia karena mereka memang tidak ingin datang ke sekolah sedari awal.
"Kantin aja yok." Ajak Fiony beranjak dari bangku.
"Makan di kelas aja sih." Tutur Christy yang malas dengan keramaian kantin.
"Fure?" Tanya Fiony...
"Zzzzzz..."
Freya tertidur. Semenjak banyak sekali kejadian naas yang menghujam, Fisik Freya semakin terkikis. Tubuhnya kian lama kian melemah. Tak ada yang sadar akan hal itu kecuali Zee. Diluar Zee memang mengetahui kondisi Freya, Zee juga memang sedari dulu selalu memperhatikan Freya, walau dalam tanda kutip... "Memantau dalam kebencian".
"Fure. Fure kamu mau makan engga?" Tanya Fiony kembali namun kali ini dengan sebuah tepukan lembut di pipi Freya yang terlelap bersandar pada meja.
"Ha? Oh, iya-iya." Lantur Freya terbangun dengan keadaan setengah sadar.
"Ayok." Ujar Christy menarik tangan Freya, mengejutkan dan memaksa kesadaran Freya kembali seutuhnya.
Mereka berjalan ke depan pintu. Tidak ada hambatan saat itu karena memang semua anak kelas berhamburan kecuali mereka berenam. Langkah mereka begitu halus. Perjalanan mereka begitu lancar sampai saat Freya tiba-tiba menghentikan langkah tanpa ada aba-aba.
"Kalian mau nitip apa?" Tanya Freya kearah tiga sekawan yang hampir punah... Hampir tewas itu.
"Aku engga nitip Fre. Aku bawa bekal kok." Jawab Ashel.
Jijik banget. Akwu bwawa bwekwal. Tai. Benak Fiony kesal.
"Heum, kalau boleh aku nitip makan. Samain aja Frey sama kamu. Pakai uang kamu dulu ya, nanti aku ganti pas di kelas. Uang aku di tas." Ujar Adel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ingin Bertemu (Tamat)✅
De TodoApakah di setiap pertemuan akan ada perpisahan? Apakah akan ada sebuah penyesalan dalam pertemuan itu? Yang pasti aku Ingin Bertemu lagi dengan mu. . . . . . Oh Ya ini Pemeran Utama nya aku ngambil dari member JKT48,dan ga semua member aku masukin. ...
