Banyak pasang mata tertuju pada Dhisa dan Raden saat ini. Dekorasi sederhana dan tamu undangan yang merupakan tetangga serta kerabat dekat telah duduk rapi di atas gelaran karpet yang memenuhi ruang kosong di rumah keluarga Papa Adi.
Syukuran 4 bulanan baru saja berlangsung dengan lancar dan khidmat. Rangkaian acara yang diisi oleh seorang ustadz untuk memimpin doa bersama, membaca beberapa surat Al-Qur'an, dan mengisi dengan ceramah singkat tentang pentingnya menjaga kandungan serta nilai-nilai dalam keluarga.
Detik-detik menjelang Maghrib, orang-orang mulai meninggalkan kediaman keluarga Papa Adi, kecuali kerabat dekat yang masih tinggal di sana untuk menikmati waktu berkumpul bersama keluarga. Sebagian dari mereka masih betah berkumpul sampai waktu sudah menunjukkan pukul 20.45. Lagi pula, esok sudah memasuki hari Sabtu yang sebagian dari mereka tak ada jadwal kegiatan di akhir pekan.
"Dek, itu Mas Raden diajak istirahat dulu. Kok, kelihatannya kayak udah kusut gitu," bisik Papa Adi pada Dhisa yang tengah berkumpul dengan beberapa saudaranya di ruang tengah.
"Di depan masih banyak orang, Pa?" tanya Dhisa.
"Tinggal om sama pakde aja lagi ngobrol-ngobrol sambil ngopi. Mas Raden dari pulang kerja belum sempat istirahat, kan?" kata Papa Adi.
"Iya, Pa, bentar."
Dhisa pun bergegas menuju teras rumahnya. Sesampainya di sana, ia memberi kode pada Raden untuk mendekat.
"Aku ngantuk, temenin," ujar Dhisa saat Raden sudah berada di sisinya.
Raden mengambil langkah di belakang Dhisa yang sudah berlalu lebih dulu. "Bukannya tiga hari ini ngga mau dekat-dekat aku tidurnya?"
"Ya, lagi pengen aja," sahut Dhisa.
Keduanya berhenti sejenak saat melewati ruang tengah yang masih terdapat beberapa orang untuk berpamitan istirahat lebih dulu.
Sampai di kamar, Dhisa langsung memasuki kamar mandi untuk bebersih sejenak. Tak lama, setelah mengganti pakaiannya, Raden ikut menyusul ke dalam kamar mandi yang pintunya tak tertutup rapat. Ia berdiri di depan wastafel untuk mencuci muka dan sikat gigi bersama sang istri yang baru selesai membilas wajahnya.
"Kamu kecapekan, ya?" tanya Dhisa yang tangannya sibuk mengelap wajahnya dengan handuk kecil.
Raden hanya mengangguk kecil karena ia tengah menyikat giginya. Selesai mencuci mulutnya, ia menoleh pada Dhisa. "Kamu ada obat pereda sakit kepala, ngga?"
"Ada, nanti aku siapin." Punggung tangannya menyentuh dahi dan leher Raden untuk memastikan suhu tubuhnya.
"Yang kayak biasanya, kan?" tanya Raden.
"Iya, ada di tasku," jawab Dhisa.
Raden membasuh wajahnya dengan air, lalu membiarkan wajahnya dilumuri oleh busa sabun dari tangan Dhisa. "Kamu beneran udah gapapa tidurnya dekat-dekat aku?" Ia tak banyak bergerak selagi wajahnya tengah dibersihkan.
Dhisa terkekeh pelan. "Kamu kenapa-kenapa, ya?"
Raden mengangguk. "Bayangin, tiga malam aku tidur sendirian, Sa."
"Iya, maaf. Udah ngga lagi, kok," sahut Dhisa.
"Semalam aku ketiduran di sofa ruang TV, terus waktu kebangun tengah malam rasanya kayak kosong. Aneh. Akhirnya, pindah ke kamar tamu. Aku berasa balik bujang lagi," keluh Raden.
"Bilas dulu mukanya," perintah Dhisa.
Raden bergegas membilas wajahnya hingga bersih. "Padahal biasanya kamu suka ganggu tidurku malam-malam. Kadang juga anaknya rewel minta disayang-sayang."
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
