15

2.3K 148 14
                                        

Raden yang tengah sibuk mengurus bengkel dan segala macamnya itu sudah satu minggu lebih tak bertemu dengan Dhisa. Bahkan sejak pertemuan terakhirnya dengan Dhisa dan orang tuanya itu terhitung hanya dua kali mereka berkomunikasi melalui handphone-nya. Banyak yang ia pikirkan akhir-akhir ini. Entah keluarga, usaha bengkelnya, juga hatinya yang seketika menjadi rumit.

Raden juga berpikir kembali apa keputusannya yang ingin mendekati Dhisa dengan meminta izin pada papanya itu adalah hal yang tepat atau tidak. Ada sedikit keraguan yang tiba-tiba membuat dirinya resah beberapa hari ini. Entah apakah ini semua hanya bentuk penasaran pada perempuan yang akhir-akhir ini mengisi pikirannya atau bukan. Tapi mengingat umurnya yang akan menginjak 29 tahun ini pun sudah sepantasnya untuk tak bermain-main lagi dengan perasaan yang menyangkut perempuan.

"Ma, Raden mau bicara, boleh?" tanya Raden pada Mama Arum. Ya, akhirnya ia memutuskan untuk menceritakan keresahannya ini pada mama tirinya. Ia menghampiri mamanya yang sedang duduk santai di ruang TV.

"Boleh, sini duduk. Ada apa, Den?" ucap Mama Arum dengan pembawaannya yang lemah lembut.

"Raden mau bicara tentang sesuatu yang lagi ganggu pikiran akhir-akhir ini, Ma," jawab Raden. Lalu Mama Arum menganggukkan kepala tanda mengerti.

"Menurut Mama, Raden udah pantas menikah belum?" tanya Raden ragu-ragu.

"Kalo menurut Mama, itu tergantung diri kamu, Den. Menikah itu komitmen seumur hidup. Banyak yang harus kamu pertimbangkan dan persiapkan dari sebelum menikah. Terus kamu juga harus betul-betul yakin dengan perempuan yang kamu pilih," jelas Mama Arum.

"Memang kamu udah ada rencana mau menikah, Den?" lanjut Mama Arum yang bertanya.

"Ehm—masih bingung, Ma. Sebenarnya, kalo buat menikah Raden lagi coba mengumpulkan niat buat itu," jawab Raden.

"Den, selain harus siap mental, ada hal lain yang harus kamu siapkan juga. Misal, soal spiritual dan keuangan. Spiritual ini bukan cuma tentang kamu rajin ibadah, tapi kamu juga harus paham tentang agama dan menerapkan apa yang kamu paham itu. Mungkin ini yang jadi tantangan anak muda sekarang, tapi kalo kamu beriman, otomatis itu membuat kamu jadi bertanggung jawab untuk hidupmu juga ke istri dan anak kamu nanti," jelas Mama Arum lagi.

"Iya, ya, Ma? Banyak banget yang harus dipikirin. Makanya, Raden juga masih perlu perbaiki diri sendiri dulu, apalagi punya gelar kepala keluarga, tuh, kelihatannya kayak berat gitu. Pokoknya, Mama harus tetap doain Raden biar cepat dapatin rasa yakin itu, ya," ucap Raden yang menghembuskan nafasnya yang terasa berat.

"Pasti. Jadi, sama yang mana, Den? Dhisa? Kalo itu pasti mama dukung," cecar Mama Arum sembari senyum-senyum. Sedangkan Raden, hanya diam sembari menundukkan kepala.

"Hmm, Raden juga masih perlu waktu buat saling kenal sama Dhisa, Ma. Bahkan kita belum ada obrolan tentang kelanjutan hubungan. Tapi Raden udah ngobrol sama papanya dan papanya juga menyambut baik niat Raden buat jalani pendekatan sama Dhisa," ujar Raden.

"Oh, bagus, dong, kalo gitu. Kamu jalani dulu pelan-pelan, yakinkan dan tunjukkan kalo kamu serius sama Dhisa dan yang penting komunikasinya harus dijaga. Terus juga perbanyak diskusi aja sama dia tentang apa pun. Pokoknya saling terbuka kalo memang merasa waktunya sudah tepat," jelas Mama Arum.

"Iya, Ma. Makasih udah dengerin uneg-unegku. Sekarang jadi lumayan lega."

"Sama-sama, Mas Raden."

"Oh iya, Minggu depan Raden diajak papanya Dhisa ikut ke Surabaya. Masnya Dhisa mau nikah, Ma," ucap Raden.

"Tuh, kamu itu beruntung, Den, papanya welcome ke kamu. Jaga baik-baik rasa percaya orang tuanya. Mama dan Ayah juga percaya sama kamu. Tetap jaga batasan juga, ya, Den. Kamu hargai perempuan yang kamu sayang dan terima juga baik dan buruknya, kayak selama ini kamu menerima Mama dan Gendhis di hidupmu, ya," ujar Mama Arum sembari mengelus-elus pundak Raden. Sedangkan Raden kembali menundukkan kepalanya karena mulai terbawa suasana dan sedikit terharu. Mama Arum yang melihat itu segera memeluk Raden, ia paham anak bujangnya ini memang gengsi menunjukkan rasa sayang. Raden pun membalas pelukan mamanya itu.

BINARTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang