Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Pagi ini, sekitar pukul 08.00, rumah orang tua Dhisa mulai ramai didatangi oleh keluarga besarnya. Berhubung acaranya akan dimulai pukul 10.00, maka keluarga dari pihak Raden belum terlihat di sana.
Ruangan bagian depan di rumah Dhisa sudah penuh digelari oleh karpet. Segala macam hidangan sudah tertata rapi di meja panjang. Dua keponakan Dhisa juga terlihat sedang berlari-larian di atas karpet. Uti pun sudah datang dan tengah duduk di single sofa yang sengaja disediakan untuknya karena kondisi Uti yang sudah renta sehingga kesulitan jika harus duduk lesehan.
"Alah, alah, cantiknya calon manten," sapa salah satu budenya Dhisa.
Dhisa hanya tersenyum ramah dan menyalami sekaligus cipika-cipiki dengan Bude.
"Dandan sendiri, Cah Ayu?" tanyanya lagi basa-basi.
"Iya, Bude. Dibantu sama Noura," jawab Dhisa.
"Duh, pintarnya, Cah Ayu," ucap Bude.
"Sa, sini sebentar," panggil Mama Dita dari depan pintu kamarnya.
Dhisa lantas bergegas menghampiri mamanya yang sudah masuk ke dalam kamar.
"Nduk, Mas Raden udah dihubungi? Keluarganya sudah berangkat belum?" tanya Mama Dita.
"Belum, Ma. Dhisa belum pegang HP lagi, tadi lagi dicas waktu siap-siap," jawab Dhisa.
"Lho, gimana, to? Coba Mama hubungi mamanya Mas Raden dulu," jawab Mama Dita yang mulai mengotak-atik handphone-nya.
"Tenang, Ma. Ngga usah panik gitu," ujar Dhisa.
"Tenang gimana? Mama tuh lagi banyak yang harus dipikir, Sa," jawab Mama Dita.
Dhisa terdiam dan turut bingung.
"Oh, coba sekarang kamu hubungi Mas Raden. Ini Mama udah coba hubungi mamanya tapi ngga ada respons," pinta Mama Dita.
"Ya udah, emang lagi ribet aja kali, Ma," jawab Dhisa santai.
"Cepat sana hubungi dulu," perintah Mama Dita.
Dhisa mau tak mau mengibrit untuk menuruti perintah mamanya.
"Ra, tolong handphone gue, dong," ucap Dhisa pada Noura yang sedang bersiap-siap di kamar Dhisa.
"Nih." Noura mengulurkan handphone milik Dhisa.
"Makasih," jawab Dhisa yang sudah membawa handphone-nya.
"Kenapa lo? Kok kayak orang dikejar utang?" celetuk Noura yang lanjut memoles tipis wajah cantiknya.
"Ngga. Disuruh Mama hubungi Raden," jawab Dhisa yang sibuk menekan-nekan layar ponselnya.
Dhisa segera melakukan panggilan telepon. Berdering. Namun, tak ada jawaban di sana. Ia mencobanya lagi sebanyak dua kali, tetapi masih sama. Dhisa akhirnya meninggalkan pesan saja untuk Raden.
"Baru semalam baikan, udah bikin repot lagi ini orang," keluh Dhisa masih menatap layar ponselnya.
"Astaghfirullah, yang sabar, Sa," sahut Noura.
"Coba deh, Ra, lo tanya ke Oman. Kan, dia mau bareng Raden katanya," ujar Dhisa.
Noura meraih handphone-nya dan mencoba melakukan panggilan video dengan kekasihnya itu. Ia menyandarkan handphone-nya pada meja rias, sedangkan pandangan Noura masih pada cermin di depannya untuk merapikan jilbabnya dan sedikit merapikan polesan wajahnya.
"Kenapa, Sayang?" sapa Oman di sana.
"Kamu di mana?" tanya Noura.
"Ini baru sampai rumah Raden," jawabnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BINAR
FanfictionDhisa adalah seorang wanita single yang menyukai traveling. Ya, bisa dibilang travelingnya masih yang dekat-dekat aja, sih, di sekitar Pulau Jawa. Dhisa memiliki saudara sepupu yang akrab sejak kecil sampai saat ini, yaitu Noura. Noura ini memiliki...
