Delapan Puluh Sembilan

1.1K 129 196
                                        

"pulang."

Apa? Pulang?

"Pulang?" Tanya Gracia sedangkan Shani hanya menganggukkan kepalanya.

"Kenapa kak? Kita udah tahu Toya. Eum, Christy di bandung. Kenapa ga langsung di cari? Kalau nanti dia pindah lagi, gimana?" Tanya Fiony heran.

"Yang seperti kata kamu. Kita udah tahu Christy di bandung. Tapi kalau untuk cari ke bandung, kita ga hafal sama jalan-jalan di bandung. Dan kita ga menyiapkan hal-hal lainnya. Jadi, kalau kalian mau bantu cari Christy lagi, besok saja." Ucap Shani tersenyum menggenggam erat jaket milik sang adik.

"Aku hari ini mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kalian. Aku mau ucapin terima kasih karena udah bantuin aku cari Christy. Aku mau bilang makasih karena udah khawatir sama Christy. Tapi, untuk hari ini kita sudahi saja. Maaf kalau aku sama Christy merepotkan kalian. Maaf kalau selama ini kami berdua..."

"Kalian berdua aja? Nyusahin? Kamu mau berpikiran kaya gitu?" Sambung Gracia menyilangkan tangannya di depan Shani yang tengah membungkukkan badan.

"Kabarin kita kalau kamu berubah pikiran." Ucap Gita datar lalu pergi meninggalkan Shani yang masih menunduk.

"Apapun yang terbaik untuk Christy." Tambah Fiony yang juga berjalan menjauh dari Shani.

"Christy sahabat aku. Jadi, kalau kak Shani butuh bantuan, kabarin kita." Timpal Freya, lalu berjalan mengikuti langkah Gita.

"Rumah aku sama Gita belum pindah." Sambung Gracia lalu berjalan meninggalkan Shani. Di susul oleh Ashel dan Adel yang juga berjalan menjauh tanpa mengeluarkan sepatah katapun, karena memang mereka datang karena permintaan Freya.

Berjalan meninggalkan Shani sendirian di depan pintu gerbang stasiun dengan tangannya yang masih memeluk erat jaket sang adik, Freya yang kala itu memiliki firasat akan sesuatu, akhirnya memilih untuk langsung bertanya kepada Gita untuk memastikan.

"Menurut kak Gita, kak Shani kemana?" Tanya Freya, membuat Gita akhirnya juga menoleh Shani yang masih diam di tempatnya.

"Kalau dia masih Shani yang kakak kenal, harusnya dia ke langsung ke bandung. Shani bukan tipe orang yang memperlihatkan masalahnya di depan orang lain. Dia bakal mendam semuanya sendiri, sampai batas terkuat dia." Jelas Gita lalu masuk ke dalam mobil bersama Freya yang masih setia menemaninya.

"Shani pasti merasa ga enak sama kita, karena ini urusan keluarganya. Walaupun memang dia selalu nurut sama ayahnya, selalu tampil sempurna sesuai kemauan iblis itu, tapi jujur. Mungkin jika di bandingkan Christy, Shani jauh lebih menderita. Ga mudah loh terlihat sempurna dan selalu kuat itu. Tapi ya ga tahu juga sih gimana keadaan keluarga mereka kalau kakak ga main ke rumah. Tapi setiap kakak denger curhatan Shani, dia pasti selalu bilang kalau dia kasihan sama Christy. Dia selalu mikirin Christy, dan ga pernah mikirin dirinya sendiri." Jelas Gita panjang lebar.

Freya yang mendengar fakta itu pun hanya bisa bersandar letih pada bangku mobil Gita. Freya tahu kalau ini adalah urusan keluarga Natio, dan Freya sebenarnya tidak berhak untuk ikut campur. Namun, sungguh sangat di sayangkan kalau Christy adalah sahabat Freya. Dan bagi Freya, sakit orang terdekatnya, adalah sakitnya juga. Freya selalu memikirkan orang lain di bandingkan memikirkan dirinya sendiri. Freya selalu mementingkan orang lain, sehingga terkadang dirinya lupa akan kesehatannya sendiri. Dan jika begitu, maka, "ini akan menjadi urusan ku juga!"

"Kak, aku mau minta tolong ke kak Gita. Tapi untuk kali ini aku ga maksa kakak untuk nurutin permintaan tolong aku." Freya menatap ke arah Gita.

"Apa?" Tanya Gita.

"Kakak mau ga kalau kita ke bandung juga? Kalau kakak ga mau, nanti biar aku naik bus, atau ojek, atau–"

"Gausah bercanda. Kita ke bandung sekarang!" Ucap Gita lalu hendak mengambil jalur menuju ke arah bandung namun langsung di hentikan oleh Freya, yang spontan membuat Gita bertanya-tanya.

Ingin Bertemu (Tamat)✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang